Catatan: Tutik Handayani
Make a match adalah salah satu model pembelajaran yang mengorganisasikan kelas secara berpasangan, kemudian berbagi menjadi empat siswa untuk berdiskusi (sharing).
DALAM pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, sering dijumpai bahwa peserta didik masih banyak yang kurang minat belajarnya.
Bahasa Indonesia sebagai salah satu pelajaran di sekolah sangat memegang peranan penting, karena Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca, menulis, dan berbicara.
Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang dipergunakan oleh masyarakat Indonesia untuk keperluan sehari-hari, misalnya belajar, bekerja sama, dan berinteraksi.
Pada umumnya proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia masih menggunakan metode ceramah yang berpusat pada guru. Sebagian besar guru belum menggunakan model dan metode pembelajaran yang tepat pada saat pembelajaran berlangsung.
Permasalahan tersebut terjadi pada peserta didik Kelas II SD Negeri 2 Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Hal ini ditunjukkan bahwa guru dalam menjelaskan materi ungkapan masih menggunakan metode ceramah tanpa menggunakan model pembelajaran yang menarik, sedangkan siswa memperhatikan penjelasan guru dan buku yang dimilikinya, sehingga minat belajar peserta didik rendah.
Dalam sebuah kelas kooperatif diharapkan semua peserta didik saling membantu, saling berdiskusi, dan berpendapat untuk mengasah pengetahuan yang mereka miliki.
Cara belajar kooperatif sering menggantikan pengaturan tempat duduk yang individual, cara belajar individual dan dorongan yang individual. Jika hal ini diatur dengan baik, peserta didik dalam kelompok kooperatif akan belajar satu sama lain untuk memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok telah menguasai konsep yang dipikirkan.
Penerapan pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.
Tujuan penting dari pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada peserta didik keterampilan kerja sama dan kolaborasi.
Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, satu atau lebih individu saling bergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama, dan akan berbagi penghargaan seandainya mereka berhasil sebagai kelompok hebat (Daryanto, 2013).
Guru mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Make a match adalah salah satu model pembelajaran yang mengorganisasikan kelas secara berpasangan, kemudian berbagi menjadi empat siswa untuk berdiskusi (sharing).
Kartu Persoalan
Di dalam pelaksanaan model pembelajaran make a match, guru menyiapkan kartu berisi persoalan, permasalahan, dan berisi jawabannya. Peserta didik mencari pasangan yang cocok, sehingga mereka terlibat langsung dalam proses belajar-mengajar.
Frank Lyman dalam Rusman (2011) menyatakan bahwa make a match adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan untuk berpikir secara mandiri, mencari pasangan yang sesuai, kemudian diskusi dengan pasangan lainnya di dalam menemukan konsep yang sama.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe make a match dimulai dengan mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal.
Menurut Rusman (2011), ada beberapa langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe make a match, yaitu (a) guru menyiapkan beberapa kartu yang berisikan beberapa konsep/topik yang cocok sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban; (b) guru membagikan kartu, setiap peserta didik mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban; dan (c) guru meminta setiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
Selanjutnya, (d) guru menyuruh peserta didik mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya; (e) guru memberikan poin kepada peserta didik yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu yang ditentukan; dan (f) guru memberikan sanksi yang telah disepakati bersama jika peserta didik tidak dapat mencocokkan kartunya setelah batas waktu yang ditentukan.
Kemudian, (g) setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik tidak mendapatkan kartu yang sama dengan sebelumnya; dan (h) guru bersama-sama peserta didik menyimpulkan pelajaran pada akhir pertemuan.
Pembelajaran kooperatif tipe make a match memiliki kelebihan, di antaranya: (1) peserta didik berkembang dalam aktivitas belajar dari segi kognitif dan juga motoric; (2) membuat peserta didik merasa nyaman dan asik, karena terdapat komponen permainan; dan (3) keberanian peserta didik akan terbangun, karena model pembelajaran ini merupakan sarana berlatih untuk tampil di depan kelas.
Pembelajaran kooperatif tipe make a match memiliki kelemahan juga, di antaranya: (1) bila pembelajaran ini tidak disiapkan secara matang, maka akan ada waktu yang terbuang mubazir; dan (2) pelaksanaan pembelajaran ini akan memakan energi mental yang tinggi, karena siswa bisa berpasangan dengan orang lain yang tidak akrab atau berpasangan dengan lawan jenis.*** 2NR
