GROBOGAN (inspirasiline.com) Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi menyiapkan sebanyak 183.000 bibit tanaman yang siap didistribusikan untuk mendukung kegiatan penanaman pada musim tanam tahun 2026. Bibit tersebut diproduksi melalui kegiatan persemaian di pekarangan dinas Kantor Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatipohon, KPH Purwodadi, dengan luas persemaian mencapai 2,25 hektare.
Kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) persemaian dilaksanakan oleh Administratur KPH Purwodadi didampingi Wakil Administratur, Kepala Seksi Pembinaan Sumber Daya Hutan (PSDH), serta jajaran BKPH Jatipohon pada Kamis (08/10/2026). Monitoring dilakukan untuk memastikan kesiapan bibit, kualitas pertumbuhan tanaman, serta kesiapan distribusi menuju lokasi penanaman.
Salah satu jenis bibit yang menjadi perhatian adalah jati KBK (Kebun Benih Klon). Jati KBK merupakan bibit jati yang berasal dari sumber benih unggul Kebun Benih Klon yang dikembangkan melalui program pemuliaan dan pengembangan sumber benih oleh Perhutani Forestry Institute (PeFI). Dari persemaian tersebut tersedia sebanyak 72.922 plances bibit jati KBK siap tanam.
Selain jati KBK, persemaian juga memproduksi berbagai jenis bibit tanaman rimba yang terdiri dari mahoni, sonokeling, johar, randu, dan jambu mete. Secara keseluruhan, bibit yang dipersiapkan mencapai 183.000 plances dan akan digunakan untuk mendukung kegiatan tanaman pada lokasi-lokasi yang telah ditetapkan dalam musim tanam tahun 2026.
Administratur KPH Purwodadi Doddy Juli Irawan menyampaikan bahwa kesiapan bibit merupakan bagian penting dalam memastikan keberhasilan kegiatan rehabilitasi dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
“Persemaian merupakan tahapan yang sangat strategis dalam pengelolaan hutan karena kualitas tanaman pada masa awal akan sangat menentukan keberhasilan penanaman di lapangan. Sebanyak 183.000 bibit yang telah disiapkan ini harus dipastikan kualitas dan kondisinya tetap baik sampai dengan waktu distribusi dan penanaman,” ujar Doddy.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan sumber benih unggul seperti jati KBK menjadi salah satu upaya Perhutani untuk meningkatkan kualitas tegakan sekaligus menjaga produktivitas kawasan hutan dalam jangka panjang.
“Pengelolaan hutan bukan hanya berbicara mengenai produksi, tetapi juga bagaimana kita menjaga keseimbangan fungsi ekologis, sosial dan ekonomi hutan. Penanaman kembali harus dilakukan secara terencana dengan memperhatikan kesesuaian jenis, kondisi tapak dan keberlanjutan ekosistem. Dengan demikian, hutan dapat terus memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” tambahnya.
Menurut Doddy, keberadaan persemaian juga memberikan manfaat sosial karena melibatkan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja. Hal tersebut menjadi bentuk sinergi antara Perhutani dengan masyarakat dalam mendukung kegiatan pengelolaan sumber daya hutan.
Sementara itu, Kepala BKPH Jatipohon, Tutut Sugianto, menjelaskan bahwa persemaian yang berada di pekarangan dinas Kantor BKPH Jatipohon dengan luas 2,25 hektare terus dipantau untuk menjaga kondisi bibit agar tetap optimal.
“Kami melakukan pemeliharaan secara rutin mulai dari penyiraman, penyiangan, pemupukan, penyortiran hingga pengaturan bibit sebelum didistribusikan. Untuk jati KBK terdapat 72.922 plances bibit siap tanam, sedangkan secara keseluruhan persemaian menyiapkan sekitar 183.000 bibit berbagai jenis,” jelas Tutut.
Ia mengatakan bahwa keberagaman jenis tanaman yang dipersiapkan diharapkan dapat mendukung kegiatan penanaman sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing lokasi.
“Bibit yang sehat dan berkualitas menjadi modal awal keberhasilan tanaman. Karena itu, sebelum dikirim ke lapangan kami memastikan bibit benar-benar siap tanam dan dalam kondisi baik sehingga tingkat keberhasilan tumbuh dapat optimal,” imbuhnya.
Kegiatan persemaian tersebut juga melibatkan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja. Salah seorang tenaga kerja masyarakat sekitar, Suparjo, menyampaikan bahwa kegiatan persemaian memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian hutan.
“Kami senang bisa ikut bekerja di persemaian. Selain mendapatkan penghasilan, kami juga merasa ikut berperan dalam menyiapkan tanaman yang nantinya akan ditanam di kawasan hutan. Kami berharap bibit-bibit ini dapat tumbuh dengan baik dan hutan tetap lestari,” ungkap Suparjo.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan persemaian juga memberikan pemahaman bahwa kelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama.
Persiapan 183.000 bibit tersebut menjadi bagian dari komitmen Perhutani KPH Purwodadi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya hutan. Penanaman tidak hanya ditujukan untuk memastikan keberadaan tegakan hutan, tetapi juga mendukung fungsi ekologis kawasan, seperti menjaga tata air, mengurangi risiko erosi, mempertahankan kesuburan tanah, menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati, serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Penggunaan berbagai jenis tanaman, termasuk jati KBK dan tanaman rimba, menjadi bagian dari pengelolaan hutan yang memperhatikan karakteristik kawasan dan kebutuhan ekologis maupun sosial. Bibit yang diproduksi melalui persemaian selanjutnya akan didistribusikan ke lokasi tanaman sesuai dengan rencana dan kondisi lapangan.
Perhutani KPH Purwodadi terus mendorong pengelolaan hutan yang mengedepankan prinsip kelestarian, produktivitas dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Melalui penyiapan bibit yang berkualitas, penanaman yang terencana, pemeliharaan yang konsisten serta keterlibatan masyarakat, diharapkan keberadaan hutan dapat terus terjaga sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat secara berkelanjutan.
Kegiatan monitoring persemaian di BKPH Jatipohon menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan seluruh rangkaian persiapan musim tanam 2026 berjalan sesuai target, sehingga bibit yang telah diproduksi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung terwujudnya hutan yang sehat, produktif dan lestari. (jk/Aris).
