Menikmati Panorama Waduk Jombor Menjelang Sandyakala

NEWS

WONOGIRI (inspirasiline.com) Group paduan suara PWRI Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, melaksanakan acara dolan bareng. Dua objek wisata yang dituju yaitu Cokro Tulung, dan Waduk Jombor.

Kegiatan diikuti puluhan peserta dan sebagian pengurus. Kegiatan tersebut bertujuan ” sum – suman ” mengembalikan kebugaran tubuh, sekaligus refreshing setelah beberapa waktu melaksanakan kegiatan organisasi dan lomba dalam rangka HUT PWRI 2026.

Rumah makan apung Rowo Jombor.

Peserta berangkat dari kota sate Baturetno, pukul 07.00. Pukul 10.00  peserta sampai di objek wisata Sumber Cokro. Di sana peserta memanfaatkan beningnya air Cokro, sejuknya udara dingin, rindangnya pohon munggur, yang amat teduh bagai payung agung.

Sebagian peserta memanfaatkan kolam renang, berenang dengan gaya seadanya, bahkan ada yang hanya kecipak – kecipik bagai kuda Nil dalam kubangan air. Mereka yang bernyali pemberani, melakukan river tubing, menyusuri aliran sungai, Cokro sepanjang 1- 1,5 km.

Rowo Jombor di waktu malam.

Pukul 15.30 peserta meninggalkan objek Cokro Tulung menuju Waduk Jombor, diakhiri dengan swafoto diberbagai lokasi sesuai keinginan masing – masing.

Menuju Waduk Jombor

Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Suasana dalam kendaraan sungguh gayeng, sepanjang perjalanan terdengar alunan suara peserta secara bergantian menyanyikan lagu -lagu pop , dangdhut, campursari, langgam keroncong, kadang diselingi banyolan kocak, membuat suasana lebih santai.

River tubing Cokro Tulung

Pukul 16.30 rombongan berkostum merah hati ini sampai dilokasi. Waduk Jombor merupakan objek wisata air yang sedang ngetren saat ini. Waduk seluas 198 hektar ini berada di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Lokasi mudah dijangkau. Jika pengunjung berangkat dari jantung kota Klaten, jarak tempuh makan waktu sekitar 50 menit. Sepanjang perjalanan pengunjung disuguhi panorama alam pegunungan, tanaman padi yang sedang menguning, palawija, aliran air bening, serta perkampungan cantik lengkap kibaran  bendera, rontek, dan umbul – umbul.

Grup paduan suara PWRI Baturetno,Wonogiri.

Waduk Jombor dilengkapi jalur  lingkar. Jalan mulus kanan kiri dihiasi berbagai tanaman hias, pohon peneduh,  taman bunga.

Para pelancong dapat memanfaatkan jalan lingkar untuk olah raga jalan sehat,  sepeda santai, atau memanfaatkan jasa kereta kelinci mengelilingi perairan tersebut.

Di tempat ini pula para wisata dapat menikmati indahnya ” Taman Nyi Ageng Rakit “. Arena ini merupakan area publik yang indah nyaman untuk bersantai  memandang  alam sekitar sambil menikmati  jagung manis, serta nyruput  kopi panas, menanti waktu  sandyakala tiba.

Waduk Jombor merupakan wisata air, kuliner, warung apung, pemandangan alam. Tak hanya itu, di tempat ini pula para turis dimanjakan dengan  restoran dan tempat makan unik yang berdiri mengapung di atas permukaan air waduk, menyajikan masakan ikan air tawar, seperti gurame, nila, lele, dan olahan ayam bakar atau ayam goreng.

Yang perlu diketahui, ditempat ini para pengunjung tidak ditarik karcis masuk, hanya dimohon membayar parkir kendaraan, motor, mobil yang besarnya telah ditentukan.

Namun, jika para pelancong akan mengelilingi Waduk Jombor dengan naik perahu dikenakan karcis ; anak Rp.5.000, dewasa Rp 10.000. @ orang.

Durasi tempuh kurang lebih 50 menit.

Untuk kendaraan air jenis speed boat pengunjung cukup merogoh kocek  Rp 50.000 – Rp 80.000 @ perahu. Di dalam perahu, pengunjung dapat melihat keindahan perairan Waduk Jombor secara lepas. Ratusan karamba jakapung, para pemancing, bola apung, umbul – umbul yang melambai ditiup angin kencang, hingga membuat penumpang sedikit kedinginan.

Tak terasa, sandyakala tiba, mentari setengah badan masuk keperaduan, ufuk barat terlihat merah tembaga, lampu hias mulai dinyalakan.

Sinar lampu memantul ke perairan Waduk Jombor, membentuk warna pelangi,  memper molek Waduk Jombor dan sekitarnya lebih kelihatan indah.

Dari kejauhan sayup – sayup terdengar lagu Perahu layar, joged goyang bersama, dibarengi irama jedhag – jedhug.

Kurang lebih 50 menit perahu  wisata merapat di tepi  dermaga. Di dalam perahu  para pengunjung menikmati hidangan yang telah dipesan sebelumnya, sambil menikmati indahnya sandyakala di ufuk barat berwarna merah tembaga.

Suasana tersebut ternyata tak disia-siakan para pengunjung. Ia memanfaatkan suasana sandyakala untuk selvi – selvi dengan latar belakang mentari  tenggelam, serta G.Merapi dan G. Merbabu yang kelihatan setengah tidur. (SK/19)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *