Grobogan-Inspirasiline.com. Kabupaten Grobogan yang merupakan Kabupaten terluas nomor 2 di Jateng setelah Kabupaten Cilacap adalah wilayah dengan potensi besar dibidang pangan yakni padi, jagung dan kedelai. Keberhasilan produksi pangan di Grobogan yang memberikan sumbangan terbesar pangan di Jateng itu sudah tentu memerlukan keberadaan air baik teknis (pengairan) maupun tadah hujan. Untuk itu sebagai penopang irigasi pertanian, keberadaan sungai menjadi amat penting.
Bila tidak dikendalikan dengan baik bisa bisa sungai yang ada berujung pada kejadian banjir terlebih pada musim hujan yang sebentar lagi kita rasakan bersama.

Sebagaimana kejadian banjir di sebagian wilayah Kabupaten Grobogan disebabkan karena meluapnya sungai yang melebihi daya tampungnya. Sehingga daripadanya, bisa merusak tanaman padi, harta benda penduduk bahkan nyawa manusiapun ikut melayang karenanya.
Di Grobogan, wilayah banjir tersebut sering terjadi disebagian wilayah Kec. Purwodadi, Penawangan, Godong, Gubug, Grobogan, Brati, Kradenan, Klambu, Karangrayung, Pulokulon, Tegowanu.
Meski demikian, pengendalian banjir akibat meluapnya beberapa sungai dan anak sungai (avour) tetap dilaksanakan oleh Pemkab Grobogan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR).

Pengendalian banjir tersebut dilakukan melalui kegiatan proyek normalisasi sungai dan anak sungai dengan tujuan bisa menekan sekitar 75 persen wilayah rawan banjir di Kabupaten Grobogan.
Kadinas PUPR Kab. Grobogan Een Indarto ST MM melalui Supriyadi ST MT selaku Subkor Pemeliharaan Sungai Bidang Persungaian dan Embung menjelaskan untuk menekan sekitar 75 persen wilayah rawan banjir yang disebabkan oleh adanya pendangkalan sungai,tahun 2022 dinasnya melakukan pekerjaan proyek normalisasi sungai dan avour sebanyak 60 titik tersebar di wilayah rawan banjir di Kab. Grobogan dengan dana milyar an rupiah. “Untuk mencegah banjir di wilayah rawan banjir tersebut, tahun ini kami laksanakan 60 titik proyek normalisasi” ungkapnya, Jumat (23/9/22).
Sebagaimana diketahui, wilayah Kab. Grobogan dilalui sungai besar yakni Sungai Lusi , Sungai Serang , Sungai Tuntang, kali Glugu, kali Jajar dengan puluhan anak sungai, dalam sistem pemerintahan tergabung dalam Jratunseluna (Jragung, Tuntang, Serang, Lusi, dan Juwana) dibawah wewenang BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Pamali Juwana Semarang Kementerian PUPR RI.
Diakui Supriyadi, masih ditemukan beberapa kendala yakni air dari hulu Kendeng Selatan tidak maksimal karena adanya syphon saluran D1 Gelapan Timur dan Barat, bangunan bangunan hikmat milik PT. KAI diameter kurang besar dan tidak seimbang dengan debit air banjir.
Terkait kewenangan urusan persungaian, Dinas PUPR Kabupaten berbeda, yakni sedikit lebih rendah dari Dinas PUPR Propinsi. Demikian juga Dinas PUPR Propinsi lebih rendah dari BBWS yang merupakan kepanjangan tangan Kementerian PUPR itu sendiri. Oleh karena itu, menurut Supriyadi, kegiatan normalisasi sungai dan avour yang dilakukan merupakan kewenangan DPUPR Kabupaten, sebab jikalau terjadi hal hal diluar kewenangannya, DPUPR Kabupaten merujuknya ke Dinas PUPR Propinsi, bahkan hingga ke Kementerian PUPR.
Hal ini terjadi pada kasus banjir tahunan yang melanda warga dusun Mangonan Desa Karangsari Kec. Brati Kab. Grobogan. Dimana sawah warga selalu digenangi air luapan anak sungai Lusi yakni Kali Ksatrian yang melewati desa tersebut , hingga berbulan bulan. Hal ini sudah terjadi 10 tahun yang lalu hingga sekarang. Bahkan sudah diupayakan usulan penyudetan kali tersebut untuk pembebasan lahan tersebut dari banjir. “Usulan sudah pernah kami lakukan sejak puluhan tahun yang lalu, namun hingga sekarang belum ada realisasinya. Kabupaten tidak sanggup mengatasi karena memerlukan dana besar” ungkap Sekdin DPUPR Grobogan Wahyu TD.
Bahkan tahun 2022 ini, Bupati Grobogan Sri Sumarni pernah melakukan negosiasi soal rencana penyudetan Kali Ksatrian di kawasan Mangonan tersebut ke Kementerian PUPR bahkan Bupati ketemu langsung dengan Menteri PUPR “Mudah mudahan tahun ini bisa direalisasikan penyudetannya, saya ketemu sendiri langsung dengan pak Menteri PUPR” ungkap Bupati kepada media beberapa waktu yang lalu.
Saat ini, normalisasi Kali Ksatrian sepanjang 1500 meter dan avour Mangonan sepanjang 1500 meter sudah rampung dkerjakan. Harapannya, air yang menggenangi lahan sawah warga hingga berbulan bulan itu sudah tidak akan terjadi lagi.
Supardi (55) warga Mangonan Karangsari Btati yang sawahnya tak bisa digarap lantaran tergenang banjir hingga beberapa bulan itu mengaku senang dengan.adanya normalisasi Kali Ksatrian dan Avour Mangonan sebab dia berhatap sawahnya tak lagi tergenang banjir hingga bulanan.
Beberapa Kepala Desa diantaranya Kades Tirem, Kades Karangsari Kec. Brati, Kades Pulorejo dan Kades Cingkrong Kec. Purwodadi, Kades Harjowinangun Kec. Godong menyampaikan kalimat senada, dengan proyek normalisasi sungai ini pihaknya berharap wilayahnya tak akan terjadi banjir lagi yang bisa menggenangi persawahan milik warga, hingga berakibat gagal panen. (jokowi)
