GROBOGAN (inspirasiline.com) Di tengah gemuruh zaman yang kian modern dan bising oleh dentuman digital, ada sebuah sudut sunyi di Kota Purwodadi yang memilih untuk tetap merawat gema masa lalu.
Dari Gedung Serbaguna Dewi Sri, Danyang Purwodadi, alunan gamelan itu masih terdengar. Pelan, namun pasti. Seperti doa yang dipanjatkan dari kayu, kulit, dan perunggu.
Di sanalah Sanggar Seni Weden Sawah bermarkas. Sanggar yang telah delapan tahun bernafas, tumbuh dalam diam, dan merawat ingatan kolektif bernama Kebudayaan Jawa.

Di tengah krisis identitas generasi muda, sanggar ini mengambil jalan sunyi yang mulia: menanamkan kembali akar Jawa kepada para pelajar, dari jenjang Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas.
Saat ini, tak kurang dari 200 anak sekolah mengikuti latihan rutin, dua kali dalam sepekan, setiap Selasa dan Kamis. Mereka datang bukan untuk sekadar menabuh. Mereka datang untuk belajar menjadi Jawa seutuhnya yang halus budi, yang santun rasa.
Fenomena ini adalah sebuah anomali yang indah dalam diskursus pendidikan kultural kita. Ketika banyak anak lebih hafal koreografi asing, di Weden Sawah mereka justru belajar arti sebuah pukulan gong.
“Saat pendaftaran siswa baru, kami sempat menolak calon peserta. Sebab kami hanya membuat 2 grup, yang masing-masing anak harus benar-benar menguasai alat gamelannya,” ujar Titis Trisiswanto, S.Sn kepada media Inspirasi line com Sabtu (3/10/2926) , ia selaku oordinator Sanggar yang sehari-harinya bekerja sebagai pengajar di SMPN 1 Toroh Kab.Grobogan.
Penolakan itu bukanlah arogansi. Itu adalah komitmen. Sebuah dialektika antara kualitas dan kuantitas. Bahwa budaya tidak boleh diajarkan secara massal dan tergesa-gesa, melainkan harus diresapi, seperti tembang yang mengalir pelan.
Sanggar yang telah berdiri selama 8 tahun ini digagas dan dibentuk oleh seorang guru seni yang handal dan berpengalaman sosok yang memahami bahwa Jawa bukanlah sekadar masa lalu, melainkan masa depan yang harus dijaga.
Sejak berdiri hingga detik ini, sanggar ini telah menorehkan satu kali pagelaran seni karawitan dan tari Jawa. Satu kali, namun berbekas. Seperti cinta pertama yang tak pernah benar-benar usai.
Di Weden Sawah, kita belajar satu hal bahwa ketika gong terakhir dipukul, yang tertinggal bukan hanya gaungnya, tetapi juga kerinduan. Kerinduan akan sebuah identitas yang hampir saja kita lupakan.
Dari Danyang, untuk Jawa. Dari Gamelan, untuk Peradaban. (jk)
