Sragen-Inspirasiline.com. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen Udayanti Proborini mengungkapkan Kasus Demam Berdarah (DBD) di Kabupaten Sragen perlu mendapat perhatian dan dukungan peran serta baik itu Pemerintah Daerah, Lintas Sektor, Swasta Dan Masyarakat.
“Kasus DBD di Jawa Tengah Tahun 2024 tercatat 15.547 Kasus DBD dengan jumlah 244 kematian. Dalam Tahun 2024 itu terjadi tren peningkatan kasus hingga akhir Tahun 2024.”Terangnya dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah (DBD) Tingkat Kabupaten Sragen, Senin (15/10/2025) yang digelar di Aula Gedung PKRI Sragen.
Sementara di Kabupaten Sragen, Udayanti menambahkan pada Tahun 2023 tercatat 121 Kasus dengan 0 kematian. Tahun 2024 kembali terjadi penambahan kasus DBD sebanyak 493 Kasus dengan jumlah 7 Kematian.
“Tahun 2025 data yang tercatat hingga 12 Oktober 2025 jumlah kasus DBD sebanyak 207 Kasus. Sama seperti Tahun 2023 tidak ada kasus kematian atau 0 kematian. Semoga saja untuk seterusnya tidak ada kasus kematian.”
Untuk itu selanjutnya, Merujuk dari kasus-kasus DBD yang mengalami Fluktuatif, kecuali melakukan upaya preventif salah satunya yang dapat dilakukan adalah gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) 3M Plus secara serentak dan rutin paling tidak disepakati seminggu sekali.
PSN 3M Plus yaitu menguras, menutup dan memanfaatkan limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (Daur Ulang) poin plusnya adalah menaburkan tablet abate pada pelindung udara yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk dan menggunakan kelambu saat tidur.
“Masyarakat kami mohon waspada. Dengan kondisi cuaca dan suhu yang tidak stabil menjadi zona nyaman bagi nyamuk untuk berkembang biak. Kadang terang, kadang hujan sehingga jika ada genangan-genangan udara menjadi media berkembang biak nyamuk.”Jelasnya.Menurutnya, DBD bisa terjadi pada siapa pun tanpa mengenal usia, status dan jenis kelamin. Penularan DBD tidak mungkin menular secara langsung antar manusia namun memerlukan peran nyamuk Aedes Aegypti Betina untuk memindahkan virus tersebut melalui gigitan.
Melalui rakor DBD ini, mengingat pun ingin memperkuat sinergitas lintas sektor seperti dengan pemangku kepentingan Desa juga PKK sehingga menghasilkan langkah-langkah terpadu dan berkelanjutan.
Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik menilai Udayanti sebagai salah satu upaya efektif dalam pencegahan DBD dengan melibatkan setiap rumah memiliki seorang Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk berkumpul serta mengedukasi Anggota Keluarga tentang pentingnya PSN.
“Mari bersama-sama kita galakkan PSN secara rutin dari rumah masing-masing melalui gerakan Satu Rumah Satu Jumantik diawali dari Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga. Jika kita bergerak bersama Insya Allah kita bisa.”Harapnya. (Sugimin/17-Release Diskominfo Sragen)
