Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com
KABAR menggembirakan menghampiri SMA Negeri 1 Sragen, yang selama ini menjadi barometer lembaga pendidikan menengah terbaik di Sragen, kini resmi ditunjuk menjadi Sekolah Penggerak oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Predikat itu didasrkan atas keberhasilan Kepala SMAN 1 Sragen Beti Marga Sulistyawati yang lolos seleksi ketat lewat berbagai tahapan yang digelar Kemendikbud.
SMAN 1 Sragen ditunjuk sebagai Sekolah Penggerak bersama SMAN 3 Sragen dan SMAN Sumberlawang.
Ketika dihubungi inspirasiline.com, Rabu (23/6/2021), Beti –sapaan akrab Kepala SMAN 1 Sragen— mengatakan, penobatan sekolah penggerak itu dimulai dari seleksi kepala sekolah.
Total ada sekitar 21.000 kepala sekolah dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK di seluruh Indonesia yang bersaing dalam seleksi itu.
Setelah melalui seleksi yang lumayan berat, Beti akhirnya berhasil lolos. Total ada 2.500 kepala sekolah se-Indonesia yang lolos seleksi menjadi sekolah penggerak.
“Setelah kepala sekolahnya lolos, secara otomatis sekolah akan ditunjuk jadi sekolah penggerak. Nah, di Sragen ada tiga yang lolos, yaitu SMAN 1, SMAN 3, dan SMAN Sumberlawang,” ungkapnya.
Dengan menyandang sebagai Sekolah Penggerak, konsekuensinya sekolah harus melakukan pembaruan kurikulum pada tahun ajaran baru 2021/2022.
Nantinya untuk kurikulum baru, ada perubahan yang akan diberlakukan, yakni pada kelas X yang sebelumnya sudah penjurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), akan diganti dengan pemberian materi mapel secara umum.
Baru ketika kelas XI dan XII, siswa bisa melakukan pemilihan jurusan atau mapel. Perubahan kurikulum itu juga berlaku di jenjang SD, SMP, dan SMA yang lolos menjadi sekolah penggerak.
“Kamisangat bersyukur bisa lolos, karena kemarin yang nggak lolos banyak. Dan yang pasti, dengan kurikulum baru nanti, siswa akan menjadi lebih fokus. Karena anak-anak tidak akan terlalu banyak beban mapel. Jadi misalnya mau kuliah di kedokteran, di kelas XI itu siswa bisa memilih mapel yang diinginkan dan relevan, yakni Biologi, Kimia, Matematika, dan lainnya, sehingga pendalaman materi bisa lebih fokus. Intinya fokus pada minat siswa,” jelas Beti.
Sebagai penunjang, selama 10 hari ke depan para guru mapel sebanyak 11 orang akan digembleng untuk mengikuti bbingan teknis (bintek) in house training (IHT) pengimbasan sekolah penggerak.
Mereka nantinya disatukan dalam wadah komite pembelajaran dan setelah menguasai, diharapkan menularkan ke guru lainnya.
Selain fokus pada mapel pendukung minat siswa, sekolah penggerak itu juga akan lebih fokus pada penerapan digitalisasi dalam pembelajaran.
“Jadi tidak hanya kepala sekolah, bapak dan ibu guru mapel juga harus paham. Karena menjadi sekolah penggerak itu tentu berbeda dengan sekolah biasa. Kemungkinan nanti alat-alat digital akan ditambahi dan fasilitas buku juga akan dibantu dari kementerian,” ujarnya.
Beti menambahkan, sekolah penggerak tersebut memang menjadi program rintisan awal dari Kemendikbud. Ke depan diharapkan semua sekolah secara bertahap bisa menyesuaikan menjadi sekolah penggerak.***
