Sragen-Inspirasiline.com. Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD Kabupaten Sragen terus memperkuat komitmen untuk mendukung pelaksanaan tugas Bunda PAUD dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kabupaten Sragen.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pokja Bunda PAUD Kabupaten Sragen, Ny. Linda Sigit Pamungkas, saat memimpin Rapat Koordinasi Pokja Bunda PAUD Kabupaten Sragen di Ruang Citrayasa, Rumah Dinas Bupati Sragen, Rabu (19/8/2026).
Linda mengatakan, keberadaan Pokja Bunda PAUD memiliki peran penting dalam membantu memastikan anak-anak usia dini mendapatkan hak-haknya secara optimal. Karena itu, seluruh anggota Pokja yang berasal dari berbagai unsur dan perangkat daerah diharapkan memahami peran serta tanggung jawab masing-masing.

“Pokja Bunda PAUD ini penting karena diharapkan kita bisa ikut membantu memastikan bahwa anak-anak PAUD kita menerima apa yang menjadi haknya,” ujar Linda.
Menurutnya, terdapat lima isu utama yang menjadi perhatian Pokja Bunda PAUD, yakni pendidikan, kesehatan dan gizi, perlindungan, pengasuhan, serta tata kelola.

Pada bidang pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjadi leading sector dalam memastikan anak-anak memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. Sementara pada bidang kesehatan dan gizi, Linda mendorong adanya sinergi antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, khususnya dalam pemantauan tumbuh kembang anak.

Ia menyebut, pengukuran tumbuh kembang anak perlu dilakukan secara berkala oleh tenaga kesehatan. Minimal, pengukuran dilakukan dua kali dalam setahun sehingga kondisi kesehatan dan pertumbuhan anak dapat terpantau dengan baik.

“InsyaAllah nanti bisa dilakukan pengukuran secara serempak. Minimal dua kali dalam setahun kita penuhi dulu,” katanya.
Selanjutnya, aspek perlindungan menjadi perhatian penting, termasuk memastikan ketersediaan sarana dan prasarana PAUD yang aman dan layak. Menurut Linda, pemenuhan sarana prasarana harus dilakukan berdasarkan skala prioritas, terutama bagi satuan PAUD yang memiliki kondisi paling mendesak dan berpotensi membahayakan keselamatan anak.
“Keadilan itu bukan soal membagi kue sama rata, tetapi siapa yang lebih berhak dan siapa yang lebih mendesak. Kalau ada satu TK yang kondisinya sudah membahayakan, maka itu harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Pada aspek pengasuhan, Pokja Bunda PAUD juga mendorong keterlibatan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak. Pendidikan dan pengasuhan, kata Linda, tidak berhenti ketika anak berada di satuan PAUD, tetapi harus terus dilanjutkan di lingkungan keluarga.
Karena itu, edukasi parenting dan pendidikan karakter perlu terus disampaikan kepada orang tua melalui berbagai media, baik secara langsung maupun melalui kanal informasi yang tersedia.
Sementara pada aspek tata kelola, Linda menekankan pentingnya memastikan keberadaan regulasi dan dokumen pendukung, di antaranya SK Pokja Bunda PAUD, Gugus Tugas PAUD Holistik Integratif (PAUD HI), serta Rencana Aksi Daerah.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah desa terhadap pendidikan PAUD. Mengingat banyak satuan PAUD yang berada di bawah pengelolaan desa, pemerintah desa diharapkan memberikan perhatian terhadap kebutuhan PAUD dalam penyusunan dan peninjauan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
Linda menegaskan bahwa perhatian terhadap PAUD harus dilandasi kesadaran bahwa anak usia 5–6 tahun berada pada masa emas pertumbuhan dan perkembangan.
“Bagaimana kalau anak-anak ini kita kelola dengan baik, maka ke depan akan baik. Kita berangkat dari pemahaman dan kesadaran bahwa pendidikan anak usia dini ini penting untuk anak-anak kita,” tuturnya.
Ia berharap seluruh anggota Pokja Bunda PAUD dapat menjadi bagian dari satu kesatuan yang saling mendukung dan berbagi informasi, sehingga setiap program dapat dilaksanakan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.
Sementara itu, Kepala Pokja Bunda PAUD Sragen sekaligus Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Purwantini, menyampaikan bahwa rapat koordinasi tersebut juga menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap program kerja yang telah dilaksanakan sepanjang 2026.
“Melalui kegiatan ini kita melakukan evaluasi terhadap program yang telah berjalan, sekaligus mengkaji kembali rencana program kerja ke depan agar pelaksanaannya tetap sesuai dengan regulasi yang berlaku,” jelas Purwantini.
Ia menambahkan, program kerja Pokja Bunda PAUD telah disusun untuk beberapa tahun ke depan hingga 2030. Oleh karena itu, koordinasi dan diskusi lintas sektor diperlukan agar setiap program dapat berjalan secara terarah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Purwantini berharap seluruh anggota Pokja dapat saling memberikan masukan, memperkuat kerja sama, serta menjalankan tugas sesuai dengan peran masing-masing.
“Dengan sinergi dan kolaborasi seluruh anggota Pokja, kami berharap program pendidikan anak usia dini di Kabupaten Sragen dapat terus berkembang dan memberikan layanan terbaik bagi anak-anak,” pungkasnya. (Sugimin/17- Release Diskominfo Sragen)
