Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com
HAMPIR semua unit usaha terdampak pandemi Covid-19, yang mulai melanda sejak pertengahan Maret 2020 lalu, termasuk industri batik di Kabupaten Sragen.
Sebagian besar pedagang pasar di Bumi Sukowati mengalami penurunan pendapatan secara drastis.
Ketua Kerukunan Pedagang Pasar Kota Sragen (KPPKS) Mario mengungkapkan, pihaknya kerap mendapat keluhan dari sesama pedagang. Namun, dia sendiri kebingungan untuk memberi solusi.
Pendapatan pedagang itu anjlok hingga 100 persen dibandingkan sebelum terjadi pandemi Covid-19. Sebagian pedagang memilih menutup kios atau los jualannya. Sebagian pedagang tetap bertahan, meski pasar sepi pembeli.
Mario sendiri harus membawa dagangan ke rumah supaya tetap bisa jualan.
“Saya tidak bisa bicara soal pemulihan ekonomi (pada 2021). Kami belum tahu kapan pandemi berhenti. Pasar sudah lesu selama sembilan bulan,” ungkap Mario melalui ponselnya kepada inspirasiline.com, Jumat (1/1/2021) petang ini.
Mario berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian pedagang kembali bangkit. Lebih khusus lagi, dia berharap, proyek pembangunan Pasar Kota Sragen tidak memperburuk keadaan mereka. Dalam hal ini, dia meminta para pedagang lama tetap menghuni lantai I, entah apapun dagangan mereka.
“Harapannya, los, kios, dan toko tidak berubah tempatnya. Setelah dibangun, pedagang juga tidak dipungut kompensasi apapun alias gratis,” tuturnya.
Stok Menumpuk
Datangnya pandemi Covid-19 juga membuat hampir semua pengusaha batik di Desa Pilang dan Plupuh, Kecamatan Cangkol menghentikan kegiatan produksi. Ini terjadi karena stok barang mereka menumpuk di pedagang.
Rata-rata pedagang batik yang berlokasi di kota-kota besar kesulitan menjual barang. Hal ini membuat para pedagang tidak bisa membayar batik kepada pengusaha.
Karena kegiatan produksi mandek, sebagian besar bangunan pabrik batik mangkrak. Sebagian bangunan itu disewakan kepada pihak lain. Saat ini hanya terdapat beberapa pengrajin yang tetap memproduksi batik, karena ada pesanan dari pelanggan lama. Umumnya, pesanan itu berupa seragam sekolah atau kantor.
“Pada 2021, kami berharap pandemi Covid-19 berakhir, sehingga kondisi bisa normal lagi. Besar harapan UKM batik bisa kembali melaksanakan aktivitas produksi lagi. Pasar batik bisa ramai kembali dan semua yang berhubungan dengan ekonomi masyarakat bisa jalan lagi,” ujar Koordinator Pengrajin Batik Desa Pilang Suwanto.
Lebih dari 1.500 buruh batik di Desa Pilang kehilangan pekerjaan sebagai dampak terjadinya Pandemi Covid-19. Sebagian besar dari pengusaha batik setempat, yang berjumlah sekitar 100 orang memilih menghentikan aktivitas produksi.
Terpuruknya usaha batik itu tidak lepas dari mandeknya pencairan giro dari para pedagang batik di kota-kota besar seperti Jakarta. Hal itu dikarenakan target penjualan dari batik tidak bisa terpenuhi sebagai akibat terjadinya pandemi Covid-19.
Padahal, para pengusaha batik di Desa Pilang dan Plupuh juga punya tanggungan utang untuk membayar kain maupun obat pewarna.***

Very nice post. I just stumbled upon your weblog and wanted to mention that I’ve truly loved browsing your blog posts. After all I will be subscribing to your rss feed and I am hoping you write again very soon!