Sukoharjo-Inspirasiline.com. Pranan Polokarto merupakan sentra penghasil jambu air artinya disetiap rumah warga di 16 RT di desa Pranan Polokarto pasti dipekarangannya masing-masing menanam jambu air, hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Pranan Sarjanto kepada wartawan pada Sabtu (29/7/2023) dilahan jambu miliknya.
Lebih lanjut Sanjanto menyampaikan bahwa warga kami di Pranan Polokarto ini rata-rata menggantungkan hidupnya dari buah-buahan, mereka kebanyakan bakul buah tergantung musimnya. Kalua pas musim jambu yo bakul jambu, musim mangga bakul mangga, musim kedondong bakul dodong dan lain sebagainya tergantung musimnya buah apa. Namun mereka tidak hanya bakul buah saja tetapi juga pengin menjadi petani buah, sehingga menanam jambu sendiri, dipetik sendiri, dijual sendiri rata-rata begitu.

“Desa Pranan merupakan sentra penghasil buah jambu air, dan warga Pranan mayoritas pedagang buah, ada juga pengepul, dan petani buah, ungkap Sarjanto”.
Jambu air milik Sarjanto yang juga Kepala desa Pranan ini ditanam di lahan kas desa sebanyak 20 batang, rata-rata perbatang bisa menghasilkan 1 kwintal jambu dengan 3x panen dalam setahun. Untuk per kg jambu ini harganya Rp. 10 000 metik sendiri dari pohonnya beda kalau sudah sampai pedagang dipinggir jalanan harganya sudah lebih dari Rp10 000/kg. Ditanya berapa lama menanam jambu sampai bisa berbuah, Sarjanto mengatakan minimal 3 tahun sudah mulai berbuah namun belum banyak, untuk yang sudah banyak buahnya ini sudah berumur 10 tahunan.
Selain bakul buah profesi warga Pranan ini juga jadi pengepul buah, penjualan jambu air ini sudah menyebar di Solo Raya, bahkan keluar kota seperti Jakarta, Bandung dan kota-kota besar lainnya, namun yang lebih menguntungkan justru mereka yang berjualan dipinggir-pinggir jalan itu. Pasalnya jambu air ini tidak tahan lama sehingga kalau kirim ketempat jauh resikonya selain transportasi juga resiko busuk.

Kami merencanakan seperti tahun kemarin akan kami gelar festival jambu, untuk awal September nanti ada pawai bronjong. Festival jambu ini ada 3 sekmen yaitu: pawai bronjong merdeka, lomba onthel dengan beban sebelah dan festival jambu itu sendiri. Masing-masing punya kekhasan sendiri-sendiri seperti misalnya pawai bronjong, itu bronjongnya orang Pranan berbeda dengan bronjong di daerah lain, balap onthel dengan beban sebelah itu sejarahnya dulu sebelum ada sepeda motor mereka bakul buah dengan kendaraan onthel, sedangkan dengan digelarnya festival jambu ini kedepan untuk lebih mengenalkan bahwa Pranan sebagai penghasil jambu air yang bisa disuplay ke Solo Raya.
“Festival jambu yang menjadi ikon desa Pranan akan segera digelar dalam waktu dekat untuk lebih memperkenal Pranan sebagai penghasil jambu air terbesar di Solo Raya, ujar Sarjanto”.
Sementara itu Miranda yang datang di Solo mengungkapkan rasa jambunya manis karena masih fress metik sendiri dari pohonnya, jauh berbeda jika belinya di pinggir-pinggir jalan itu karena sudah beberapa hari dipetik sehingga rasanya beda. Miranda beserta belasan rekannya metik jambu sendiri di pohonya, merasa senang banget bisa petik sendiri langsung dari pohonnya memang baru kali ini kawan-kawan yang lain juga senang, katanya.
Sugino merupakan petugas perawat jambu air ini kepada wartawan mengatakan, tanam jambu air ini tidak sulit kok, minimal 3 tahun sudah mulai buah, untuk panen jambu nyambung terus bisa setahun 4x panen asal perawatannya benar, satu batang bisa menghasilkan lebih kurang 1 kwintal jambu dengan harga Rp 10 000/kg, ia menuturkan jambu air ini supaya buahnya bagus tidak mudah rontok, tidak ada hamanya ya perawatannya harus rutin, seperti di pupuk, disemprot rutin seminggu 2x supaya tidak dimakan lalat buah, pengairan cukup dll. (Pri)
