Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com
SEBANYAK 196 desa di Kabupaten Sragen sudah memiliki Posko Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19. Sukarelawan posko tersebut berasal dari rukun tetangga (RT) yang ada di lingkungan satu desa itu.
Posko dan sukarelawan itu tinggal diperkuat dalam pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro yang berlangsung (9-22/2/2021).
Sayang, sejumlah kepala desa (kades) belum memahami Instruksi Bupati Sragen No.360/063/038/2021 tentang PPKM Berskala Mikro.
Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Sragen menunggu Instruksi Bupati (Inbup) sebagai tindak lanjut sosialisasi ke desa-desa, karena kebijakan PPKM Mikro tersebut mendadak ada pemerintah dari pusat.
Kepala Desa (Kades) Plupuh, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Setu Startyanto, mengaku belum paham terkait dengan implementasi PPKM Mikro tersebut di tingkat desa.
“Sementara saya memahami poin 13, huruf zona hijau dapat melaksanakan hajatan dengan melakukan pembatasan maksimal 75 persen dari kapasitas tempat. Penyajian makanan menggunakan drive thru, tamu banyu mili. Pembatasan waktu maksimal 1,5 jam. Tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes), dilaksanakan siang hari, dan hiburan disesuaikan,” ungkapnya kepada inspirasiline.com di Posko Covid-19 Desa Plupuh, Rabu (10/2/2021).
Setu mengatakan, penanganan Covid-19 di Plupuh dilakukan dengan mengoptimalkan Satgas Jogo Tonggo, yang anggotanya terdiri semua ketua RT di Desa Plupuh dan perangkat Desa Plupuh, dan sukarelawan selalu memberi laporan ke pemerintah desa ketika ada temuan kasus.
“Peran ketua RT cukup vital. Mereka aktif melaporkan kepada koordinator satgas, kepala desa, atau petugas kesehatan (bidan desa) kalau ada kejadian khusus. Satgas Jogo Tonggo juga berkoordinasi dengan pegawai di Kecamatan Plupuh dan Polsek Plupuh,” terangnya.
Bahkan, menurut Setu, pegawai Puskesmas Plupuh sekali tempo melakukan sidak ke wilayah untuk mengedukasi masyarakat agar taat protokol kesehatan. Koordinasi dilakukan lewat Whatsapp Group. Hasil pengawasan dan pemantauan di wilayah masing-masing disampaikan lewat Whastapp Group itu.
“Satgas, dalam hal ini RT langsung berkoordinasi dengan puskesmas, dan kalau ada yang positif langsung dikarantina di Technopark. Lingkungan rumah warga yang terkonfirmasi disemprot menggunakan disinfektan,” ujarnya.
Terpisah, Kades Pungsari Joko Sarono menjelaskan, satgas di tingkat desa itu sebenarnya sudah sejak lama ada sukarelawan yang memantau lingkungan masing-masing.
“Setiap desa ada 3-4 orang sukarelawan satgas. Tugas mereka memantau warga yang isolasi mandiri, sosialisasi protokol kesehatan, kemudian menerapkan prokes ketat saat hajatan warga, dan seterusnya,” katanya.***

After most mobile phones are turned off, the restriction on incorrect password input will be lifted. At this time, you can enter the system through fingerprint, facial recognition, etc.