Pelajar Muhammadiyah di Tengah Banjir Digital: Masihkah Spirit Islam Berkemajuan Bertahan?

NEWS

Oleh: Tri Andika Bayu Pamungkas

Inspirasiline.com. Seiring derasnya arus digitalisasi, dunia sedang memasuki babak baru peradaban yang dikenal sebagai Society 5.0 . Konsep Society 5.0 merupakan konsep masyarakat modern yang pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah Jepang dan berpusat pada manusia (human-centered society). Konsep ini menempatkan manusia sebagai pusat utama dengan dukungan teknologi serta bertujuan menghubungkan dunia digital dan dunia nyata guna mengatasi berbagai permasalahan sosial. Pada era ini, teknologi tidak lagi hanya menjadi alat bantu kehidupan, tetapi telah menyatu dalam hampir seluruh aktivitas manusia. Kecerdasan buatan media sosial, big data, dan internet membentuk pola pikir, budaya, bahkan cara manusia memahami realitas. Berdasarkan laporan We Are Social tahun 2024, tingkat penggunaan media sosial di Indonesia mencapai 75,6% dari total populasi, dengan kelompok usia 13–24 tahun sebagai pengguna terbesar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya remaja di era digital. Society 5.0 memang menghadirkan banyak kemudahan, tetapi juga melahirkan tantangan baru berupa krisis moral, polarisasi sosial, budaya instan, hingga hilangnya ruang refleksi di tengah banjir informasi.

Menghadapi situasi tersebut, Muhammadiyah hadir sebagai salah satu gerakan Islam yang sejak awal memiliki semangat pembaharuan dan keterbukaan terhadap perkembangan zaman.  Berdiri lebih dari satu abad lalu, Muhammadiyah bukanlah organisasi yang memandang modernitas sebagai ancaman. Sebaliknya, Muhammadiyah menjadikan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kemajuan sosial sebagai bagian penting dari dakwah Islam. Semangat itu diwariskan oleh K.H. Ahmad Dahlan yang percaya bahwa Islam harus mampu menjawab persoalan zaman. K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada ritual semata, tetapi harus melahirkan gerakan sosial yang mencerahkan kehidupan masyarakat. Karena itu, Muhammadiyah tumbuh melalui sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan gerakan pendidikan sebagai bentuk nyata dakwah yang berkemajuan.

Gagasan Islam Berkemajuan yang dibawa Muhammadiyah pada dasarnya menunjukkan bahwa menjadi Muslim tidak berarti anti terhadap perubahan. Islam Berkemajuan justru menempatkan umat Islam sebagai kelompok yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan, menghargai kemanusiaan, moderat dalam bersikap, dan aktif membangun peradaban. Sikap moderat Muhammadiyah terlihat dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara nilai keislaman dan perkembangan modernitas. Muhammadiyah tidak terjebak pada ekstremisme, tetapi juga tidak kehilangan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang menekankan tauhid, tajdid, ijtihad, serta sikap wasathiyah dalam menghadapi perubahan zaman. Islam Berkemajuan juga memiliki karakter terbuka terhadap ilmu pengetahuan, adaptif terhadap perkembangan sosial, serta berorientasi pada kemaslahatan dan kemajuan peradaban manusia. Nilai-nilai itulah yang menjadi semakin relevan di era Society 5.0. Ketika ruang digital dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, dan budaya viral without value, Muhammadiyah menawarkan wajah Islam yang mencerahkan, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan. Ruang digital tidak boleh hanya menjadi tempat hiburan tanpa arah, tetapi juga harus menjadi ruang dakwah, literasi, dan pengembangan gagasan.

Di titik inilah peran pelajar Muhammadiyah menjadi penting. Sebagai bagian dari generasi digital, pelajar hidup di tengah dunia yang serba cepat dan terkoneksi. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang pembentukan identitas dan cara berpikir generasi muda. Sayangnya, banyak pelajar hari ini justru terjebak dalam budaya instan, rendahnya literasi, dan kecenderungan menjadikan media sosial sekadar ruang validasi sosial. Karena itu, pelajar Muhammadiyah melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus hadir sebagai pelopor gerakan literasi dan dakwah digital yang membawa spirit Islam Berkemajuan. Era Society 5.0 membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab sosial.

Spirit Islam Berkemajuan harus tercermin dalam cara pelajar menggunakan ruang digital. Media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan gagasan yang mencerdaskan, membangun budaya diskusi yang sehat, menyuarakan kepedulian sosial, hingga melawan penyebaran hoaks dan intoleransi. Dakwah hari ini tidak lagi terbtatas di mimbar masjid atau ruang kelas, tetapi juga hadir melalui konten kreatif, tulisan digital, podcast, video edukasi, dan berbagai bentuk gerakan sosial di internet. Selain itu, pelajar Muhammadiyah juga memiliki tanggung jawab menjaga tradisi intelektual di tengah budaya digital yang serba cepat. Kemajuan teknologi tanpa diimbangi budaya berpikir kritis hanya akan melahirkan generasi yang canggih secara teknologi, tetapi rapuh dalam karakter dan mudah kehilangan arah. Oleh sebab itu, gerakan pelajar Muhammadiyah harus mampu menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan digital, kekuatan moral, dan kepedulian kemanusiaan. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) perlu menghadirkan ruang kaderisasi digital yang tidak hanya mengajarkan kemampuan teknologi, tetapi juga etika bermedia serta tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, era Society 5.0 bukan hanya tentang kemajuan teknologi, tetapi juga tentang arah masa depan manusia. Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa Islam dapat berjalan seiring dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. Kini, tugas pelajar Muhammadiyah adalah melanjutkan semangat tersebut di ruang digital sebagai generasi yang kritis, moderat, dan berkemajuan. Ruang digital hari ini membutuhkan lebih banyak cahaya pencerahan daripada sekadar sensasi sesaat. Di sanalah pelajar Muhammadiyah memiliki peran besar: membawa spirit Islam Berkemajuan sebagai gerakan yang mencerdaskan, memanusiakan, dan membangun peradaban digital yang lebih bermakna.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *