Sengketa Tanah Dua Saudara di Desa Kunjeng Gubug Grobogan, 34 Tahun Baru Terkuak Sekarang

NEWS

Grobogan, Inspirasiline.com. Dua orang warga Desa Kunjeng Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan terlibat  kasus sengketa tanah sawah yang berada di desa Kunjeng, padahal dua orang tersebut masih ada hubungan saudara.

Sukarjo (68) yang saat ini berdomisili di desa Tlogomulyo Kecamatan Gubug pada tahun 1988 menyewakan sawahnya kepada H Masamah (60) dengan batas waktu 6 kali garapan atau setahun hanya di garap 2 kali, kata  Sukarjo kepada Inspirasiline.com di rumah Khakim, anak sulungnya di desa Kunjeng Rabu (13/7/22).

Kata Sukarjo, ceritanya panjang. Sukarjo saat itu sekitar tahun 1983-1985 menyewakan tanah pemberian ayah tirinya dari proses tukar guling seluas 3500 meter persegi kepada Musamah, adik tirinya, dengan batasan hanya digarap selama 6 kali garapan, dimana uang sewa nya belum pernah diberikan kepada Sukarjo. Sayangnya proses tukar guling tanah tersebut tidak ada dokumennya, jadi hanya lesan saja, termasuk menyewakan tanah untuk digarap adik tirinya itu juga hanya lesan saja.Hingga selepas cerai dengan istrinya itu, Sukarjo pergi merantau ke Papua beberapa tahun lamanya, tanpa menanyakan uang sewa tanah dari Masamah. Ketika suatu saat pulang ke Kunjeng, Sukarjo menanyakan kepada Musamah terkait uang sewa tanah yang selama ini digarap Musamah, adik tirinya nya itu.  Tetapi jawaban yang diterima Sukarjo lain bahwa  kata Musamah, tanahnya itu sudah dijual ke Musamah dengan tidak sepengetahuan Sukarjo. Saat itu pula Sukarjo sontak kaget karena selama ini dia tak merasa menjual tanah, hanya menyewakan tanahnya kepada Musamah. Sementara Musamah kekeh jika tanah yang digarap dari Sukarjo itu sudah dibeli. Tanah yang disengketakan itu memang belum bersertifikat hingga saat ini.

Sukarjo dengan latar belakang sawah yang disengketakan

Anehnya, surat perjanjian jual beli diatas kertas bermeterai  sudah ada dan saat ini dibawa Masamah, padahal Sukarjo saat perjanjian jual beli tersebut sedang berada  diluar Jawa beberapa tahun lamanya. “Dalam surat perjanjian jual beli tanah ini, saya tidak tahu dan tidak pernah membubuhkan tandatangan akte jual beli , tanda tangan saya jelas palsu itu’ kata Sukarjo. Surat jual beli itu ditandatangani Sukarjo ( penjual) dan H. Rozi suami Masamah (pembeli) disaksikan oleh Taklim, Rusminto, Puryadi, dan Iksan dengan surat jual beli tertanggal 25 mei 1988.

baca juga:  Wabup Sragen H. Suroto Berpendapat LVRI Bisa Menjadi Contoh Di Lingkungannya

Kepala Desa Kunjeng Kecamatan Gubug M Rifai saat ditemui media membenarkan peristiwa itu. Kades itu mengatakan pihak desa sudah memediasi persoalan itu, kedua pihak dipanggil, tetapi Musamah tak pernah hadir. Kemudian juga sudah pernah di mediasi di polsek Gubug, juga gagal tak ada titik temu karena lagi lagi Musamah tak hadir.

Bahkan Camat Gubug Bambang Supriyadi, SSos pernah memanggil Sukarjo dan Musamah dengan disaksikan LSM Bela Negara, mengalami jalan buntu karena Musamah tidak hadir. Akhirnya Camat Gubug menyerahkan kepada pihak pihak yang  bersengketa menyarankan untuk dibawa ke ranah hukum, tetapi Camat Gubug tetap berharap agar bisa diselesaiksn secara kekeluargaan saja.

Kepada Inspirasiline.com, Masamah mengatakan dirinya mempunyai bukti jual beli tanah tersebut dan dialah yang selama ini membayar pajak tanahnya “Saya lebih baik langsung berurusan dengan Pengadilan saja, saya berani kok” katanya. Masamah mengatakan bahwa tanah tersebut diserahkan kepada Firoh, anak sulungnya untuk mengelolanya.

Peristiwa yang sudah hampir 34 tahun lalu itu muncul berawal dari Khakim, anak sulung Sukarjo setelah mendapat informasi tentang tanah milik ayahnya,  dan pada saat kenduri meninggalnya Surati, adik Sukarjo, Khakim bertanya kepada Musamah apakah betul tanah milik ayahnya itu selama ini digarapnya apakah ada surat perjanjiannya. Khakim justru kaget mendapatkan  jawaban dari Musamah kalau tanah yang digarap nya itu sudah dibeli dirinya. Musamah lalu menunjukkan bukti akte jual beli, dimana disitu ada tandatangan ayahnya .  Kemudian surat akte itu dibawa ke ayahnya untuk diminta mencocokkan tandatangannya. Ternyata tanda tangan Sukarjo dalam akte jual beli tersebut bukan tandatangan dirinya. Khakim berusaha membandingkan tandatangan ayahnya itu dengan surat nikahnya, ternyata tidak sama. Bahkan ayahnya diminta menirukan tandatangan yang ada dalam akte jual beli itu, itupun ayahnya juga tidak bisa menirukan sama.  “Wah ternyata tandatangan bapak saya dipalsu dalam akte jual beli itu” ungkap Khakim. Untuk selanjutnya Khakim membawa masalah inu ke Pemdes Kunjeng dan berlanjut hingga sekarang sebagai masalah perselisihan tanah. Hingga tulisan ini tayang, keduanya belum ada kata sepakat untuk solusi kekeluargaan. (jkwi)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *