Meski APBD Defisit, Pemkab Rembang Mampu Melaksanakan Pembangunan Infrastruktur

NEWS

Rembang-Inspirasiline.com. Bupati Abdul Hafidz buka suara terkait kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Rembang 2023 yang mengalami defisit.

Menurut politisi PPP asal Pamotan tersebut, hal itu merupakan kondisi yang wajar. Saat anggaran pendapatan kurang, maka belanja harus dievaluasi agar menjadi balance atau imbang.

“Ketika pendapatan kurang, maka belanja harus dievaluasi. Setelahnya, menyesuaikan keadaan keuangan. Ini kok koyo Rembang meh kiamat wae! (Seperti Rembang mau kiamat saja),” katanya, Jumat (1/9).

Tak hanya itu, ia juga mengklaim bahwa defisitnya APBD 2023 tak berimbas pada pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur.

Sebab, menurut pria kelahiran 18 Juni 1962 itu, pemerintah telah berhasil membangun sejumlah infrastruktur.

“Jalan-jalan juga telah dibangun. Antara lain, Jalan Clangapan – Pamotan, Lasem-Jape, Jape-Banyurip, Tulung sampai Gayam. Kemudian Kalitengah sampai Dadapan. Jalan Pasar-Pulo juga sudah mulai. Kemudian disusul nanti jalan jalan di Kecamatan Sarang,” katanya.

“Jadi anggapan tidak bisa membangun itu salah. Nyatanya jalan masih kita bangun, anggarannya mencapai ratusan miliar,” tambahnya.

Ia juga mengklaim bahwa mayoritas masyarakat Rembang puas atas pelayanan pemerintah saat ini.

Hal itu berdasarkan hasil survei kepuasan masyarakat (SKM) atas pelayanan Pemkab Rembang dengan persentase mencapai 82 persen. “Itu objektif dan ilmiah,” tandasnya.

Ia merinci bahwa data itu diperoleh secara objektif dari para akademisi melalui 4.300 responden.

”Jalan dibangun, pelayanan KTP lancar. Kesehatan juga hebat. UMKM juga jalan. Pengangguran kita juga sangat minim. Apa yang dipersoalkan?,” ujarnya.

Sementara saat disinggung soal turunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), Hafidz menambahkan bahwa hal itu berkaitan dengan situasi perekonomian saat ini.

Ia mencontohkan, seperti kondisi nelayan yang tak melaut karena masalah pajak yang kemudian berimplikasi pada turunnya retribusi.

“Nelayan tak melaut 4-5 bulan. Akhirnya itu berdampak pada turunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD),” katanya.

Hafidz juga mengatakan bahwa kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Rembang Namun, juga daerah-daerah lain.

“Intinya kalau pendapatan kurang, belanjanya ya dikurangi. Proses terus berjalan. Jangan mengambil sumber dari lintas anggaran,” ujarnya,

Ia pun optimis bahwa kondisi ini dapat segera diatasi dengan baik. “Tapi saya optimis bahwa semuanya akan terselesaikan, dengan baik” pungkasnya. (yon)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *