Sukoharjo-Inspirasiline.com. Seiring dengan kondisi perekonomian diwilayah kabupaten Sukoharjo yang semakin membaik pasca pandemic Covid-19, hal ini menjadi angin segar bagi pelaku UMKM. Sehingga geliat perekonomian masyarakat untuk bangkit lagi semakin menunjukkan gregetnya, salah satunya juga dilounchingnya Waroeng Makan Mbah Nardjo Dhahar & Srawung oleh Sekretaris Daerah kabupaten Sukoharjo Widodo pada kamis (6/9/2023) di Gayam Sukoharjo, yang dihadiri oleh OPD, tokoh masyarakat, anggota DPRD dan sejumlah tamu undangan. Peresmian ditandai dengan pengguntingan untaian melati oleh pak Sekda didampingi keluwarga besar mbah Narjo.

Yaya Karyadi pendiri dan pencetus ide Waroeng Makan Mbah Nardjo Dhahar & Seawung ini usai acara lounching kepada wartawan mengatakan bahwa untuk menghormati dan mengenang sosok alm Mbah Nardjo yang merupakan ayahandanya itu didirikanlah Waroeng Makan Mbah Nardjo Dhahar & Srawung. Yaya sapaan akrab Karyadi merupakan anak ke-10 dari 10 bersaudara pasangan dari Alm mbah Sunardjo dan Almh mbah Sulasmi, dengan dirikan waroeng makan tersebut bertujuan untuk membantu perekonomian mayarakat sekitarnya.

Waroeng makan ini merupakan warung makan tradisional namun juga ada modernnya seperti omlet. Masakannya kombinasi ada khas jawa Solo ada pula Bali, Betawi Jakarta. Untuk masakan khas jawa aneka sayuran/jangan termasuk jangan gori tetelan (sayur nangka dikasih tetelan daging sapi), jangan bung (sayur bambu muda), masakan Bali ada nasi lempong, masakan Betawi Jakarta ada sambel setan, nasi rawon dll aneka masakan tersedia disini. Selain itu juga disediakan jamu gendong, yang nota bene Sukoharjo merupakan kota jamu. Untuk minuman ada berbagai jenis wedang (teh, jeruk, kopi) untuk kopi lain dari yang lain bukan hanya kopi tubruk namun kopi yang langsung digiling mesin
Untuk bisa menikmati aneka masakan di waroeng makan mbah Nardjo bisa dikunjungi setiap hari mulai jam 06.00 – 22.00 wib sembari menikmati makan aneka menu juga disediakan life music, baik music jawa tradisional seperti gender, rebab, sinden dll juga bisa ngeben dengan alat music gitar, piano dll.

Lebih lanjut Yaya Karyadi menyampaikan dari konsep dhahar & srawung ini mempunyai mempunyai makna bahwa di waroeng ini tempatnya orang untuk berinteraksi tidak hanya sekedar dahar saja, disini ada peringatan kalau bawa HP tolong HPnya diselen maksud kami ngobrollah disini, srawunglah disini, silaturahimlah disini saling bertukar pengalaman, kalau ngobrol sambil pegang HP kan ngobrolnya dengan orang jauh, bukan dengan orang yang ada disini, itu maknanya srawung saling ngobrol dengan orang didekatmu. waroeng makan ini menempati areal 300 m2 dengan kapasitas lebih kurang 100 orang, lahan parkir cukup memadahi, ornamennya bernuansa jawa jadul.
Suami dari Retno Yuliastuti ini juga menambahkan bahwa sosok alm ayahanda merupakan tokoh masyarakat dilingkungannya, juga tokoh seni dan budayawan. Alm bapak bisa ndalang, bisa melukis, bisa memahat patung, reklame. Alm juga suka menbelajari kursus pasrah temanten, pambiworo oleh karenanya Mbah Nardjo akan kami abadikan menjadi nama waroeng makan ini sebagai bentuk penghormatan keluwarga besar kami.

Konsep kami mendirikan waroeng makan ini adalah pemberdayaan masyarakat disekitar sini, dari pada berjualan dipinggir jalan belum tentu laku, silahkan masak dibawa kesini langsung kami bayar sehingga setiap hari memperoleh pendapatan dan tidak nganggur dan kami gilir setiap hari dengan menu yang berbeda-beda sehingga mereka bisa berganti-ganti jenis masakan. Di waroeng makan ini bisa prasmanan,paketan, atau datang langsung ambil milih bebas, menu pagi sendiri seperti krowotan sambil wedangan. Harga murah tapi bukan murahan mulai dari Rp. 2000 – Rp. 23 000/porsi, untuk minuman paling murah Rp. 3000 dan paling mahal Rp. 18 000.
Lounching Waroeng Makan Mbah Nardjo bertepatan dengan Ulang tahun Yaya Karyadi dengan Retno Yuliastuti ditandai dengan potong tumpeng dan tiup lilin disambut tamu yang hadir menyanyikan lagu selamat ulang tahun. (Prie)
