Wonogiri-Inspirasiline.com. Cerita ini merupakan bagian dari cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Wonogiri, yaitu di Dusun Turus, Desa Balepanjang, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri.
Berkisah tentang Raden Ayu Sawiyah yang terkenal dengan sebutan ” Mbah Kendhil.” Berdasarkan versi dari nara sumber Mbah Sularno Dwijo Hamiseno, beralamat Desa Balepanjang, dekat makam Mbah Kendhil. Saat ini Mbah Larno berusia 93 tahun. Selain dari nara sumber, keberadaan cerita R.Ayu Sawiyah atau Mbah Kendhil juga diyakini oleh masyarakat sekitar Balepanjang.

Konon, pada zaman penjajahan Belanda, Raden Mas Said berseteru dengan Belanda, Hal tersebut dipicu sikap Belanda yang ingin membuat jalan melewati makam leluhur Raden Mas Said. Karena itu R.Mas Said tidak disukai Belanda. Ia diburu untuk ditangkap karena dianggap menentang kehendak Belanda. R.Mas Said mendengar akan ditangkap, akhirnya menyelamatkan diri pergi ke arah selatan bersama pengikutnya.
Pasukan Belanda terus membuntuti mengejar R.Mas Said. Akhirnya terjadi perang antara pengikut R.Mas Said dengan tentara Belanda.

Salah satu pengikut wanita yang mengikuti perjalanan R.Mas Said adalah Raden Ayu Sawiyah. Ia bertugas sebagai juru dang (seorang penanak nasi) dan urusan konsumsi prajurit. Agar R.Mas Said tidak ditangkap Belanda, pengikut R.Mas Said tidak mengenakan pakaian prajurit, namun menyamar seperti layaknya pelayat.
Sementara R.Mas Said dimasukkan ke dalam keranda dan ditandu. Hal ini merupakan strategi agar R.Mas Said dan pengiringnya selamat dari kejaran pasukan Belanda.

Pasukan Belanda mengira bahwa R.Mas Said telah meninggal dunia dan akan dimakamkan oleh masyarakat.
Siasat tersebut ternyata diketahui Belanda. Pasukan Belanda terus mengejar pasukan R.Mas Said.
Untuk menghilangksan jejak, prajurit R.Mas Said berpisah dua arah. R.Mas Said dan sebagian prajurit menuju daerah Nglaroh Selogiri, Wonogiri, sedang yang lainnya bersama Raden Ayu Sawiyah terus bergerak ke Wonogiri selatan.
Ternyata siasat perang ini pun juga diketahui mata – mata Belanda. Pasukan Belanda terus mengejar R.Mas Said, akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pengikut R.Mas Said.
Mengingat kalah persenjataan, banyak prajurit R.Mas Said gugur di medan pertempuran.
Demikian pula pasukan Belanda banyak yang tewas. Akhirnya pasukan belanda dapat dipukul mundur oleh prajurit R.Mas Said yang berada di Nglaroh.

