SRAGEN (inspirasiline.com) Berawal Dari Kegemaran Menonton Film India, Mulatri (30), Warga Dusun Banyurip, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Menemukan Peluang Usaha Dari Seni Henna. Sejak 2015, Ia Menekuni Jasa Menggambar Henna Untuk Berbagai Acara, Terutama Pernikahan.
Perempuan yang akrab disapa Latri itu tertarik dengan Henna setelah melihat tangan pengantin dalam prosesi pernikahan di Film India. Rasa penasaran membuatnya mulai mencari informasi dan belajar secara otodidak melalui YouTube.
Ia membeli bahan sendiri dan berlatih menggambar di tangan. Teman-teman kuliahnya menjadi tempat latihan pertama. Sekitar 2015–2016, salah Satu Temannya bahkan memperkenalkan Jasa Henna Latri untuk sebuah acara pernikahan di Depok, saat dirinya masih Kuliah di Pamulang, Tangerang.
“Awalnya Suka Lihat Film India. Melihat pengantinnya pakai Henna, saya tertarik dan mulai mencari tahu. Belajarnya otodidak dari YouTube,” ujar Latri saat dihubungi Tim Liputan Diskominfo Sragen, Jumat (4/9/2026).
Setelah Kulus Kuliah Dan Kembali Ke Sragen, Latri mulai serius membangun bisnisnya. Akun Instagram pribadinya diubah menjadi Portofolio dengan mengunggah hasil karya Henna sekaligus mencantumkan nomor kontak.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Pelanggan mulai berdatangan melalui WhatsApp setelah melihat karyanya di media sosial. Sebagian pelanggan lainnya datang dari rekomendasi pelanggan sebelumnya, keluarga dan kerabat.
Tren Henna Terus Berubah
Latri mengatakan motif bunga menjadi desain yang paling banyak diminati pengantin karena terlihat cantik ketika diaplikasikan di tangan. Meski demikian, ia tetap melayani permintaan khusus sesuai keinginan pelanggan.
Pemilihan desain juga disesuaikan dengan bentuk tangan. Desain yang terlalu penuh, misalnya, akan dihindari pada tangan yang cenderung berisi agar terlihat lebih proporsional.
Tren warna henna pun terus berkembang. Jika sebelumnya warna marun banyak diminati, tren kemudian bergeser ke Henna Putih, nude yang menyerupai gold, hingga warna pink.
Menurutnya, perubahan tren tersebut mengikuti perkembangan zaman dan selera generasi muda, terutama Gen Z. Karena itu, seorang perajin Henna harus terus belajar dan mengikuti perkembangan desain melalui media sosial.
Untuk satu pengantin, pengerjaan Henna membutuhkan waktu sekitar 1–2 Jam, tergantung tingkat kerumitan desain. Dalam sehari, Latri membatasi pesanan maksimal sekitar lima hingga enam pengantin agar kualitas pekerjaan tetap terjaga.
Saat musim pernikahan, ia rata-rata menangani 25–30 pengantin per bulan. Jumlah tersebut bahkan dapat mencapai 40–45 pengantin ketika permintaan sedang tinggi. Sebaliknya, pada musim sepi, jumlah pesanan dapat turun drastis.
Tarif jasa Henna di Sragen berkisar Rp200 Ribu hingga Rp450 Ribu, tergantung warna dan desain. Untuk pelanggan di luar Sragen, dikenakan tambahan biaya transportasi. Pelayanan dilakukan dengan mendatangi langsung rumah pelanggan.
Andalkan Media Sosial
Bagi Latri, media sosial menjadi salah satu kunci penting dalam mengembangkan usaha. Jika sebelumnya mengandalkan Instagram, kini ia juga aktif memasarkan jasa melalui TikTok.
Ia rutin mengunggah hasil karya untuk membangun branding sekaligus menarik calon pelanggan.
“Harus terus belajar dan mengikuti tren. Kalau ingin tetap dikenal, hasil karya dan cara pemasarannya juga harus selalu diperbarui,” katanya.
Latri mengakui persaingan Jasa Henna kini semakin ketat dengan munculnya banyak perajin baru. Namun, kondisi tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan keterampilan dan mengikuti keinginan pelanggan.
Usaha Henna tersebut kini menjadi sumber penghasilan utama bagi Latri. Karena sifatnya musiman, ia memilih menabung sebagian penghasilan saat musim pernikahan untuk menghadapi masa sepi.
Meski telah banyak mendapat permintaan untuk membuka kursus Henna, Latri mengaku belum berani membuka layanan tersebut. Ia memilih terus mengembangkan keterampilan dan fokus memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan.
Pemesanan jasa henna dapat dilakukan melalui Instagram @Lathree.Hennasragen atau WhatsApp 082138260460. (Sugimin/17- Release Diskominfo Sragen)
