Perhutani KPH Randublatung Dukung Ekplorasi Migas

NEWS

Penulis: Yokanan | Editor: Dwi NR
BLORA | inspirasiline.com

ANGIN segar investasi migas di Blora mulai terasa, dengan ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) antara PT Blora Patra Energi (BPE) sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), melalui anak perusahaannya, PT Blora Sarana Sejahtera (BSS), serta KVell Energy PTE Ltd, perusahaan energi dari Singapura yang akan melakukan kerja sama operasi untuk mengeksplorasi empat lapangan migas milik Pertamina EP, yang terletak di Blora Selatan, Selasa (31/8/2021) lalu.

Empat lapangan migas, meliputi Metes, Lusi, Petak, dan Kedinding yang ada di wilayah Banjarejo, Randublatung, dan Kedungtuban, rencana akan dikelola dengan skema Kerja Sama Operasi (KSO), namun seluruh pendanaan atau biaya sebesar lebih dari Rp 150 miliar (US$ 14 juta) itu, ditanggung sepenuhnya oleh KVell Energy.

“Untuk biaya eksplorasi itu, jelas kita tidak ada, selain itu kita juga tidak memiliki tenaga ahli dan teknologinya, semua ditanggung oleh KVell Energy. Nmun kita tetap akan mendapatkan benefitnya, melalui proyek-proyek penunjang lainnya, seperti infrastruktur jalan, tenaga kerja unskill, pengadaan barang dan jasa, serta lainnya,” ungkap Tri Harjianto, direktur utama (Dirut) baru PT BPE kepada inspirasiline.com.

Perhutani Siap Dukung
Sementara Humas Perum Perhutani KPH Randublatung Suharmanto menyampaikan dukungan dan siap membantu serta berkoordinasi dengan pihak KSO, pelaksana proyek eksplorasi migas yang berlokasi di dalam hutan, yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Randublatung dan KPH Cepu.

Hal itu telah dilakukan sejak 2014-2015, dengan melakukan survei bersama untuk mengidentifikasi titik sumur minyak yang ada di wilayah Blora.

Secara prinsip Izin Penggunaan Kawasan Hutan (IPKH) yang mengeluarkan adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perhutani hanya sebagai pengelola saja dan siap membantu jika memang telah diberikan izin.

baca juga:  Lonjakan Covid-19, Mobil Ambulans Pun Mengantre Masuk Hotel Mega Bintang

“IPKH dari Pertamina seluruhnya clear. Bahkan dulu kami ikut membantu mengidentifikasi titik sumur minyak yang ada di Blora, hasilnya ada 400 titik sumur tua. Kemudian untuk pengelolaannya sudah menjadi urusan Pertamina. Pertamina akan menyerahkan ke penambang atau KSO itu menjadi kewenangan dari Pertamina. Jadi prinsipnya kita menyajikan data peta lapangan yang ada,” papar Harmanto.

Libatkan Masyarakat Hutan
Namun Harmanto juga berharap, agar setiap ada proyek eksplorasi migas, meminta pelaksana proyek tersebut untuk melibatkan masyarakat yang ada di kawasan hutan tersebut, utamanya tenaga nonskill, untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar hutan, seperti halnya program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

“Kami berharap warga sekitar hutan, tempat eksplorasi migas bisa melibatkan seluruh elemen masyarakat hutan, desa, dan kami selaku pengelola hutan. Dengan jalinan koordinasi yang baik, pasti semuanya akan berjalan dengan lancar. Semoga membuahkan hasil, minyak atau gas yang signifikan untuk kepentingan negara dan bangsa kita. Semua harus mendukung,” tandasnya.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *