Garda Relawan Magelang Ikuti Pendadaran di Gunung Butak

NEWS

Penulis: Budhy HP | EDITOR: Dwi NR
TEMANGGUNG | inspirasiline.com

GARDA Relawan Indonesia Kota Magelang kembali menggelar kegiatan pendadaran anggota barunya dengan melakukan pendakian Gunung Butak di Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

SUASANA sangat kompak penuh persahabatan saat persiapan pendakian Gunung Butak.

Pendadaran bagi 62 orang anggota baru tersebut dilakukan dalam upacara pengukuhan Garda Relawan Indonesia di dekat Monumen Basarnas Gunung Butak, Minggu (28/3/2021).

Sudah menjadi tradisi Garda Relawan Indonesia Kota Magelang, setiap penerimaan anggota baru pasti akan dilakukan pendadaran dan pengukuhan di Gunung Butak. Seperti tahun ini, sejumlah 62 orang dikukuhkan menjadi anggota Garda Relawan Indonesia Kota Magelang, pendadaran dilakukan dengan napak tilas serta tabur bunga di tempat jatuhnya pesawat Basarnas Jawa Tengah, di Gunung Butak.

MONUMEN Basarnas Semarang, tempat jatuhnya pesawat Basarnas Jateng di Gunung Butak, Desa Canggal, Temanggung.

Ketua Garda Relawan Indonesia Kota Magelang Hery Prastowo mengatakan, Garda Relawan Indonesia Kota Magelang terbentuk pada 2014. Kegiatannya di bidang sosial kemanusiaan, yaitu bidang penanggulangan bencana, rescue, dan bantuan pascabencana.

“Pada tahun 2021 sudah diperbarui dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia tentang Pendirian Badan Hukum Organisasi Relawan Indonesia Kota Magelang,” tandas Hery.

Sesuai ketentuan Garda Relawan Indonesia Kota Magelang, setiap anggota baru wajib untuk mengikuti pengukuhan dan pendadaran. Untuk pendadaran kali ketiga ini dilakukan di monumen bersejarah di Gunung Butak di Desa Canggal, yaitu tempat jatuhnya helikopter Basarnas Jawa Tengah, beberapa tahun lalu, yang mengakibatkan empat anggota TNI dan empat anggota Basarnas Semarang meninggal.

“Pendakian Gunung Butak sampai ke titik monumen bersejarah ini akan melalui 8 posko pendadaran. Tujuannya adalah untuk mengenang jasa pahlawan kemanusiaan yang meninggal dunia dalam tugas Basarnas, dengan cara memanjatkan doa dan tabur bunga di sana,” terang Hery.

Hadir dalam pengukuhan, Ketua DPP Garda Indonesia Yustina, Ketua Dewan Kehormatan Sumarno, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang, Kades Canggal, Pengurus Harian Garda Relawan Indonesia, dan Tagana Kabupaten Temanggung.

189 Anggota

Dengan adanya pengukuhan dan pendadaran anggota baru berjumlah 62 orang tersebut, maka jumlah seluruh anggota Garda Relawan Kota Magelang kini mencapai 189 orang, yang terdiri atas Garda Relawan Indonesia Induk Kota Magelang sebanyak 115 orang, SRU Kecamatan Pakis 59 orang, dan SRU Kabupaten Temanggung 15 orang.

KEAKRABAN seluruh jajaran Garda Relawan Kota Magelang di kaki Gunung Butak.

Sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berbagai kegiatan kemanusiaan, maka dari tahun ke tahun jumlah Relawan Indonesia selalu bertambah secara signifikan.

Sementara di tempat yang sama, Ketua Dewan Pengawas Pusat Yustina  memberikan apresiasi kepada seluruh relawan yang selalu siap berjuang tanpa pamrih, berjuang secara sukarela di medan berat maupun ringan, serta rela mengesampingkan kepentingan pribadi dan keluarganya pada saat bertugas.

Anggota Garda Relawan Indonesia Kota Magelang semakin berkembang jumlah keanggotaannya, bukan hanya dari wilayah Kota Magelang saja, tapi juga dari wilayah luar Kota Magelang seperti Temanggung dan Wonosobo.

“Kegiatan pendadaran dan naik Gunung Butak di Desa Canggal merupakan awal dari kegiatan dan masih akan dilakukan pembaretan pada malam hari di puncak Gunung Tidar, Kota Magelang. Semua ini sudah menjadi tradisi pengangkatan dan pengukuhan anggota baru Garda Relawan,” tandas Yustina.

Ketua Dewan Kehormatan Garda Relawan Indonesia (GRI) Kota Magelang Sumarno yang ikut naik ke Gunung Butak mengatakan, dibutuhkan fisik yang prima untuk menuju puncak Gunung Butak, karena perjalanan dua jam baru sampai puncak.

“Tantangannya berat, harus melewati jalan setapak yang licin dan sangat ekstrem, karena jalan yang berliku-liku, sepanjang jalan setapak merupakan tebing sangat curam, kabut asap, dan jarak pandang hanya 50 meter. Meski demikian, mereka tetap tangguh dan semangat,” papar Sumarno.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *