Wonogiri-Inspirasiline.com.com. Makanan tahu, merupakan makanan yang digemari oleh siapa pun, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, lansia, tanpa pandang golongan, jabatan, rata-rata orang menyukai makanan tersebut.Tahu sangat mudah dimasak, dan dibentuk aneka ragam jenis makanan.
Subodo – Sumi, penduduk Dusun Jati, Desa Saradan Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, membuka usaha pabrik tahu.

Ia membuka usaha tersebut sejak tahun 1980. Ketika masih lajang Subodo membatu usaha keluarganya membuat tahu di Desa Boto, Baturetno.
Setelah dewasa, Subodo menikah dengan Marni, penduduk Dusun Jati, Saradan, Baturetno.
Sejak itu Subodo meneruskan usaha keluarganya, membuka pabrik tahu kecil- kecilan di Dusun Jati, Saradan bersama.
isterinya, diberi nama ” Pabrik Tahu Subodo ” akhirnya dikenal dengan nama ” Tahu Jati “, berkaitan dengan nama dusunnya.
Setiap hari ia dibantu isterinya. Hari biasa, mampu menggiling 10 kg kedelai. Bulan baik, menjelang lebaran, mampu menggiling 20-50 kg per- hari.
Tahu tersebut, dijual dengan harga Rp.400 per- biji.
Kedelai merupakan bahan baku membuat tahu, dibeli di toko Hadi, Baturetno, dengan harga Rp 11.000 – Rp 14.000 ( lihat situasi ), sedangkan minyak goreng dibeli di pasar Sukarno Baturetno, dengan harga Rp 16.000 per- kg.
Semula Subodo menggunakan alat giling tahu tradisional, dibuat dari 2 batu hitam besar, satang pemutar dari kayu, diputar secara bergantian.
Seiring perkembangan zaman, kini Subodo telah menggunakan mesin giling, dan alat lain, peperti penampungan air, wajan, tepak, alat penggarit, papan penyimpan ( rak tahu ) yang dibilang modern.
Menurut Subodo, perangkat alat – alat penggilingan, rumah penggilingan didapat dari temannya yang bekerja di Jakarta, sekitar tahun 2016, senilai seratus juta rupiah. ( Enggan menyebut nama pemberi).
Sampai saat ini untuk menggodog kedelai, menggoreng tahu, Sobodo masih menggunakan kayu bakar, dan merang.
Kini alat pengiling tahu tradisional, tidak lagi digunakan. Sepasang batu penggilas kedelai dipajang di samping pabrik, sebagai hiasan sekaligus kenangan.
Dari hasil kerja tersebut, dalam satu bulan, Subodo dapat meraup keuntungan bersih, kurang lebih Rp.1.200 000, dengan perhitungan per- hari ia menggiling 10 kg kedelai.
Tahu Jati, dipasarkan kepada masyarakat lingkungan, pengedar sayur bronjongan, selebihnya dijual di pasar Sukarno Baturetno. Tahu Jati produk Subodo banyak diminati pembeli.
Kecuali keuntungan dari jual tahu, ia juga mendapat hasil dari ampas tahu, dijual untuk pakan ternak, dan tempe ampas.
” Mas, usaha giling tahu kecil- kecilan ini ternyata sebagian hasilnya dapat untuk menguliahkan kedua anak saya, ( UNIVET BANGUN NUSANTARA, Sukoharjo, dan salah satu perguruan tinggi di Cengkareng, Jakarta), juga untuk rukun ‘ jagong tetangga ‘ , jelas Subodo kepada inspirasiline.com.
Subodo – Marni, tergolong lansia. Namun, tetap masih semangat dalam usaha. Kecuali membuat tahu, juga mengembangkan ternak sapi ( memanfaatkan ampas tahu ), bertani, dan membuka warung kelontong dirumahnya. (Sk/19)
