Tegal-Inspirasiline.com. Sebuah peristiwa budaya akbar siap mengguncang Kota Tegal. Pada tanggal 25 April 2026, gedung Taman Budaya Tegal akan menjadi saksi pertunjukan spektakuler dari Teater rspd Tegal. Dalam produksi mereka yang ke-74, mereka akan membawakan naskah drama berjudul ‘MANGIR’, sebuah karya yang disutradarai oleh Yono Daryono, seorang seniman teater ternama.
‘MANGIR’ akan menampilkan kolaborasi apik antara para aktor senior Teater rspd seperti Abiet Sabariang, Ubaedillah, Rofi Al Jo, Bontot Sukandar, Novi Yektiningsih, Mohamad Ali, dan Ida Fitri. Menariknya, pementasan ini juga akan memperkenalkan Tazqiyatul Muthmainah, seorang pendatang baru yang mempesona di kelompok teater ini. Meskipun baru bergabung, Tazqiyatul Muthmainah, yang juga menjabat sebagai Ketua Fatayat Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, bukanlah nama baru di dunia teater. Pengalamannya yang terbentang sejak SMP hingga bangku kuliah menjadikannya aktris yang tak diragukan lagi kemampuannya. Kecintaannya pada teater inilah yang mendorongnya, akrab disapa Mba Iin, untuk turut mengambil peran penting dalam ‘MANGIR’. Ditengah kesibukannya sebagai wakil walikota Tegal mba Iin menyematkan diri berlatih untuk memerankan sebagai kanjeng Ratu Mas, istri Senopati, yang nantinya akan beradu akting dengan Rofi yang memerankan Senopati.

Naskah ‘MANGIR’ mengisahkan tentang masa kejayaan Kerajaan Mataram yang dihadapkan pada eksistensi ‘Pardikan Mangir’, sebuah wilayah otonom yang telah lama berdiri di bawah kepemimpinan Wonoboyo. Dilandasi keinginan Senopati untuk menegakkan kesatuan absolut dalam negaranya – di mana ia berprinsip “tidak ada dua matahari dalam satu negeri”-terjadilah konflik perebutan kekuasaan yang pelik. Untuk melenyapkan pengaruh Mangir, Senopati merancang siasat licik. Ia mengorbankan Pembayun (diperankan Ida Fitri) yang dikawal Mbok Kertosari, membiarkannya menyamar sebagai penari Tayub untuk menyusup dan menjebak Ki Ageng Wonoboyo. Jebakan ini berujung pada kehamilan Pembayun, yang kemudian digunakan sebagai dalih bagi Wonoboyo untuk datang ke Mataram menghadap Senopati. Namun, di depan Senopati, sebuah tragedi terjadi. Saat Wonoboyo bersujud, kepalanya dihantam batu dan tewas seketika.
Kisah ‘Mangir’ ini sendiri kaya akan makna, merujuk pada interpretasi Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya. Dalam versi Pramoedya, “kematian Mangir” bukan hanya merujuk pada Ki Ageng Mangir (Wanabaya), tetapi juga melambangkan kehancuran politik dan simbolik ‘Pardikan Mangir’ sebagai daerah yang menolak tunduk pada Mataram. Kematian Ki Ageng Mangir di istana digambarkan bukan sebagai penghormatan atas status menantunya, melainkan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Momen saat Wanabaya bersujud di hadapan Panembahan Senopati, lalu kepalanya dihantam batu hingga tewas, diinterpretasikan sebagai pengkhianatan keluarga dan sebuah perangkap brutal. Semua ini diawali dengan ketegangan yang memuncak dalam peperangan antara pendukung Mataram dan pendukung Wonoboyo.

Pementasan ini semakin memukau dengan sajian tarian yang digarap koreografer kondang Asri dan Wahyu Ranggati, yang akan menjadi bumbu penyedap artistik di bawah arahan Sutradara Yono Daryono dan Astrada Marjo Sulam. Lebih dari itu, sentuhan artistik dan kostum yang dipercayakan kepada Wowok Legowo tidak tampil vulgar, melainkan mengedepankan nuansa kebhinekaan yang kaya. (Biet)
