Kodim 0725/Sragen Bagikan Sembako PKL-Tukang Becak Sragen Kota

NEWS

Penulis: Sugimin | Editor: Dwi NR
SRAGEN | inspirasiline.com

PEDAGANG kakilima (PKL) dan tukang becak di Sragen Kota dapat bantuan sembako dari Kodim 0725/Sragen.

Staf Penerangan Kodim 0725/Sragen Sertu Mahmud Y mengatakan, bantuan sembako secara simbolis diserahkan Dandim 0725/Sragen Letkol (Inf) Anggoro Heri Pratikno kepada Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati di Pendopo Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Sragen, Rabu (28/7/2021).

Sertu Mahmud Y menjelaskan, bantuan sembako kepada PKL dan tukang becak tersebut merupakan kerja sama Kodim 0725/Sragen dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen, dikemas dalam bakti sosial pembagian 1.972 paket sembako.

“Isinya 5 kg beras, mi instan, susu, minyak goreng, dan sarden,” ujar Sertu Mahmud Y kepada inspirasiline.com di sela pembagian sembako di Rumdin Bupati Sragen, Rabu (28/7/2021).

Sertu Mahmud Y menjelaskan, sasaran bakti sosial ini adalah para PKL dan tukang becak di Sragen Kota. Kodim menyiapkan 9,86 ton beras dan Pemkab Sragen menyiapkan sembako tambahannya.

Dandim 0725/Sragen Letkol (Inf) Anggoro Heri Pratikno mengatakan, Kodim 0725/Sragen bekerja sama dengan Pemkab Sragen, hari ini memberikan bantuan sembako kepada PKL dan pengemudi becak. Selain pembagian di Pendopo Rumah Dinas Bupati sebanyak 1.622 paket, juga dilaksanakan di kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen sebanyak 350 paket sembako untuk tukang becak motor dan becak kayuh, sehingga total pembagian sebanyak 1.972 paket sembako.

“Total seluruhnya nanti kami akan membagikan 8.000 paket, terbagi di seluruh kecamatan di Sragen, dengan sasaran warga kurang mampu yang terdampak pandemi Covid-19. Kami selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah, terutama Dinas Sosial terkait data penerima, supaya tidak ada dualisme bantuan dengan program pemerintah lainnya,” terang Dandim Anggoro Heri Pratikno.

Salah satu penerima bantuan, Rosi Pratiwi, penjual martabak warga Mageru, RT 02/03 mengaku terbantu dengan adanya bantuan sembako.

“Selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, saya tidak berani berjualan. Jualan pun sepi pembeli, sehingga biasanya hanya pasrah menunggu bantuan,” tutur Rosi Pratimi setengah malu-malu.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *