SEMARANG (inspirasiline.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menyoroti masih tingginya angka pengangguran di Jawa Tengah yang dinilai menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Jawa Tengah pada Agustus 2025 tercatat mencapai 1,04 juta orang. Angka tersebut hanya mengalami penurunan tipis sekitar 7.000 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Ini menunjukkan bahwa persoalan pengangguran belum tertangani secara optimal. Penurunan yang sangat kecil ini harus menjadi perhatian bersama,” ujar Saleh.
Ia menilai, tingginya angka pengangguran tidak semata-mata disebabkan oleh minimnya lapangan kerja, melainkan juga adanya ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri atau mismatch.
“Banyak lulusan yang belum siap masuk ke dunia kerja karena keterampilannya belum sesuai dengan kebutuhan industri,” jelasnya.
Menurut Saleh, kondisi tersebut perlu direspons melalui penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang lebih terarah. Ia menekankan pentingnya menyelaraskan program pelatihan dengan kebutuhan riil dunia usaha agar lulusan memiliki kompetensi yang siap pakai.
Selain itu, ia mendorong kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan dalam menyusun kurikulum berbasis kebutuhan industri.
“Lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi juga harus dibekali keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja,” tegasnya.
Saleh juga menyoroti pentingnya penguatan program penempatan tenaga kerja serta peningkatan akses informasi lowongan pekerjaan bagi masyarakat.
Dengan langkah yang komprehensif dan terkoordinasi, ia berharap angka pengangguran di Jawa Tengah dapat ditekan secara signifikan ke depan.
“Kita perlu solusi yang berkelanjutan agar persoalan pengangguran ini benar-benar bisa teratasi,” pungkasnya. (*)
