Sragen Zona Merah, PTM 73 Sekolah Dibatalkan

EDUKASI

Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen membatalkan pembelajaran tatap muka (PTM) di 63 Sekolah yang dijadikan pilot project sejak Senin (31/8/2020) lalu.

Pembatalan PTM tersebut dilatarbelakangi pemeningkatan jumlah kasus positif Covid-19 di Bumi Sukowati. Pembatalan diumumkan secara resmi melalui Surat Edaran (SE) Disdikbud.

Sumber inspirasiline.com di Disdikbud Kabupaten Sragen menyatakan, berdasar hasil rapat koordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan {GTPP) Covid-19, Kamis (3/9/2020), PTM di 63 sekolah yang sudah dimulai sejak Senin (31/8/2020) lalu  dihentikan, walau berdasar monitoring dan evaluasi, PTM berjalan baik sesuai protokol kesehatan.

Kepala Disdikbud Kabupaten Sragen Suwardi mengatakan, sebagai gantinya, kegiatan belajar-mengajar (KBM) dilakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Langkah itu ditempuh dengan berbagai pertimbangan, terutama peningkatan jumlah kasus positif Corona di Sragen, sehingga secara keseluruhan proses pembelajaran dilakukan secara daring sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” ujar Suwardi kepada inspirasiline.com di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2020) kemarin.

Suwardi mengakui, PTM merupakan pilihan sulit. Dari sekian banyak warga Sragen yang terkonfirmasi positif Covid-19, tidak ada satu pun yang.berasal dari tenaga pengajar, meski sebagian merupakan anak-anak usia sekolah. “Oleh karenanya, jika PTM diteruskan, berpotensi menjadi media penularan Covid-19,” tegasnya.

Terpisah, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati yang ditemui awak media di Kantor KPU, Jumat (4/9/2020) sore menyatakan, status Sragen sebagai zona merah akan berdampak pada PTM yang sudah diujicobakan di 63 sekolah, mulai dari TK, SD, dan SMP.

Sebelum PTM dilakukan, Yuni Sukowati memaparkan, idealnya dilakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) terhadap siswa dan guru, sehingga yang masuk sekolah benar-benar sehat.

Dikatakan, kalau tes PCR dilakukan sebelumnya, maka ketika si anak membawa virus karena tidak diketahui penularannya, maka berisiko menular ke teman-temannya dalam satu sekolah.***

Bagikan ke:
baca juga:  Milenial Tak Boleh Pahami Agama Sebatas Tekstual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *