SRAGEN (inspirasiline.com) Suasana berbeda terasa di sekitar Petilasan Pangeran Mangkubumi, Desa Jekawal, Kecamatan Tangen, Jumat (14/8/2026). Warga Jekawal-Bokoran berkumpul dalam semangat kebersamaan mengikuti Kirab Gunungan Mangkubumi dalam rangka Sedekah Bumi.
Gunungan yang diarak menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki, hasil panen, serta kehidupan yang tenteram. Lebih dari sekadar tradisi tahunan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk kembali mengingat sejarah sekaligus mempererat gotong royong antar masyarakat.
Sedekah bumi kali ini juga menjadi pengingat bahwa Jekawal memiliki kaitan erat dengan perjalanan sejarah Pangeran Mangkubumi, tokoh yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta.

Dalam sejumlah literatur sejarah, perjalanan Pangeran Mangkubumi bermula ketika ia meninggalkan Keraton Surakarta untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan dan campur tangan Belanda. Bersama pasukannya, Pangeran Mangkubumi kemudian bergerilya dan sempat berada di sejumlah wilayah di Sragen.
Salah satunya adalah Pandak Karangnangka, yang kemudian menjadi tempat pembentukan pemerintahan perlawanan. Karena pertimbangan keamanan, pusat pemerintahan tersebut berpindah ke Gebang hingga akhirnya ke Jekawal.

Perjalanan perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang mengantarkan pada Perjanjian Giyanti. Perjanjian tersebut membagi wilayah kekuasaan menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi penguasa Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

Jejak sejarah itulah yang hingga kini dirawat masyarakat Jekawal melalui keberadaan petilasan dan tradisi tahunan Sedekah Bumi.
Ketua panitia pelaksana, Asnawi, mengatakan Sedekah Bumi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala rahmat, rezeki, dan hasil bumi yang diberikan.
“Sedekah bumi ini wujud rasa syukur kepada Allah atas semua rahmat, rezeki, dan panen yang telah diberikan ke bumi Jekawal dan Bokoran. Semoga desa kita tetap tenteram, jauh dari musibah,” ujarnya.
Gunungan yang menjadi bagian utama kirab bukan sekadar hasil bumi yang disusun menyerupai gunung. Setiap bagian di dalamnya memiliki simbol dan doa yang menyertai kehidupan masyarakat.
Puncak gunungan yang berwarna kuning melambangkan cita-cita yang unggul, kemakmuran, serta harapan agar manusia senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Ayam ingkung menjadi simbol keikhlasan dan pengabdian kepada Tuhan.
Sementara telur dimaknai sebagai kesuburan dan doa agar keturunan dapat tumbuh serta berkembang dengan baik. Ikan melambangkan kelancaran rezeki, sedangkan tanaman palawija menjadi ungkapan terima kasih kepada bumi yang telah memberikan hasil untuk kehidupan.
Buah-buahan menggambarkan manisnya kehidupan yang penuh keberkahan. Sayuran menjadi simbol pertolongan Tuhan Yang Maha Bijaksana, sementara bumbu mengingatkan bahwa kehidupan memiliki berbagai rasa yang patut diterima dan disyukuri.
Kepala Desa Jekawal, Sutarno, mengatakan kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahun di sekitar petilasan Pangeran Mangkubumi. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki dua nilai penting sekaligus, yakni melestarikan budaya masyarakat dan mengenalkan sejarah perjuangan Mangkubumi kepada generasi berikutnya.
“Di tempat ini adalah tempat petilasan Pangeran Mangkubumi. Kita adakan kegiatan seperti ini setiap tahun. Semoga tempat ini menjadi destinasi wisata religi sehingga semua orang mengetahui sejarah perjuangan Pangeran Mangkubumi saat melawan Belanda,” katanya.
Ia berharap keberadaan petilasan tersebut dapat menjadi ruang belajar sejarah bagi generasi muda.
“Generasi muda kita punya warisan sejarah dan budaya yang luar biasa. Ini bukti Jekawal daerah yang istimewa,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan Camat Tangen, Supriyadi. Ia mengapresiasi masyarakat Jekawal-Bokoran yang terus mempertahankan tradisi tersebut. Tahun ini menjadi pelaksanaan keempat kegiatan Sedekah Bumi di lokasi petilasan Mangkubumi.
“Kegiatan ini menunjukkan masyarakat Desa Jekawal dapat hidup dengan guyub rukun dan ayem tentrem. Pesan untuk generasi muda, kegiatan ini harus diuri-uri untuk mengingatkan asal usul Desa Jekawal,” tuturnya.
Menurutnya, keberadaan petilasan juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata sejarah dan religi di Kecamatan Tangen.
“Saya ingin Desa Jekawal tambah terkenal karena keberadaan Petilasan Mangkubumi ini,” ujarnya.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sragen, Muslim, menilai kisah perjuangan Pangeran Mangkubumi memiliki nilai yang tetap relevan bagi masyarakat saat ini. Menurutnya, salah satu hikmah yang dapat dipetik adalah keberanian melawan ketidakadilan, penjajahan, dan kedzaliman.
“Hikmah yang dipetik dari perjuangan Pangeran Mangkubumi yaitu melawan ketidakadilan, melawan penjajahan, melawan kedzaliman. Saya doakan masyarakat Jekawal merupakan masyarakat yang berani melawan ketidakadilan, melawan kedzaliman sehingga Sragen lebih makmur,” katanya.
Bagi warga, Sedekah Bumi menjadi kesempatan untuk berkumpul dan merawat kebersamaan. Jakiyem, salah seorang warga Jekawal yang mengikuti kegiatan, mengaku senang dapat kembali mengikuti tradisi tersebut.
“Orang desa umumnya seperti ini, tiap tahun ada acara gunungan seperti ini supaya tetap rukun dan ayem. Saya merasa senang mengikuti tradisi Sedekah Bumi ini,” ujarnya.
Ia berharap tradisi tersebut terus berlangsung dan semakin baik pada tahun-tahun mendatang.
“Harapan ke depan semoga pelaksanaan Sedekah Bumi tahun berikutnya lebih baik lagi sehingga masyarakat dapat semakin makmur,” katanya. (Sugimin/17- Release Diskominfo Sragen)
