YOGYAKARTA (inspirasiline.com) – Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya dan pariwisata. Namun, derasnya arus budaya asing dinilai turut menggerus eksistensi budaya lokal yang mulai memudar. Sebagai upaya pelestarian budaya, Pasar Kangen Yogyakarta terus dihadirkan untuk membangkitkan kembali nuansa tradisi yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal.
Upaya pelestarian budaya tersebut turut diangkat oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta, Frandeska Rahma Azzahro, melalui karya photo story yang mendokumentasikan aktivitas dan suasana khas Pasar Kangen. Karya ini bertujuan mengenalkan kembali budaya tradisional kepada generasi muda sekaligus membangkitkan kenangan masa lalu bagi generasi sebelumnya.
“Saya ingin melestarikan budaya yang mulai tergerus zaman, yang mungkin tidak pernah dirasakan oleh generasi saat ini. Melalui photo story yang mengangkat Pasar Kangen, generasi Z bisa mengenal dan ikut melestarikan budaya kita, sementara generasi sebelumnya dapat bernostalgia dengan budaya asli yang pernah ada,” ujar Frandeska, yang akrab disapa Deska.
Karya photo story tersebut dibimbing langsung oleh dosen Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta, Sheila Lestari Giza Pudrianisa. Ia menilai pendekatan visual menjadi media yang efektif dalam menyampaikan pesan pelestarian budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Dengan adanya karya photo story ini, harapannya budaya asli dapat terus dikenalkan dan dilestarikan, terutama kepada generasi saat ini agar tidak hilang, salah satunya melalui Pasar Kangen,” ungkap Giza.
Dalam proses pengambilan gambar, Deska menggunakan teknik fotografi EDFAT yang meliputi Entire, Detail, Framing, Angle, dan Time. Teknik ini memungkinkan pengambilan visual secara menyeluruh, mulai dari gambaran umum pasar hingga detail aktivitas pengunjung dan pedagang, dengan sudut pandang serta momen waktu yang beragam.


Penerapan teknik EDFAT dinilai mampu menangkap suasana Pasar Kangen dari sore hingga malam hari, sehingga menghadirkan nuansa autentik khas pasar tradisional Yogyakarta. Tidak hanya menjadi dokumentasi visual, photo story ini juga menghadirkan narasi budaya yang kuat sebagai bentuk pelestarian warisan budaya lokal.
Melalui karya tersebut, Pasar Kangen diharapkan tidak sekadar menjadi agenda wisata, tetapi juga ruang edukasi budaya yang mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Indonesia. (*)
