Tragedi Bale Sigala-gala

NEWS

Wonogiri-Inspirasiline.com. Bale Sigala-gala adalah tempat Peristirahatan yang dibangun semi permanen, di daerah pegunungan yang jauh dari keraton, yakni di daerah Waranawata. Mungkin sejenis dengan pasanggrahan, atau vila yang dikenal masyarakat masa kini.

Suatu saat Dewi Kunti dan kelima anaknya terjebak bujukan para Kurawa untuk pergi menginap di Bale Sigala – gala. Tempat peristirahatan tersebut dirancang oleh arsitek Astina bernama Purucona, atas petunjuk Patih Sengkuni. Dinding Pesanggrahan itu terbuat dari bahan yang gampang terbakar.

Raden Bima,(Brotoseno) panenggak Pandawa.

Dinding Sigala-gala diberi getah damar dan tiang-tiangnya diisi dengan sendawa

sejenis bahan mesiu.

Atas tipu muslihat dan hasutan Patih Sengkuni, para Kurawa membakar Bale Sigala-gala dengan maksud para Pandawa dan ibunya agar mati.

Namun rencana jahat tersebut diketahui oleh Yamawidura, Paman para Pendawa dan Astina ini diam-diam memberitahukan kepada Bima perihal bahaya yang mengancam, bahwa Bale Sigala – gala akan dibakar.

Bale Sigala-gala terbakar hebat. Kobaran api mengarah segala penjuru. Sesudah api padam para Kurawa mengira Pandawa dan Dewi Kunti benar-benar telah mati terpanggang. Apalagi kemudian mereka menemukan enam sosok mayat, yaitu satu di antaranya mayat seorang perempuan, teronggok hangus di antara puing-puing dan abu.  Sebenarnya enam sosok mayat yang mereka temukan adalah mayat lima orang brahmana dan seorang brahmani yang kebetulan malam itu ikut menumpang tidur, menginap di Bale Sigala-gala. Ketika api mulai mengamuk, Pandawa dan Dewi Kunti tidak sempat mengajak mereka meloloskan diri.

Patih Sengkuni

Dengan pemberitahuan Yamawidura ini para Pandawa dan ibunya lolos dari kobaran api. Dalam cerita ini, lolosnya para Pandawa dari amukan api ada beberapa versi.

Salah satu versi yang lazim dalam pewayangan, khususnya wayang purwa, menyebutkan bahwa lolosnya Pandawa dan Kunti dari rencana pembunuhan itu adalah berkat pertolongan seekor garangan putih. Sesaat sebelum Kurawa membakar Bale Sigala-gala  Batara Narada turun dari kahyangan dan menjumpai Bima. Dewa berwajah lucu ini memperingatkan Bima, agar bilamana melihat ada api berkobar ia harus segera mengajak ibu sekalian saudaranya untuk mengikuti ke arah larinya seekor garangan putih. Binatang sejenis musang itu adalah penjelmaan Sang Hyang Antaboga.

Ketika api mulai mengamuk, Bima membimbing ibu dan saudara-saudaranya meloloskan diri dengan mengikuti seekor garangan putih memasuki sebuah liang.

Ternyata liang itu menuju ke Sapta Pratala, kahyangan yang terletak di dasar bumi, tempat Sang Hyang Antaboga. Di tempat ini Bima berkenalan dan kemudian nikah dengan Dewi Nagagini, anak Sang Hyang Antaboga.

Namun dari versi ini, ada yang pada menyebutkan bahwa yang menjelma menjadi garangan putih adalah Bambang Nagatatmala, putra Antaboga, atas perintah ayahnya untuk menyelamatkan Dewi Kunti dan para Pandawa.

Selain itu dalam kitab Mahabarata jelas disebutkan bahwa yang sesungguhnya membakar Bale Sigala-gala adalah justru Bima, bukan Puracona. Hal itu dilakukan Bima, untuk memanfaatkan kesempatan ketika Puracona sedang tertidur karena mabuk.

Sedangkan dalam pewayangan yang membakar bukan Bima, melainkan Kurawa.

Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia. (SK/19 ).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *