Grobogan-Inspirasiline.com. Prosesi tahunan boyong grobog dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Grobogan ke 300 (3 abad) tahun 2026 kembali digelar Pemkab Grobogan pada Selasa (3/3/2026).
Meski ditengah cuaca yang tak bersahabat acara boyong grobog tetap digelar Pemkab ditengah situasi bulan puasa, sehingga banyak jenis acara dalam prosesi itu yang tidak ada atau ditiadakan oleh Panitia, seperti sajian tumpeng dari 280 desa, 19 kecamatan se Kabupaten Grobogan dan dari semua OPD serta beberapa acara menarik lainnya. Hanya terdapat 21 gunungan berisi hasil panen warga Grobogan yang akan diperebutkan oleh masyarakat sekitar.


Boyong grobog tersebut menandai pindahnya ibukota pemerintahan Kabupaten Grobogan dari Kelurahan Grobogan ke Kota Purwodadi sejauh 6 kilometer itu diawali dengan dipindahkannya grobog (tempat menyimpan pusaka) dari Kantor ex Kawedanan Grobogan ke Kantor Kecamatan Grobogan.
Bupati Grobogan Setyohadi beserta isteri dan Wakil Bupati Sugeng Prasetyo bersama isteri, Ketua DPRD Lusia Indah Artani beserta suami, Sekda Anang Armunanto beserta istrri, Dandim 0717 Letkol Inf Wefri Sandiyanto, Kapolres AKBP Ike Yulianto W semuanya dengan listri, Camat Grobogan Suprapti b3serta suami, para Kepala OPD, para Kepala Desa Kec.Klambu, Brati dan Grobogan yang semuanya mengenakan pakaian adat Jawa tengah menunggu di Kantor Kecamatan Grobogan.

Begitu grobog yang diusung dari Kantor Kawedanan tiba di Kantor Kecamatan Grobogan, Bupati dan Wakil Bupati bersama rombongan membawa grobog tersebut untuk.dibawa ke pendopo Kabupaten di kota Purwodadi dengan mobil. Sesampainya dikota Purwodadi, sebelum memasuki komplek pendopo Kabupaten, Bupati dan istri, Wakil Bupati dan istri serta Sekda beserta istri dan jajaran forkompinda menaiki kereta kuda , sedangkan Kapolres Grobogan AKBP Ike Yulianto dan Dandim 0717 Letkol Inf Wefri Sandiyanto menjadi manggala yudha yang menaiki kuda dengan posisi didepan Bupati dan Wakil Bupati. Sedangkan pasukan yang berjalan paling depan adalah kelompok pasukan dari keraton Surakarta Hadiningrat sebanyak 50 orang terdiri dari pasukan prajurit tamtama, prawiranom, jayeng astro, soro geni, joyo suro, dworopati, yang diketuai oleh KRA Aris Wandito Yudonegoro.

Meski ditengah bulan puasa, masyarakat Grobogan selalu antusias dan tak surut dalam menyambut prosesi perpindahan grobog ke kota Purwodadi, sejauh 6 km mereka berjajar rapi bersama anak.anak sekolah dan gurunya.
Grobog yang berisi pusaka dan keris Kyai Sengkelat itu sesampainya di pendopo agungbKabupaten, diserahkan oleh Bupati Grobogan kepada Asisten II Heru Dwi Cahyono dan kemudian diserahterimakan kepafa Asisten III Catur Purbayanto untuk disemayamkan.
Dalam acara tersebut tampak hadir pula Wakil Menteri Pertanian RI DR. Sudaryono yang putra daerah Grobogan dan mantan Sekda Grobogan Sugiyanto, SH, MH.
Dalam sambutannya dengan bahasa Jawa, Bupati Setyo Hadi mengajak semua elemen masyarakat Grobogan agar bersemangat secara bersama sama membangun Grobogan serta dijauhkan dari malapetaka dan sebagai ungkapan tanda rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berlimpahnya hasil panen dan berkah melimpah masyarakat Grobogan, telah disediakan 21 gunungan yang siap diperebutkan oleh masyarakat.
Sementara itu Wamentan Sudaryono mengungkapkan rasa bangganya terhadap tanah kelahirannya, Grobogan, yang sejak dia kecil hingga saat ini banyak kemajuan yang dicapai Grobogan di bidang pertanian sehingga Grobogan menjadi penyangga pangan nasional urutan ke 7.
“Saya harapkan Grobogan nanti bisa menjadi penyangga pangan Jateng no 1” ujar Ketua DPD Partai Gerindra Jateng kelahiran Tambirejo Toroh Grobogan itu.
Masih banyak kegiatan dalam rangka HUT Grobogan yang ke 300 ini, namun sebagai puncaknya adalah upacara di alun alun Purwodadi pada hari Rabu (4/3/2026).
Terpisah, Bupati Setyo Hadi menambahkan kegiatan Boyong Grobog setahun sekali ini adalah merupakan wujud penghormatan kepada para pendiri Grobogan dan sekaligus berdoa bersama agar masyarakat Grobogan sejahtera. Adapun adanya 21 gunungan yang diperebutkan itu merupakan lambang “buang sial ” agar masyarakat Grobogan terhindar dari marabahaya dan penyakit.
Menurut salah satu pelaku penyelenggara acara Boyong Grobog pertama kali di Grobogan Puji Daryono menjelaskan awal mula kegiatan itu disebut acara Grebeg Grobogan pertama kali pada 1 Suro ( 4 Maret 2000) yang saat itu Bupati Grobogan dijabat oleh H. Turmudi Suwito.
Kemudian kegiatan grebeg tersebut dinamakan Boyong Grobog atau pindah Kota Praja sejak tahun 2004, karena dititik beratkan khusus berdirinya Kab Grobogan dan R. Puger sebagai bupatinya. Sejak itulah setiap tahun hingga sekarang selalu dilakukan prosesi boyong grobog sebagai tanda berdirinya ibukota pemerintahan Kabupaten Grobogan.
“Awal kita mengadakan namanya Grebeg Grobogan yang mengangkat silsilah Ki Ageng Selo sebagai cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram ( Kita Buat Event Nasional ) tetapi karena ada peristiwa mistis selama kegiatan maka paska saya tinggal ke Korea Grebeg Grobogan diringkes untuk tingkat kabupaten saja dengan titik berat Pindah Ibu Kota Kabupaten istilah Jawa Pindah Kedathon atau Pindah Kuta Praja” jelas wartawan Bhayangkara Pers itu, yang saat itu sebagai Ketua LSM Lipmas Grobogan. (jk)
