Sragen-Inspirasiline.com. Permasalahan Penurunan Stunting masih menjadi Tantangan Pemerintah Khususnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen. Karena Angka Prevalensi Stunting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional sebesar 14% di Tahun 2024.
Menurut data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 bahwa Angka Stunting di Kabupaten Sragen Meningkat dari 18,8% di Tahun 2021 menjadi 24,3% di Tahun 2022 (Naik 5,5%). Sementara Angka Stunting Nasional Turun dari 24,4% menjadi 21,6% (Turun 2,8%) dan Jawa Tengah dari 20,9% menjadi 20% (Turun 0,1%). Sehingga Angka Stunting di Kabupaten Sragen jauh diatas Angka Stunting Nasional dan Jawa Tengah.
Untuk menyikapi permasalahan tersebut Pemerintah Kabupaten Sragen melakukan Percepatan Penurunan Stunting salah satunya dengan mengadakan kegiatan Rembug Stunting yang dilakukan oleh Tim Perepatan Penurunan Stunting (TPPS).
Kegiatan Rembug Stunting dilaksanakan di Ruang Sukowati Komplek Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Rabu (12/7/2023) dihadiri oleh Wakil Bupati Sragen H. Suroto selaku Ketua TPPS Kabupaten Sragen dan Tim Perepatan Penurunan Stunting (TPPS) Desa, Kecamatan dan Kabupaten yang Bertujuan Mengkoordinasi, Konsolidasi semua Stakeholders dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting agar mencapai Target Nasional.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempauan dan Perlindungan Anak (PPKBPPPA) Kabupaten Sragen dr. Agus Sudarmanto M.Kes yang juga Menjadi Salah Satu Narasumber pada Kegiatan Rembug Stunting Mengatakan Selama ini Pendataan dan Pemeriksaan telah dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen secara Periodik dengan menggunakan sistem PLPG.
“Dengan Pendataan dan Pemeriksaan melalui Dinas Kesehatan, Angka Stunting di Kabupaten Sragen mengalami penurunan. Hal ini kita jadikan sebuah Parameter bahwa sebenarnya apa yang kita lakukan selama ini sudah On The Right Track. Hanya yang kita butuhkan adalah Penguatan sekaligus Penajaman.” Ungkap dr. Agus Sudarmanto
Menurutnya, yang perlu digaungkan adalah agar Masyarakat itu Paham bahwa Stunting merupakan sebuah masalah. Problema selama ini adalah Stunting itu hanya menjadi Permasalahan Pemerintah saja dan Masyarakat tidak menganggap Stunting sebagai sebuah masalah.
“Di Desa-Desa maupun di Rumah Tangga mereka menganggap bahwa Stunting itu bukanlah sebuah Penyakit yang tidak perlu diantisipasi dengan segera. Tidak seperti Orang Terindikasi TBC atau Penyakit Menular lainnya maka Penggerakan Masyarakat akan cepat sekali. Sehingga hal ini dianggap bukanlah suatu Penyakit.”Urainya.
Melalui Rembug Stunting, dr. Agus Sudarmanto mengatakan, pihaknya ingin menggali Strategi-Strategi yang dilakukan agar Keprihatinan Pemerintah bisa seimbang dengan Perhatian dan Concern Masyarakat.
“Sasaran yang paling Utama dan Concern yang kita lakukan dalam upaya Penurunan Stunting adalah Pencegahan karena Pencegahan itu penting. Kita Intervensi sejak Remaja Putri diberikan Tablet Tambah Darah (TTD), Pemberian Edukasi supaya tidak Nikah Muda, ada Program Jo Kawin Bocah, pola hidup sehat, Reproduksi yang Sehat dan Masih banyak lagi. Sehingga tidak menghasilkan Keturunan atau Generasi yang Stunting.” Ungkapnya.
dr. Agus Sudarmanto Mengungkapkan Permasalahan Stunting begitu Kompleks selain Masalah Kesehatan, ada Faktor lain yang mempengaruhi seperti masalah Ekonomi, Lingkungan, serta Kebijakan Perlindungan Terhadap Anak dan Pemberdayaan Perempuan.
“Untuk masalah Ekonomi dampaknya adalah Kurangnya Pemberian Asupan Protein Hewani. Dengan Perbaikan Kondisi Ekonomi, Pemahaman Pola Asuh diharapkan nanti Ekonomi dapat berkembang dan mendukung Pemberian Protein yang Cukup Kepada Remaja, Ibu Hamil dan juga Anak-Anak.” Jelasnya.
Wakil Bupati (Wabup) Sragen H. Suroto Mengapresiasi Tim Perepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang terus berkontribusi dalam Peningkatan Kesehatan Masyarakat Sragen dengan Berkomitmen Mendukung Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Kabupaten Sragen.
“Saat ini Sragen memiliki 52 Desa Lokus Stunting dan 20 Desa Lokus Stunting di Tahun 2024 sehingga Sragen Memiliki 72 Desa Lokus Stunting. Karena Kepala Desa (Kades) dan Lurah Menjadi Ujung Tobak Penanggung Jawab Kegiatan Lini di Lapanagan.” Ungkapnya.
Dikatakannya, Penurunan Stunting bisa Berjalan Sukses dengan Komitmen bersama, Kampanye dan Monitoring Program. Perlu Kerja Keras bersama dan sesuai harapan Presiden Joko Widodo yang telah menetapkan Angka Stunting Turun Menjadi 14% di Tahun 2024.
“Peranan Keluarga dalam Mendidik Anak Sangatlah Penting baik itu Anak Laki-Laki maupun Perempuan. Anak Perempuan akan Menjalani Siklus Reproduksi dan Masa Pubertas, Pernikahan dan Kehamilan. Perkawinan Dini dan Fertilitas pada Usia Remaja merupakan Resiko terhadap Kualitas Anak dikemudian hari.” Ungkapnya.
Diakhir Sambutannya Wabup H. Suroto berpesan TPPS yang sudah terbentuk Baik di Tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten untuk lebih dioptimalkan kembali. Upaya pencegahan Stunting pada Bayi dan Balita menjadi Tanggung Jawab bersama, tidak hanya Dinas PPKB PPPA dan Dinas Kesehatan namun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Tim Penggerak PKK, Organisasi Profesi, Swasta serta Peran Keluarga.
“Saya Menargetkan Minimal Tahun 2023 ini Angka Stunting Turun 5,5% sehingga bisa Kembali Keangka 18,8%. Tahun 2024 diharapkan Turun Minimal 5,5% lagi. Maka Angka Stunting Menjadi 13,3%. Artinya kita bisa Memenuhi Target Nasional dibawah Angka 14%.” Pungkasnya. (Sugimin/17-Release Diskominfo Sragen)
