Penulis: Yokanan | Editor: Dwi NR
BLORA | inspirasiline.com
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Blora mengingatkan kepada semua warga masyarakat supaya tetap mamatuhi protokol kesehatan (prokes), meski kasus positif Covid-19 di Kabupaten Blora menurun.
Berdasarkan Monitoring Data Covid-19, Minggu (22/8/2021), kasus positif Covid-19 sebanyak 12.904 dan kasus sembuh 11.817.
Kemudian, Covid-19 positif dirawat di rumah sakit 12 orang, sedangkan isolasi mandiri 112 orang.
Sepanjang pandemi Covid-19 hingga kini, tercatat orang yang meninggal dunia sebanyak 965 orang. Pemeriksaan swab sebanyak 49.665 orang.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Edi Widayat mengingatkan agar warga masyarakat tidak mengabaikan prokes.
Meski sudah beranjak ke zona oranye (risiko sedang) dari sebelumnya zona merah (risiko tinggi), semua warga masyarakat supaya tetap mamatuhi prokes, untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.
“Jangan abaikan prokes, tetap 5M. Bagi yang belum mengikuti vaksinasi, segera saja,” kata Edi Widayat, Minggu (22/8/2021).
Berkaitan dengan vaksinasi, pihaknya mengajak kepada para remaja dan anak-anak supaya tidak takut divaksin.
“Namun bagi yang sudah dua kali divaksin, tetap harus mematuhi protokol kesehatan,” tuturnya.
Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab bersama semua elemen masyarakat dalam mengendalikan penyebaran Covid-19 di Blora.
Sebelumnya, Bupati Blora Arief Rohman sempat merasa kecewa dengan keputusan pemerintah pusat yang menetapkan daerahnya masuk kategori PPKM Level 4.
Pihaknya kemudian melakukan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan terkait adanya keterlambatan data yang terjadi di tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat.
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan juga Dinas Kesehatan provinsi.
“Bahwa kita di Blora ini ada delay data, yang mana antara data kabupaten, provinsi dengan pusat ini terjadi perbedaan,” ucap Arief, baru-baru ini.
Arief mengaku telah diminta oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, agar perbedaan data yang terjadi untuk segera disamakan.
Selain itu, Arief mengungkapkan, sudah melakukan protes ke kementerian terkait penetapan status tersebut.
Sementara kondisi Blora sudah normal, mulai dari hunian rumah sakit, IGD-nya juga sudah tidak ada, angka kematian juga sudah di bawah 5.
“Antara kenyataan lapangan dengan kesalahan data ini bisa disinkronkan,” terangnya.
Bupati Arief Rohman mengatakan, perbedaan data yang terjadi antara kabupaten, provinsi, dan pusat tidak hanya dirasakan di Blora saja. Tapi juga terjadi di sejumlah wilayah lain.
Menurutnya, ada beberapa kabupaten di Jawa Tengah yang mengalami hal seperti ini, tidak hanya Blora.
“Daerah-daerah yang lain juga banyak yang mengeluh juga, sudah angkanya turun, tapi levelnya masih tinggi,” ucapnya.***
