Grobogan-Inspirasiline.com. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Grobogan menggelar acara launching dan bedah buku sejarah pengawasan Pemilu sejak 2004 hingga 2023 di halaman Bawaslu setempat Jl.Piere Tendean 26 Purwodadi, Rabu (3/8/22).
Hadir dalam acara tersebut Staf Ahlu Bupati Grobogan Bidang Sosial Kemasyarakatan dan SDM Amin Hidayat, Ketua Bawaslu Fitri Nita Witanti, MSi, Ketua KPU Agung Sutopo fan jajarannya, Ketua- ketua Panwaslu Kecamatan, ormas PMII, Pemuda Ansor NU, para media Grobogan.

Ketua Bawaslu Grobogan Fitri Nita Witanti menjelaskan buku dengan judul “Tapak Tilas Pengawas Pemilu Di Bumi Ki Ageng Selo (2004-2023) ” ini disusun untuk mendokumentasikan sejarah adanya pengawassn Pemilu di Kabupaten Grobogan dari bentuk Panwaslu (2004-2018) hingga berbentuk Bawaslu (2018 – sekarang). Kata Fitri, penyusunannya menggunakan metodologi riset yakni mengumpulkan bahan pengawaan pemilu dari tahun 2004- 2020 saat ada pilkada di Grobogan, dan wawancara dengan tokoh tokoh Panwaslu dan Bawaslu, sekitar 15 orang tokoh pelaku sejarah pengawas pemilu. “Dari kedua metodologi tersebut, kemudian kami olah dan dijadikan sebuah buku dokumentasi sejarah pengawas Pemilu di Grobogan dan hari buku tersebut kami launching” ungkap Fitri.

Disebutkan, sebelumnya sejak 2018 hingga sekarang Bawaslu Grobogan telah menerbitkan 4 judul buku yakni Kinerja Pengawas Pemilu, Impresi Pemilu, Profil Desa Pengawas dan Anti Politik Uang, dan Potret Pilkada 2020.”Dengan buku buku tersebut, kami berusaha memancing masyarakat Grobogan untuk ikut serta dalam pengawasan Pemilu” terang Fitri. Buku buku karya Bawaslu Grobogan tersebut diperuntukkan bagi stakeholder Bawaslu, pengawas partisipatif, calon pemantau, dan masyarakat.
Sementara itu, dalam bedah buku Tapak Tilas tersebut, menghadirkan 3 orang narasumber yakni Amin Hidayat SPd , MM dari Asosiasi Penulis Guru Grobogan, AKBP (purn) Andy Wahyono, SH., MH dan Desi Ari Haryanta SP.
Dalam penjelasannya, Hartanta menyoroti tokoh Grobogan yakni Ki Ageng Selo yang dikenal dengan pepali atau pesan moralnya yang harus diteladani. Sehingga dalam buku Tapak Tilas menggunakan tokoh legendaris itu. Kata Haryanta, buku tersebut mengandung 3 Bab yakni pendahuluan, proses pengawasan pemilu, dan penutup.”Menariknya dalam.Pilkada 2019 yang lalu di Grobogan ada yang harus dibawa ke MK segala” ungkapnya.
Sedangkan Amin Hidayat menyoroti tampilan buku, isi, dan gagasan. Mantan Kadisdik Grobogan itu menyebut buju Tapak Tilas yang dilaunching itu secara penampilan sudah bagus dari kertas dan ukuran namun dari warna covernya, Amin kurang setuju karena memakai warna hitam, sebab Ki Ageng Selo cenderung dengan warna putih, kalau warna hitam cenderung ke Ki Agung Tarub. Sedangkan isi, Amin melihat dari dua sisi yakni sisi redaksional dan substansial.
Untuk itu Amin punya gagasan kedepan untuk buku Tapak Tilas ini adalah profil Ketua dan Anggota jangan seperti KTP kaku, tetapi diambil.foto action yang relaks, dukungan gambar dalam.buku masih sangat kurang dan kedepan Bawaslu Grobogan harus lebih bisa membuat buku yang undercover (terselubung) dari tokoh ” Itu temen temen wartawan bisa diajak.kerjasama” tukasnya.
Sedangkan Andy Wahyono yang berlatar belakang kepolisian fokus pada permasalahan sejarah pengawasan pemilu di Grobogan yang bervariasi. Harapan Andy yang sudah lama bergelut dengan pengawasan pemilu di Grobogan berharap agar Bawaslu menjadi mandiri, jujur, adil dan tertib.
Pada akhir acara, Ketua Bawaslu Grobogan Fitri Nita Witanti melaunching buku dan menyerahkan buku kepada ketiga nara sumber dan peserta yang hadir. ( jkwi)
