Grobogan-Inspirasiline.com. Dalam rangka memperingati wafatnya / haul Bapak Pluralisme Indonesia, KH.Abdurrahman Wahid ( Gus Dur) yang ke-13, kaum Gusdurian Kab. Grobogan menggelar acara orasi kebangsaan dan talkshow, yang berlangsung di Balai Desa Cingkrong Kec. Purwodadi Kab. Grobogan Jawa Tengah pada Jumat siang (30/12/22).
Kegiatan bertajuk “Merajut Persaudaran, Merangkul Perbedaan” berlangsung hanya sehari itu menampilkan beberapa tokoh religius Kab. Grobogan yakni Gus Aqib AH (Pengasuh PP Nurul Hidayah), Romo Emmanuel Nuwa MSF ( Pastor Gereja Katolik Purwodadi Grobogan), Pdt. Rita Dwi Lestari ( Pendeta Gereja Kristen Indonesia Purwodadi) dan KH. A. Wan Fadhil Ba’alawy ( Ketua PC NU Grobogan).

Koordinator Gusdurian Grobogan, Umar Haji Massa’id kepada Inspirasiline.com menjelaskan kegiatan ini memang sudah digagas sebelumnya, kegiatan apa yang pas dalam rangka memperingati wafatnya Gus Dur. Mengingat masih adanya pandemi Covid-19 sejak 2 tahun lalu dan baru bisa sekarang ini dilaksanakan.
Umar menyebut perbedaan dan keberagaman etnis, budaya agama dan suku di Indonesia bukan halangan untuk kemajuan bangsa, justru dengan perbedaan dan keberagaman tersebut Indonesia menjadi bangsa yang kuat. Kelompok Gusdurian juga ingin memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dengan mempertahankan keberagaman ( pluraliame kebangsaan), kata Umar, didampingi Ketua Penyelenggara Ahmad Susilo.


Hadir pada acara tersebut Wakil Bupati Grobogan dr. Bambang Pujiyanto, MKes, tokoh FKUB Grobogan, Ketua PC NU Grobogan, Koordinator Gusdurian Grobogan Umar Haji Massa’id, Kades Cingkrong Jasmi.
Dalam acara talkshow yang dipandu oleh Alfiana Khanafia seorang anggota Gusdurian Grobogan tersebut berlangsung meriah. Pembicara KH. Aqib AH menyebut Gus Dur sosok yang menginspirasi bangsa, beliau telah sekesai debgan dirinya sendiri. Ia juga menceriterakan saat Gus Dur menjalani studi di Timur Tengah. Gus Dur, lanjut Aqib, mendapat gelar sebagai bapak demokrasi, guru bangsa, dan bapak pluralisme, karena saat menjadi Presiden RI beliau mengeluarkan kebijakan bahwa Konghucu merupakan agama resmi di Indonesia.
“Gus Dur telah memberikan keteladanan dalam kehidupan bertoleransi dan berperilaku kebinekaan” ujar Aqib pengasuh pondok pesantren Nurul Hidayah.
Kata Aqib, siapapun presidennya, asal menerima kebinekaan tidak menjadikan masalah. Oleh karena itu, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 merupakan 4 dasar bernegara menjadi sebuah kesepakatan bangsa.
Sementara itu, Pendeta Rita GKI Purwodadi menyebut Gus Dur adalah guru perdamaian. Guru dalam kehidupan yang mewariskan nilai-nilai yang sangat perlu diajarkan dan Gus Dur telah melakukannya.
Usai talkshow yang berlangsung sekitar 1,5 jam tersebut, acara ditutup dengan gelar seni dan budaya diantaranya, pembacaan puisi, cankringan dan seni pencak silat. (jkwi)
