SEMARANG (inspirasiline.com) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menyoroti meningkatnya frekuensi bencana di berbagai wilayah Jawa Tengah sepanjang awal tahun 2026. Ia meminta pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana guna meminimalkan korban jiwa serta kerugian materiil yang ditimbulkan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, sepanjang 1–25 Januari 2026 tercatat sebanyak 45 kejadian bencana, yang meliputi banjir, tanah longsor, kebakaran, dan cuaca ekstrem. Bencana tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, termasuk wilayah pesisir, dataran rendah, serta daerah rawan longsor di lereng pegunungan.
Dari rangkaian kejadian itu, tercatat tujuh orang meninggal dunia, lima orang mengalami luka-luka, 9.729 orang mengungsi, dan lebih dari 308.108 orang terdampak. Selain korban jiwa, bencana juga menyebabkan kerusakan pada rumah tinggal, fasilitas umum, lahan pertanian, hingga area perikanan.
“Kami turut prihatin atas banyaknya kejadian bencana yang terjadi dalam waktu relatif singkat. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius agar upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana semakin diperkuat,” kata Saleh, Kamis (9/3/2026).
Saleh menegaskan, penguatan mitigasi bencana harus dilakukan secara menyeluruh, meliputi koordinasi lintas sektor, penguatan sistem peringatan dini, dan kesiapan logistik serta personel penanggulangan bencana. Menurutnya, wilayah rawan bencana harus menjadi prioritas utama dalam pemetaan risiko dan penyiapan sumber daya penanggulangan.
“Langkah antisipasi harus diperkuat, mulai dari pemetaan wilayah rawan bencana, edukasi masyarakat, hingga kesiapan sarana dan prasarana untuk penanganan bencana,” ujarnya.
Selain aspek teknis, Saleh juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana. Ia mengingatkan warga untuk menjaga daerah resapan air, menanam pohon, dan menghindari aktivitas yang dapat merusak lingkungan. “Bencana tidak hanya dipengaruhi oleh cuaca ekstrem, tetapi juga kondisi lingkungan. Menjaga alam adalah bagian dari upaya melindungi diri kita dari bencana,” jelasnya.
Saleh berharap, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus diperkuat. Ia menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam penanganan bencana, sehingga dampak yang ditimbulkan dapat ditekan semaksimal mungkin.
“Penanganan bencana harus dilakukan bersama-sama. Dengan kesiapsiagaan yang baik, korban jiwa dan kerugian materiil dapat diminimalkan. Pemerintah daerah dan masyarakat harus memiliki kesadaran yang sama dalam menjaga keamanan lingkungan dan menyiapkan langkah-langkah antisipatif,” pungkas Mohammad Saleh.
Program edukasi bencana dan sosialisasi mitigasi berbasis komunitas, menurut Saleh, menjadi kunci agar masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat. “Selain sistem peringatan dini, warga juga harus tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi banjir atau longsor. Kesiapsiagaan adalah bagian dari budaya kita dalam menghadapi alam,” tambahnya.
Dengan meningkatnya frekuensi bencana awal tahun ini, Saleh menegaskan bahwa mitigasi bukan sekadar tanggapan pasif, melainkan upaya aktif yang harus terus ditingkatkan di semua sektor. Langkah ini diharapkan tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi dan sosial di Jawa Tengah. (*)