Untuk menyelamatkan diri, prajurit R.Ayu Sawiyah bergerak ke arah selatan Wonogiri. Prajurit berjalan berhari – hari, hingga merasa letih. Cadangan makan kian menipis. Prajurit mulai resah, lapar, haus. Situasi itulah membuat pengikut R.Mas Said seakan ingin menyerah kepada lawan.
Setelah berjalan berhari – hari, tak diduga prajurit R.Mas Said menemukan tempat yang amat luas, lapang, panjang, yang berada di tepi sungai Bengawan Solo. Di tempat ini terdapat sendang dengan mata air amat bening. Di sini R.Ayu Sawiyah bersama para prajurit beristirahat, membasuh muka, dan mandi. Sekarang sendang tersebut diberi nama “Sendang Panguripan,” sedangkan tempat yang luas, dan lapang disebut “Balepanjang.”
Eloknya, setelah mandi dan minum air Sendang Panguripan, seluruh prajurit kembali segar, bersemangat. Di tempat ini pula pasukan R.Mas Said melaksanakan ibadah salat. Untuk peneduh, pengikut R.Mas Said menancapkan pohon Prih ( sejenis beringin ) Sampai saat ini Sendang Panguripan, pohon Prih yang besar dan rimbun, masih dapat dilihat masyarakat. Sedangkan tempat salat, oleh masyarakat setempat diubah menjadi Mesjid.
Kian hari – bekal para prajurit kian menipis, cadangan beras tinggal sedikit. Para prajurit terpaksa makan dan minum seadanya.
Melihat keadaan yang memprihatinkan, Raden Ayu Sawiyah sebagai juru dang, segera mengambil langkah. Ia menanak nasi dengan alat seadanya. Sejimpit beras dimasukan ke dalam ” Kendhil ” diletakkan di atas tungku batu, dipanasi dengan kayu bakar.
Aneh tapi nyata, atas kehendak Allah, sejimpit beras yang di tanak berubah menjadi nasi memenuhi Kendhil, dan selalu cukup dimakan bersama oleh seluruh prajurit.
Hal tersebut terus menerus dilakukan R.Ayu Sawiyah secara ikhlas. Entah, atas izin Allah atau doa dan tirakat yang dilakukan oleh R.Ayu Sawiyah, sejimpit beras yang ditanak selalu mencukupi perut seluruh prajurit R.Mas Said.
Hal tersebut membuat para prajurit bersemangat, kembali menyusun strategi perang. Strategi perang yang terapkan adalah ” perang gerilya ” yaitu bersembunyi, menyamar, menyerang saat yang tepat.
Walau demikian, ternyata persembunyian prajurit bersama R.Ayu Sawiyah diendus pasukan Belanda.
Pasukan Belanda terus mengejar prajurit R.Mas Said. Malam hari prajurit R.Mas Said meninggalkan Balepanjang, menuju arah Barat laut.
Saking lelahnya pasukan R.Mas Said istirahat tidur mendengkur ( JW.Poh ) Tempat itu sekarang disebut Dusun Ngepoh.
Mendengar ayam ber kokok prajurit R. Mas Said melanjutkan perjalanan, menuju arah barat laut. Dalam perjalanan menjumpai sendang beringin.
Di tempat itu prajurit R.Mas Said bersama R.Ayu Sawiyah istirahat, menunaikan ibadah. Tempat tersebut sekarang bernama dusun ” Siraman ” artinya tempat mandi.
Fajar menyingsing, terdengar rentetan tembakan pasukan Belanda menyerang prajurit R.Mas Said.
Jarak satu kilo meter arah barat Desa Siraman, prajurit R.Mas Said bersama R.Ayu Sawiyah melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda. Terjadi pertempuran sengit. Pasukan Belanda dapat dipukul mundur oleh prajurit R.Mas Said. Karena pertempuran terjadi saat fajar menyingsing ( JW.Meh padhang ) oleh karena itu, tempat tersebut sekarang bernama ” Dusun Padangan.”
Melihat prajurit R.Mas Said menang dalam perang, manyarakat setempat, para pemuda remaja ( JW. Anom ) bergembira merayakan kemenangan, sorak sorai, seraya mengucapkan syukur kepada – Nya. Kegembiraan tersebut diabadikan menjadi nama ” Desa Gambiranom “
Setelah situasi aman, prajurit R.Mas Said yang berada di Desa Balepanjang bergabung kembali dengan prajurit R.Mas Said yang ada di Nglaroh, Selogiri. Saat itu pula R.Mas Said bersama seluruh prajurit kembali ke Surakarta dalam keadaan aman.
Lain halnya Raden Ayu Sawiyah.
Ia tidak ikut kembali ke Surakarta. Raden Ayu Sawiyah tetap tinggal di Dusun Turus, Desa Balepanjang. Karena kepiawaiannya dalam menanak nasi ( juru dang ) dengan perabot Kendhil, Raden Ayu Sawiyah terkenal dengan sebutan ” Mbah Kendhil “.
Mbah Kendhil terus melanjutkan pengabdiannya kepada masyarakat Balepanjang dan sekitarnya. Ia menolong masyarakat yang kesulitan makan, kelaparan, hingga akhir hayatnya. Raden Ayu Sawiyah atau Mbah Kendhil meninggal dunia, dimakamkan di Dusun Turus, Balepanjang, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri.
Makam Mbah Kendhil banyak dikunjungi masyarakat, Wonogiri dan sekitarnya. Kedatangan para pengunjung ingin melihat dari dekat makam Mbah Kendhil, sekaligus mendoakan.
Cerita tersebut dapat kita teladani. Sikap kepahlawanan Raden Ayu Sawiyah, atau lebih terkenal sebutan Mbah Kendhil, yang amat tulus ikhlas membantu kepada siapa pun yang kelaparan, serta membutuhkan pertolongan.
Semoga cerita ini menginspirasi semangat kita untuk meneladani jiwa kepahlawanan, serta kedermawanan Raden Ayu Sawiyah atau Mbah Kendhil.
Cerita rakyat Raden Ayu Sawiyah atau Mbah Kendhil, merupakan cerita yang bersumber masyarakat setempat berkembang dari mulut ke mulut, serta nara sumber sesepuh desa Balepanjang, dan sumber lain yang berkaitan dengan cerita tersebut.
Tentang kebenaran cerita tersebut masih perlu penelitian, pembuktian dari para sejarawan, serta para ilmuwan terkait.
Sebaiknya para pembaca berkenan meluangkan waktu melihat makam Mbah Kendhil. Lokasi mudah dijangkau, baik roda dua, atau roda empat. Ditulis bertepatan Hari Kartini, 21 April 2026. Oleh, Sukamto,SK/19, Wartawan insnpirasiline.com Semarang, Jawa Tengah.
