Sragen-Inspirasiline.com. Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan, perbedaan pendapat tentang wacana sterelisasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Sekolahan sebagai upaya preventif penularan hepatitis akut misterius itu wajar.
”Semua usaha pasti ada akibatnya. Ini untuk melindungi anak-anak,” Ungkap Yuni sapaan akrab Bupati Sragen saat dihubungi Inspirasiline.com Sabtu (14/5/2022)
Tapi tidak menutup kemungkinan PKL mendapatkan pembinaan agar menyajikan menu yang bersih dan sehat. Ketika hal tersebut dapat dipenuhi, maka mereka tetap bisa berjualan di sekitar sekolahan.
”Kadang minyak goreng digunakan berkali-kali. Terus pentol itu berapa perbandingan komposisi dengan dagingnya. Maksud saya itu jual makanan yang sehat, bersih mulai dari bahan dan cara menghidangkan,” Ungkapnya menjelaskan
Penilaian Bupati Sragen itu dikemukakan karena ada respons dari unsur pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sragen.
Wakil Ketua DPRD Sragen Aris Surawan menilai kebijakan itu tidak bijak dan berpotensi menimbulkan masalah baru.
Aris Surawan menegaskan, kebijakan yang diambil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harus bisa mengurai dan menyelesaikan masalah. Bukan malah menimbulkan masalah baru.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan, langkah preventif pencegahan hepatitis akut misterius jangan sampai mematikan usaha atau mengurangi pendapatan pedagang.
“Dalam posisi sulit seperti ini tentu menjadi permasalahan tersendiri,” Ungkap Aris Surawan kepada Inspirasiline.com melalui phoneselnya Sabtu (14/5/2022).
“Lalu kebijakan apa yang seharusnya dipilih pemkab Sragen ?” Tanya Inspirasiline.com, Aris Surawan menjawab, Pemkab dapat membina pedagang di sekolah dengan melibatkan Dinas Kesehatan maupun Puskesmas. Tujuannya kata Aris Surawan menyajikan makanan dan minuman yang higienis. Dibarengi perilaku hidup bersih dan sehat seluruh penghuni sekolah. (Sugimin,/17)
