Menarik, Disporabudpar Grobogan Gelar Lomba Karawitan SD dan SMP

NEWS

GROBOGAN (inspirasiline.com) Ada yang menarik di jantung tradisi Grobogan. Selama dua hari, di tengah semburan mistis Lokawisata Bledug Kuwu, Dinas Pemuda Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporabudpar) Kabupaten Grobogan menggelar Lomba Karawitan yang diikuti siswa SD dan SMP se-Kabupaten Grobogan.

Jumat, 23 Oktober 2026 untuk tingkat SD, dan Sabtu, 24 Oktober 2026 untuk tingkat SMP. Dua hari yang tidak sekadar lomba, melainkan ikhtiar merawat ingatan budaya yang hampir hilang.

Kadisporabudpar Grobogan tengah memberikan sambutannya

Acara yang menyedot perhatian kalangan pendidikan dan masyarakat ini dibuka resmi oleh Kepala Disporabudpar Grobogan, Dr. Wahono, M.Pd.

Dalam sambutannya yang tegas dan bergetar, Wahono menegaskan sebuah filosofi yang dalam.

“Karawitan bukan sekadar menabuh alat musik saja, namun dengan perpaduannya menghasilkan suara yang indah,” ujar mantan Sekdin Dinas Pendidikan Grobogan itu.

Grup karawitan SDN12 Purwodadi keluar sebagai juara pertama

Kalimat itu menampar kesadaran. Di era ketika anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada gamelan, karawitan mengajarkan tentang kebersamaan, tentang mendengarkan, tentang harmoni.

“Dengan demikian anak-anak akan tumbuh kreativitasnya dan punya nalar yang lebih baik,” ungkapnya, Jumat (23/10/2026).

Melankolis rasanya, melihat tangan-tangan kecil itu memukul saron, bonang, dan gong dengan penuh kesungguhan. Di sanalah nalar dan rasa bertemu.

Daftar Sang Juara

Persaingan berlangsung ketat, khidmat, dan penuh keharuan. Untuk tingkat SD, dewan juri memutuskan:

Juara 1: SDN 12 Purwodadi
Juara 2: SDN 2 Menawan Klambu, Juara 3: SDN 8 Wirosari. Ditambah 3 juara harapan.

Sementara untuk tingkat SMP, gaung kemenangannya pun telah lahir, sebagai juara pertama diraih SMPN 6 Purwodadi, juara 2 diraih SMPN5 Purwodadi dan juara 3 jatuh kepada SMPN1 Gabus. Ditambah juga 3 juara harapan.
Sementara Kabid Kebudayaan Disporabudpar Grobogan Endang Darwati SSos MM menambahkan lokasi lomba sengaja ditempatkan di lokasi Bledug Kuwu karena sebagai bentuk rangkaian Festival Bledug Kuwu. “Selain itu juga sebagai upaya mempromosikan obyek wisata kita” pungkasnya.

Yang pasti, dari Bledug Kuwu hari itu, Grobogan mengirimkan pesan tegas: selama gamelan masih ditabuh oleh anak-anak SD dan SMP, maka Grobogan tidak akan pernah kehilangan jiwanya. (jk)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *