SRAGEN (inspirasiline.com) Kelurahan Sine, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan sanggul tradisional yang masih bertahan hingga kini. Selain menjadi bagian dari tata rias dan budaya Jawa, pembuatan sanggul berkembang menjadi usaha rumahan yang menopang perekonomian keluarga.
Salah satunya Sanggul Sodri, usaha milik Painem yang dirintis sejak 1990. Kini, usaha tersebut diteruskan putrinya, Siti Mahmudah (33).
Sejak kecil, Siti sudah terbiasa membantu sang ibu. Awalnya ia hanya membantu membungkus sanggul, namun karena sering melihat proses pembuatannya, Siti akhirnya mampu membuat sanggul sendiri.
“Dari kecil sering membantu, awalnya hanya membungkus sanggul. Karena sering melihat proses pembuatannya, lama-lama saya bisa membuat sendiri,” kata Siti kepada Tim Liputan Diskominfo Sragen, Rabu (9/9/2026).
Berbekal keterampilan tersebut, Siti mengembangkan produk dengan tetap mempertahankan sanggul tradisional sekaligus membuat berbagai model sanggul modern. Saat ini terdapat sekitar 60 jenis sanggul modern, sebagian berdasarkan permintaan pelanggan dan sebagian merupakan hasil modifikasi sendiri.
Manfaatkan Marketplace, Tembus 10 Ribu Pembeli
Pandemi Covid-19 sempat membuat penjualan Sanggul Sodri menurun. Kondisi tersebut mendorong Siti mencari cara baru untuk memasarkan produknya.
Sekitar 2021, ia mulai membuka toko di marketplace. Awalnya hanya mendapat satu hingga dua pesanan, tetapi jumlahnya terus meningkat hingga kini tercatat sekitar 10 ribu pembeli.
“Awalnya tidak langsung ramai. Hanya satu-dua pesanan, kemudian semakin banyak. Dari awal toko Shopee dibuat sampai sekarang sudah sekitar 10 ribu pembeli,” ujarnya.
Pemasaran secara online membuat Sanggul Sodri menjangkau pelanggan dari berbagai daerah. Sejumlah reseller berasal dari Surabaya, Jember, Kediri, Yogyakarta, Jakarta hingga Pekanbaru. Pesanan dari reseller bahkan mencapai 500 hingga 1.000 sanggul dalam sekali pemesanan.
Tetap Dibuat Manual
Meski pemasaran telah berkembang secara digital, Siti tetap mempertahankan proses pembuatan sanggul secara manual. Cara tersebut dinilai mampu menjaga bentuk, kerapian, dan karakter sanggul tradisional.
“Untuk sanggul tradisional prosesnya lebih lama karena tahapannya lebih banyak. Sebagian besar dibuat manual dengan tangan,” jelasnya.
Bahan yang digunakan antara lain rambut sintetis, benang wol, benang jahit, jarum, dan hairspray. Hanya pembuatan alas sebagai dasar sanggul yang menggunakan mesin jahit.
Dalam menjalankan usahanya, Siti dibantu lima karyawan dan sang ibu. Ia fokus mengelola toko online, melakukan pengemasan, sekaligus membantu produksi ketika pesanan sedang tinggi.
Sehari, produksi mencapai sekitar 25 sanggul tradisional dan 100 sanggul modern. Permintaan biasanya meningkat pada Agustus. Dalam kondisi ramai, pesanan online bahkan bisa mencapai 200 pembeli dalam sehari.
Diminati untuk Pernikahan hingga Karnaval
Sanggul produksi Sanggul Sodri digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari pernikahan, tata rias tradisional Jawa, karnaval, perayaan Hari Kemerdekaan hingga Hari Kartini.
Sanggul tradisional seperti model Jawa dan tekuk menjadi produk yang paling diminati. Selain itu, cepol polos dengan lima pilihan ukuran juga banyak dicari.
Harga sanggul tradisional berkisar Rp25 ribu-Rp65 ribu, sedangkan sanggul modern dibanderol Rp4 ribu-Rp25 ribu, tergantung model.
Bagi Siti, usaha tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga cara untuk mempertahankan keterampilan yang telah diwariskan sang ibu. Tradisi pembuatan sanggul pun terus berkembang dengan mengikuti kebutuhan dan tren pasar.
Bagi yang berminat memesan Sanggul Sodri, dapat menghubungi:
WhatsApp: 081328222050
Shopee: sanggulsragen_sodri ( Sugimin/17- Telease Diskomimfo Sragen)
