Bau Sampah Berubah Rupiah

NEWS

Wonogiri-Inspirasiline.com. Sampah, sekali lagi sampah. Di benak orang, kata sampah terkesan menjijikkan, kumuh, berbau, suker, dan memuakkan. Namun, di balik itu semua,  sampah di tangan para pengais, pemulung,  merupakan lahan rezeki, dan ladang rupiah.

Kecamatan Baturetno, merupakan kota kedua setelah Kota Wonogiri. Kecamatan tersebut terbilang kota tak pernah tidur, tak pernah sepi jajanan, dan kendaraan. Lalu lintas tergolong gampang. Kota Baturetno menghubungkan  Kabupaten Pacitan Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarya, dan Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah.

Semula tumpukan sampah, kini berubah menjadi jalan.

Kecamatan Baturetno tergolong padat penduduk, kota dagang, utamanya hasil bumi,  kota sate, memiliki dua pasar, yaitu ” Pasar Sukarno I, II.”  Situasi tersebut,membuat Kota Baturetno memiliki  sampah dalam jumlah besar. Menurut penjelasan petugas  pembersih sampah, satu hari rata rata mengumpulkan, dan membuang sampah 3 truk.

Sampah tersebut dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) di Desa Temon, Kec. Baturetno, dengan area seluas lebih kurang satu hektar. Untuk menjaga kebersihan kota Baturetno, saban hari mulai pukul 6.00 armada dari Dinas Pekerjaan Umum ( DPU ) dengan 5 tenaga membersihkan sampah pada penampungan sementara, selanjutnya dibuang ke TPA.

Di tempat itulah aneka ragam jenis sampah dibuang, akhirnya oleh para pemulung sampah tersebut dipilih  dan dipilah menurut jenisnya. Selebihnya sampah dikumpulkan dan dibakar. Menurut keterang para pemulung, sampah tersebut dalam satu tahun dipadatkan,  digilas dengan stum, selanjutnya dicor semen, dibuat jalan kendaran sampah.

Pemulung mengumpulkan sampah siap jual.

Menurut keterangan para pemulung kepada inspirasiline.com. mereka berasal dari Giritontro, Batuwarno, Baturetno  dan  Karangtengah. Para pemulung rata- rata telah menekuni pekerjaan tersebut lebih dari 10 tahun, bahkan 15 tahun.

Ketika awak media menggali informasi kepada salah satu penduduk setempat, ia menjelaskan, sampah tersebut tidak menimbulkan dampak negatif terhadap warga setempat. ” Menawi wanci ketiga utawi terang, gondo sampah  mboten mambu Pak, menawi wanci rendheng ( penghujan ) wah….mambu. Kula nyuwun supados sampah mboten diguwang wonten margi, lan ampun enten kiriman sampah saking daerah sanes ( lintas kecamatan ) ” ujarnya dengan bahasa jawa medhok.

Pada mulanya sampah tersebut ditangani DPU, saat ini  pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab …. .

Ketika inspirasiline.com menyambangi area TPA tersebut, terlihat nyala api membakar sampah, dibarengi kepulan asap pekat, serta kegiatan para pengais sampah sibuk melakukan aktifitas.

Sayang, sampah yang menggunung hanya dibakar  begitu saja, belum diolah atau  difungsikan menjadi biogas, hal tersebut karena belum adanya alat yang memadahi, serta para pintar pada bidang persampahan.

Bagi para pemulung, bau sampah bukan rintangan, karena sudah terbiasa. Mas….mengaku, dalam satu bulan rata- rata bisa mengantongi 2 juta sampai 2,5  juta per- orang. ” Mas, bagi kami tak ada pekerjaan hina, yang penting halal, ‘ bisa karena biasa’  bau sampah kami ubah bersama teman- teman menjadi rupiah ” tukasnya. ( Sukamto/19 )

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *