Tegal-Inspirasiline.com. Nama yang tidak asing dalam dunia perfilman di Tegal, karya karyanya kerap dinikmati oleh masyarakat di Chanel YouTube dalam sajian cuplikan film yang digarapnya, baik film yang betema guyon maton (Tegalan) atau film pesanan dari berbagai lembaga pemerintah maupun swasta.
Lelaki asal Desa Kepumduhan Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal yang memiliki latar belakang sebagai pemain teater tak pernah berhenti mencari inspirasi untuk ber ekspresi mewujudkan karya nyata dalam dunia sinema.

Marjo hanyalah anak desa yang tak pernah bermimpi menjadi seorang sineis tapi berkat keseriusan dan gemblengan di ‘ teater rspd ‘ Tegal, kini Marjo menjadi seorang aktor dan sutradara.
Malah keinginan desanya menjadi desa sinema sekarang sudah terwujud dengan nama Desa Sinema Kepunduhan Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal.
Sebagian Masyarakat Desa Kepunduhan yang awalnya sama sekali tidak tahu dunia perfilman, apa lagi soal acting depan kamera sekarang mengenalnya berkat kegigihan Marjo menggerakan masyarakat Desa Kependuhan dari anak sampai yang sudah tua lata diajak bermain.

Film garapan Marjo kebanyakan pesanan dari instansi pemerintah maupun swasta dalam rangka mensosialisasikan kebijakan atau pemasaran produk.
Film garapan Marjo kerap meraih juara di berbagai festival film. Seperti yang baru saja diraih oleh Marjo dalam film durasi pendek yang berjudul ‘ Wathek ‘ telah meraih juara 2 nasional.
Pengumuman pemenang berlangsung dalam ajang Nusantara In Cultural Festival di Ibukota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur Minggu (1/6/2025).
Tutur Marjo, ketika mendengar pengumuman dan ternyata meraih juara, Marjo merasa terkejut, haru dan bangga.

“Tidak sia-sia kerja keras seluruh crew film wathek sehingga mencapai prestasi ini.’ Ungkap Marjo.
Tutur Marjo, ketika Proses pembuatan film Wathek ada pemain yang kejatuhan tangga sampai mukane babak belur.
‘ Itu terjadi ketika pengambilan gambar namun kesedihan dan kerja keras teman-teman rasanya terbayar setelah berhasil meraih juara dua nasional .’ ungkap Marjo bangga.
Film “Wathek” atau Karakter menceritakan tentang Andi yang pulang kampung untuk minta restu orang tua, guna buka warteg (Warung Tegal) di Ibukota Nusantara, tapi nasib sial, belum sampai rumah muka sudah babak belur.
Atas pencapaian ini, Film wathek memperoleh hadiah berupa uang pembinaan Rp. 11 Juta dan piala dari Menteri Kebudayaan RI yang diserahkan oleh Deputi Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Drs. Alimudin,M.Si.
Sementara Juara 1 diraih oleh Afga Amboina – Ambon dengan judul film “Nusaraya”, juara 3 diraih oleh Nusantara Entertainment dengan judul film “Tubuh Menari Tanah Mengingat” dan juara favorit diraih oleh film “Perahu Kecil” dari Film Balikpapan Community.
Menurut Marjo, Nusantara Cultural Festival 2025 diikuti puluhan kelompok seni dan budaya dari seluruh Indonesia . Seperti Dayak. Toraja, Mandar, Flores hingga perwakilan Balai Pelestarian Budaya (BPK) dari 12 provinsi. Berlangsung selama 3 hari mulai Jumat 30 Mei s/d Minggu malam 1 Juni 2025 di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Otorita Ibu Kota Nusantara.
Rangkaian kegiatan festival antara lain parade budaya nusantara, penampilan seni dari berbagai kelompok seni, talkshow, pemutaran film pendek serta bazar UMKM Lokal. Tema festival adalah Nusantara adalah Kita, Kita adalah Nusantara.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dalam sambutan pembukaan Festival bersama Kepala Otorita IKN Basuki Hadimulyono menilai bahwa kegiatan ini merupakan etalase penting bagi keragaman budaya. “Nusantara Cultural FestivaL adalah cara kita menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia kaya akan ekspresi budaya,” kata Fadli Zon.
Menurutnya, bahwa di IKN perlu dibangun pusat kebudayaan yang lengkap dengan galeri, museum dan gedung pertunjukan.
Kepala Dinas Kominfo Kab Tegal Nurhayati sangat mengapresiasi sekaligus bangga atas pencapaian prestasi yang di raih oleh Film Wathek pada ajang gelaran tersebut. (Biet)
