ukur-bobot-sapi

Tak Lagi Tebak Bobot Sapi, Tim Undip Kenalkan Cara Sederhana Ukur Ternak di Papua

NEWS

KEEROM (inspirasiline.com) — Aktivitas sore Mak Tri, peternak di Kawasan Transmigrasi (KT) Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, biasanya diisi dengan menyusuri lahan untuk mengarit rumput sebagai pakan ternaknya.

Namun, pada Senin (31/8/2026), rutinitas itu terasa berbeda. Mak Tri didampingi Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 3 Universitas Diponegoro (Undip) yang datang bukan sekadar melihat aktivitas peternakan, tetapi juga berbagi pengetahuan sederhana yang dapat membantu peternak menentukan bobot dan harga sapi.

Di sela kegiatan mengarit, TEP 3 Undip memperkenalkan cara memperkirakan berat badan sapi hanya menggunakan pita ukur atau meteran.

Bagi Mak Tri, cara tersebut menjadi pengetahuan baru. Selama ini, peternak di Senggi lebih banyak mengandalkan pengamatan visual dan pengalaman untuk memperkirakan bobot sapi.

“Oh iya? Saya baru tahu kalau sapi bisa diukur pakai meteran. Biasanya kami cuma kira-kira saja bobotnya untuk patokan harga jual,” ungkap Mak Tri saat didampingi TEP 3 Undip di lokasi SP 2 KT Senggi.

Pita Ukur Jadi Alternatif Saat Timbangan Tak Tersedia

TEP 3 Undip yang diketuai Ir. Daud Samsudewa, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM, mengenalkan metode tersebut sebagai solusi praktis bagi peternak yang tidak memiliki akses terhadap timbangan ternak.

Caranya sederhana. Pita ukur dilingkarkan pada bagian dada sapi, tepat di belakang bahu, ketika ternak dalam posisi berdiri.

Hasil pengukuran lingkar dada kemudian digunakan dalam rumus untuk memperkirakan bobot badan ternak.

Bobot badan (kg) = (lingkar dada dalam cm + 22)² ÷ 100.

Sebagai contoh, sapi dengan lingkar dada 180 sentimeter diperkirakan memiliki bobot sekitar 408 kilogram.

Metode tersebut telah lama digunakan oleh peternak di sejumlah daerah di Indonesia sebagai alternatif ketika timbangan ternak tidak tersedia. Kini, cara serupa diperkenalkan kepada peternak di Senggi melalui pendampingan TEP 3 Undip.

Bantu Peternak Tentukan Harga Jual

Bagi peternak kecil seperti Mak Tri, informasi mengenai bobot ternak bukan sekadar angka.

Perkiraan bobot dapat menjadi salah satu acuan untuk memantau pertumbuhan sapi sekaligus membantu peternak memiliki dasar yang lebih jelas ketika menentukan harga jual.

Mak Tri menilai penggunaan pita ukur membuat peternak tidak sepenuhnya bergantung pada perkiraan visual.

Pengetahuan tersebut juga dapat digunakan secara mandiri setelah masa pendampingan TEP 3 Undip berakhir.

“Dengan adanya meteran ini, kami jadi punya patokan. Jadi tidak hanya menebak-nebak lagi,” kata Mak Tri.

Undip Petakan Kondisi Sapi di Senggi

Selama tiga pekan melakukan observasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, TEP 3 Undip menemukan bahwa pengukuran bobot sapi belum menjadi praktik umum di kalangan peternak setempat.

Sebagai langkah awal, tim melakukan sampling terhadap lima ekor sapi milik empat peternak di Senggi.

Hasil pengukuran memberikan gambaran awal mengenai kondisi fisik ternak dewasa di wilayah tersebut. Sapi indukan tercatat memiliki lingkar dada di atas 190 sentimeter, sedangkan sapi jantan berada pada rentang 180-200 sentimeter.

Data tersebut menjadi salah satu bahan awal bagi tim untuk memahami kondisi riil peternakan sapi di Senggi.

Bagi TEP 3 Undip, proses pengukuran bukan hanya kegiatan teknis. Interaksi langsung dengan peternak juga menjadi kesempatan untuk menggali pola pemeliharaan, kendala yang dihadapi, serta kebutuhan masyarakat dalam mengembangkan usaha peternakan.

Pengetahuan Sederhana untuk Dampak Jangka Panjang

Data yang dikumpulkan selama pendampingan selanjutnya dapat menjadi bahan dalam menyusun rekomendasi pengembangan peternakan sapi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Senggi.

Di sisi lain, edukasi penggunaan pita ukur memiliki manfaat yang dapat terus diterapkan masyarakat secara mandiri.

Peternak tidak membutuhkan perangkat mahal untuk melakukan pengukuran awal. Dengan alat sederhana yang mudah digunakan, mereka dapat memperoleh perkiraan bobot ternak secara lebih terukur.

Inisiatif TEP 3 Undip tersebut menjadi salah satu bentuk transfer pengetahuan dari perguruan tinggi kepada masyarakat di wilayah pedalaman Papua.

Lebih jauh, langkah tersebut diarahkan untuk mendorong pengelolaan peternakan yang lebih terukur, transparan, dan berkelanjutan.

Pendampingan ini juga sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan melalui penguatan ekonomi peternak, SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan lokal, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat. (*)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *