Ketua DPC Himtani Sragen Suhadi Dukung Pemdes Bedoro Pasang Rumah Burung Hantu

NEWS

Penulis: Sugimin | Editor: Dwi NR
SRAGEN | inspirasiline.com

KETUA Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Masyarakat Tani-Nelayan Indonesia (DPC Himtani) Kabupaten Sragen Suhadi mendukung program Pemerintah Desa (Pemdes) Bedoro, Kecamatan Sambungmacan memasang rumah burung hantu di persawahan sebagai upaya mengatasi serangan hama tikus pengganti jebakan listrik.

Menurut Suhadi, populasi burung hantu efektif mengurangi populasi tikus di persawahan.

Dikatakan, ketika burung hantu bertengger di rumah burung hantu yang disediakan di lahan persawahan, pandangan matanya mampu melihat gerakan mangsa sampai radius 500 meter.

Suhadi berpendapat, akan lebih baik kalau seluruh pemdes di Bumi Sukowati menganggarkan untuk pemasangan rumah burung hantu di lahan persawahan dan pembelian burung hantu melalui Dana Desa (DD), sebagai upaya mencegah populasi tikus, sehingga tidak ada lagi petani yang memasang jebakan tikus beraliran listrik yang membahayakan jiwa manusia.

“Saya pernah mendengar kalau satu ekor burung hantu bisa memangsa 20 ekor tikus, karena yang diambil hanya organ dalam tikus,” ungkap Suhadi saat berbincang dengan inspirasiline.com di Sekretariat DPC Himtani Sragen, Sabtu (28/8/2021).

Sumber inspirasiline.com di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sragen menyebutkan, pihak dinas membeli 10 pasang burung hantu jenis Tyto Alba dan 20 unit rumah burung hantu pada 2021 ini, yang disebar di lima kecamatan, Kecamatan Sidoharjo, Masaran, Tanon, Ngrampal, dan Kecamatan Sragen sendiri.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari yang dihubungi inspirasiline.com melalui ponselnya, Sabtu (28/8/2021) mengatakan, lima Kecamatan tersebut masing-masing mendapat dua pasang burung hantu dan 4 unit rumah burung hantu.

Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengungkapkan, rumah burung hantu memang akan lebih banyak dengan burung hantunya, karena setiap burung hantu bertelur, kemudian menetas, dan anak burung hantu yang sudah mandiri membutuhkan tempat atau rumah tersendiri.

Eka Rini Mumpuni Titi Lestari berharap, petani lain mencontoh petani di Desa Bedoro, Sambungmacan, dengan mendirikan rumah burung hantu dan memelihara burung hantu.

Menurutnya, populasi burung hantu di areal persawahan dapat mengendalikan serangan hama tikus, karena burung hantu adalah salah satu musuh atau predator (pemangsa) tikus alami.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *