Musim Hujan, Waspadai Banjir Di Mana-Mana

NEWS

H.Sarei Abdul Rosyid,SIP

Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah

 

Seiring datanganya musim penghujang semakin banyak wilayah yang terkena banjir. Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah H.Sarei Abdul Rosyid,SIP mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan   wilayah Jawa Tengah menjadi daerah langganan banjir dan tanah longsor.  Pertama, karena adanya daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo yang merupakan DAS terbesar di Jawa Tengah. Kedua,  banyaknya material gunung dan keberadaan lereng yang curam. Ketiga,  faktor manusia yang menyumbang laju penggundulan hutan dan lahan. Keempat, perilaku membuang sampah sembarangan yang membuat banyak air tersumbat sehingga terjadi banjir di sana sini.  Kelima, terjadinya pendangkalan sungai yang  mengakibatkan sungai tidak berfungsi maksimal, sehingga ketika hujan turun terjadi banjir. Keenam, turunnya curah hujan yang tinggi mengakibatkan tanah longsor diberbagai tempat.

Tentang seringnya terjadi banjir bandang di wilayah pantura Jawa Tengah, Sarei berpendapat  wilayah pantura berada di cekungan  atau memiliki lokasi paling rendah dari wilayah lainnya. Sebab lain  adanya kerusakan pompa dan kurangnya kapasitas pompa di wilayah pantura. Pria asli  Brebes ini mengatakan hulu sungai yang sudah rusak, baik karena adanya penebangan pohon maupun kurangnya penghijauan berakibat banjir bandang. Faktor lainnya yang menjadi penyebab banjir bandang adalah sungai yang tak berfungsi optimal karena pendangkalan akibat sedimentasi. Selain itu adanya alih fungsi lahan di daerah atas untuk penambangan , pembangunan perumahan atau peruntukan sektor lainnya juga menyebabkan terjadinya banjir bandang.

Terkait dengan banyaknya wilayah yang dalam dua tahun ini mengalami kebanjiran padahal sebelumnya , dikatakan Sarei karena beberapa faktor. Yakni maraknya alih fungsi lahan di daerah atas untuk penambangan, pembangunan perumahan dan lainnya. Cekungan drainase perkotaan disebabkan  karena banyak kota kita sebagian besar terbuat dari beton dan bahan kedp air lainnya. Biasanya hanya menyediakan bak drainase untuk menyerap air di permukaan. Kota yang memiliki bak drainase yang terbuat dari beton biasanya tidak ada saluran air agar bisa terserap ke tanah dan membuat air hanya terkumpul didalam  bak drainase. Faktor lainnya adalah penumpukan sampah yang  terus bertambah setiap tahunnya.

Sarei menyebut  ada beberapa hal yang perlu dilakukan BPBD dalam menghadapi musim penghujan dimana selalu terjadi bencana banjir dan tanah longsor. Yakni dengan memberikan sosialisasi berkaitan dengan larangan-larangan pengrusakan hutan dan pembuangan sampah sembarangan. Tindakan tersebut memicu banjir dan tanah longsor. BPBD juga harus memberikan spesifikasi terhadap dinas maupun instansi manapun yang melakukan pembangunan untuk tidak membangun di daerah resapan dan memberi jaring keamanan, agar pembangunan tidak berdampak terhadap lingkungan.

Dikemukakan pula bagi masyarakat yang berada di daerah iklim ekstrim untuk selalu waspada dimusim penghujan terlebih cuaca ekstrim.  Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir harus  menyadari  tidak membuang sampah di sungai atau saluran air dan melakukan penghijauan.   Untuk meminimalisir dampak bencana alam,  mereka juga dihimbau memiliki peralatan darurat, menyimpan barang berharga di tempat aman  serta mengikuti prosedur yang diberikan pemerintah. Tentang  peran DPRD Jawa Tegah dalam menangani banjir dan tanah longsor , disampaikan Sarei pihaknya membangun kerjasama dengan BPBD , DLHK Provinsi Jawa Tengah dan dinas lain yang terkait dengan kebencanaan. Komisi D  bergerak dalam bidang pekerjaan umum, perumahan dan gedung pemerintah daerah , tata ruang, pengawasan dan penertiban bangunan, pertamanan dan pemakaman, kebersihan, pengelolaan lingkungan hidup.  Dari lingkup tersebut memiliki pengaruh besar terhadap bencana banjir dan tanah longsor, untuk itu  Komisi D berupaya memaksimalkan kinerja untuk mengurangi resiko bencana  tersebut.

Menyikapi bencana dimusim hujan, Sarei berharap instansi apapun agar berkolaborasi dengan masyarakat dalam menangani banjir dan tanah longsor. Menurutnya harus dimulai dari diri kita dan semua pihak dituntut memiliki rasa dan kepekaan akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Mulai dari membuang sampah, menjaga ekologi hutan dengan reboisasi dan tidak mengalihfungsikan kawasan resapan untuk kepentingan yang lain.  (Laras)

Bagikan ke:

1 thought on “Musim Hujan, Waspadai Banjir Di Mana-Mana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *