Mengenal Buta Cakil Dalam Wayang Purwa

NEWS

Wonogiri-Inspirasiline.com. Buta Cakil, lebih tenar disebut Cakil di dunia pewayangan. Cakil muncul dalam lakon – lakon wayang dengan berbagai nama, antara lain Ditya Kala Gendir Penjalin, Kala Klantang Mimis, Ditya Carang Aking. Kadang – kadang Ki Dalang menciptakan nama baru bagi tokoh ini. Ia merupakan satu – satunya raksasa yang bersenjata keris, bukan hanya satu keris, bahkan sampai dua, tiga keris, tetapi selalu mati tertusuk kerisnya sendiri.

Tokoh peraga wayang Cakil oleh kebanyakan dalang wayang kulit Purwa juga digunakan sebagai wayang srambahan untuk memerankan tokoh Kala Marica, anak buah Prabu Dasamuka dalam peristiwa penculikan Dewi Sinta pada seri Ramayana. Mamun, pada wayang kulit Purwa yang lengkap, Kala Marica dibuat tokoh khusus, menyerupai Buta Cakil, tetapi rambutnya terurai, tidak digelung.

Perang antara Cakil dengan tokoh kesatria bambangan disebut ” perang kembang “, atau ” perang begal “, hampir selalu muncul pada setiap  lakon wayang. Perang itu ditampilkan baik pada pakeliran wayang kulit Purwa maupun pertunjukan wayang orang.

Pada adegan itulah biasanya Ki dalang mempertunjukkan kemahirannya dalam sabetan, yakni keterampilan menggerakkan peraga wayang.

Gerakan sabetan wayang kulit Purwa, maupun pada gerakan penari pemeran tokoh Cakil  dalam pertunjukan wayang orang, dipengaruhi jurus – jurus pencak silat.

Tokoh Cakil hanya terdapat dalam dunia pewayangan Indonesia, dan tidak ada dalam kitab Mahabarata. Tokoh wayang raksasa yang keduanya dapat digerakkan, itu diciptakan oleh seniman pencipta wayang pada zaman Mataram, tepatnya tahun 1630 M atau 1552 Saka. Ini ditandai dengan candra senkala yang berbunyi ” Tangan Yaksa Satataning Janma ” Dengan demikian dapat diketahui bahwa Cakil diciptakan pada zaman pemerintahan Sultan Seda Krapyak, Raja Mataram yang kedua.

Bragalba, gaya Surakarta. Foto, Heru S Sudjarwa / Fandayo

Karena Cakil selalu mati  tertusuk kerisnya sendiri, dalam masyarakat Jawa ia sering dipakai sebagai contoh ” perilaku yang buruk “. Jika orang sering kena musibah akibat ulah dan perilakunya sendiri, maka orang semacam itu dikatakan tingkahnya seperti Buta Cakil.

Cakil salah satu dari Buta Prepat atau raksasa ” Empat Sekawan “.  Tiga jenis raksasa lainnya juga disebut Buta Prepat adalah buta Rambut Geni, Buta Terong, dan Bragalba (Pragalba). Dalam pewayangan mereka selalu muncul dalam adegan pencegatan kesatria yang sedang perjalanan.  Dan, mereka semua selalu mati.

Bagi pecinta wayang yang memandang budaya wayang dari sudut falsafah, adegan ini melambangkan seorang manusia yang berhasil menaklukkan  empat napsu pribadinya, yaitu ” AMARAH, ALUAMAH, SUFIAH, dan MUTMAINAH ” Keempat raksasa Prepat itu mewakili nafsu manusia.

Cakil gaya Yogyakarta. Foto, Heru S Sujarwo / Singgih Prayoga

Walaupun Cakil adalah bangsa raksasa dan selalu kalah dalam peperangan, namun dia adalah prajurit sejati, pantang mundur. Salah satu sifat baik Cakil adalah loyalitas dan tanggung jawab dalam melaksanakan segala perintah dari atasannya.

Dalam seni kriya wayang kulit Purwa, tokoh Cakil dirupakan / ujud dalam beberapa wanda , diantaranya adalah wanda  ” Kikik, Benceng, Bathang atau Cicir, Naga, dan Udalan “

Pada pedalangan di Surakarta, Cakil wanda Udalan lebih sering digunakan pada pergelaran lakon – lakon yang tergolong pada kelompok lakon Ramayana dan Lokapala. (SK/ 19).

Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia.

Oleh, Drs.H.Solichin, Dr. Suyanto, S.Kar., M.A., Sumari, S.Sn., M.M.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *