Oleh Muslihatun, S.Pd
Dari sumber : http://www.kompas.id/opini/2021/09/16/membangun-budaya-literasi, di dapat informasi bahwa banyaknya penduduk yang telah melek huruf, lebih dari 90 persen, belum mendorong budaya literasi di masyarakat. Perlu peran serta semua pihak unutk membangun budaya literasi di masyarkat. Tingkat literasi masyarakat akan menentukan tingkat kemajuan bangsa. Survei oleh Central State University, Amerika Serikat pada 2016 menunjukkan negara- negara dengan tingkat literasi tinggi merupakan negara – negara maju.
Dalam survey tersebut, Indonesia meski lebih dari 98 persen telah melek huruf, merupakan negara dengan tongkat literasi terendah kedua di dunia dari 61 negara yang terukur. Posisi Indonesia hanya sedikit lebih tinggi dari Bostwana, sebuah negara pedalaman di Afrika Selatan. Riset Kemendikbud ( kini Kemendikbudristek) di 34 provinsi pada 2019 pun menunjukkan, aktifitas literasi baca-tulis masyarakat masih rendah. Demikian pula data Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa – Bangsa (UNESCO) pada 2012, skor minat baca di Indonesia hanya 0,001 atau dari 1.000 penduduk hanya satu orang yang memiliki minat baca tinggi.
Hasilnya, seperti tergambar pada hasil test PISA pada 2018, sekitar 70 persen siswa Indonesia belum menguasai kemampuan membaca level dua atau masih berada di bawah kompetensi minimum. Siswa Indonesia memang bagus dalam memmahami teks tunggal (single text), tetapi lemah untuk memahami banyak teks ( multiple text). Bahkan skor kemampuan membaca pada siswa Indonesia tersebut setara dengan capaian tahun 2000. Ini juga merupakan daya saing siswa Indonesia rendah karena kemampuan literasi membaca terkait dengan kemampuan memahami teks bacaan dengan analisis, kritis, dan reflektif yang sangat menetukan untuk berkompetisi dalam persaingan global.
Berbagai kegiatan literasi digalakkan sejak penerapan tahun terakhir, baik oleh masyarakat maupun melalui Lembaga Pendidikan, belum membuahkan hasil yang baik. Keberadaan rumah – rumah baca di berbagai daerah, perpustakaan keliling, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sejak 2015, hingga gerkan nasional orangtua untuk membacakan buku bagi anak-anaknya (Germas Buku) mulai 2018 belum mampu membentuk budaya literasi. ( Penulis Muslihatun, S.Pd adalah Kepala Sekolah SDIT Mutiara Insan, Gabahan RT. 3 RW. 12, Jombor, Bendosari Kab. Sukoharjo)

generic amoxil 500 mg: amoxicillin – amoxicillin no prescipion
amoxicillin 50 mg tablets