Grobogan-Inspirasiline.com. Di bulan Apit ( bulan dalam penanggalan Jawa) hampir semua desa dan kelurahan di Grobogan menggelar upacara adat apitan merti desa atau sedekah bumi sebagai bentuk ucapan syukur warga setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rejeki yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Tidak ketinggalan pula hal tersebut dilakukan oleh Pemdes Sugihmanik Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan.

Desa yang terletak di bagian barat daya Grobogan ini sudah sejak lama memelihara adat tradisi yang turun temurun yakni sedekah bumi sekaligus merti atau memperingati berdirinya desa Sugihmanik tersebut.
Kepada media Inspirasiline.com, Kepala Desa Sugihmanik, Imam Santosa menjelaskan tradisi sedekah bumi dan merti desa ini sudah sejak lama dilakulan yakni saat desa ini disinggahi Sunan Kalijaga pada abag ke 15 hingga terjadinya desa ini sampai sekarang, namun tentunya dilakukan secara sangat sederhana. Namuni sejak tahun 2013 tradisi ini disempurnakan paket kegiatannya, yakni tidak hanya kenduri dan makan bersama saja tetapi lebih dari itu yakni adanya kirab bende dari sumber mata air Sendangsari ke kantor desa dan kirab budaya.
Imam menjelaskan dalam.merti desa ini pemdes menggelarnya selama 3 hari. Hari pertama adalah doa dan tahlil berama, hari kedua kirab bende dan acara puncaknya yakni pada hari ketiga yang jatuh pada hari Selasa Kliwon tanggal 13 Mei 2025.
“Kami menggelar merti desa dan sedekah bumi selama 3 hari. Intinya dalam acara ini merupakan wujud rasa syukur kami kepada Allah swt atas semua hasil bumi yang luar biasa dan rejeki serta kesehatan” ucapnya pada Senin (12/5/2025).

Gelaran merti desa dan sedekah bumi di desa Sugihmanik pada hari kedua ini diawali dengan gelaran musik band SA plus yang mendendangkan lagu kenangan grup Koes plus.
Pada sore harinya digelar kirab bende dan kirab budaya. Dimana alat musik gamelan Jawa itu dipikul dan diarak oleh perangkat desa setempat dari mata air Sendangsari arah barat hingha depan Polsek Tanggungharjo. Kirab bende itu menyita perhatian warga, bahkan ada warga yang datang dari desa sekitar seperti Ringinpitu, Sukorejo dan bahkan dari Kapung, Mrisi dan Tanggungharjo.
Saat kotak putih berisi bende asli dan duplikat diarak keluar, masyarakat antusias dan berjajar disepanjang jalan raya Sugihmanik- Tanggungharjo.
Terdapat gunungan yang berisi hasil bumi setempat. Bende tersebut ketika sampat tempat finish di depan rumah Sekdes, kemudian diserahkan kepada Kepala Desa Imam Santosa.
Istiyanto mantan Kades Sugihmanik sejak 1988-2012 menceriterakan bahwa bende tersebut berasal dari abad ke 15 atau 600 tahun yang lalu sebagai benda peninggalan Sunan Kalijaga saat sebelun dibangunnya Masjid Agung Demak. Karena saking lamanya bendevl tersebut, sehingga fisiknya sudah rapuh, sehingga diperlukan bende duplikat.
Ia juga mengungkapkan munculnya nama “Sugihmanik”.
Diceritakan, saat itu Sunan Kalijaga dalan rangka mencari kayu jati untuk.membangun masjid Demak dan sesampainya di desa tersebut, menjumpai pohon suruh (sirih) banyak sekali dan memanennya dengan cara “menek” ( naik). Sunan Kalijaga mengatakan besok bila ada majunya jaman desa ini dinamakan “Sugih menek” yant berarti masyarakat bisa kaya karena banyak panen suruh yang harus dipenek ( dinaiki).
Sejalan dengan perkembangan jaman hal itu berubah menjadi “Sugihmanik”. Selain itu, kata Istiyanto, manik bisa.berarti permata. Diharapkan kedepan Sugihmanik memiliki permata yang bermanfaat bagi warganya. “Sugih manik atau sugih mata ini sejalan dengan yang diucapkan Sunan Kalijaga, dikaitkan dengan rencana adanya pabrik di Sugihmanik yang menyerap tenaga kerja hingga 22 ribu orang” ucapnya.
Pada malam hari merti desa har8mk3dua ini dilakukan pagelaran wayangkulit. Sedangkan pada hari ketiga, Selasa (13/5/2025) yang merupakan.puncak merti desa dilakukan upacara bersih sendang/mata air dan pagelaran seni tayub pada pagi ingga jam 12.00 wib.
Terpisah, Mugi (55) warga desa SukorejoTegowanu saat melihat kirab bende dan kirab budaya yang digelar tiap tahun di Sugihmanik tersebut mengatakan merti desa tahun ini lebih ramai dan hebat, isi budayanya lengkap dan terkesan sekali.
“Wah acaranya hebat, Sugihmanik memang top, warga yang terlibat banyak sekali…” ujarnya.
Sementara itu, H. Nurwibowo salah satu tokoh masyarakat setempat menambahkan merti desa dan sedekah bumi di Desa Sugihmanik ini selalu jatuh pada hari Selasa Kliwon pada bulan Apit (bulan Jawa) dan puncaknya adalah pagelaran tari Jawa ( langen tayub), sebab saat Sunan Kalijaga sholat di masjid Sugihmanik para cantriknya berada di Balai Panjang tak jauh dari masjid tersebut sambil berjoget.
” Melalui merti desa ini sekaligus kami ikut nguri uri kebudayaan jawa yakni langen tayub” ujar anggota DPRD Grobogan sejak 1999-2024 ini. (jkw)
