WONOGIRI (inspirasilune.com) – Pada prinsipnya, orang Jawa memiliki sikap “andhap asor” (rendah hati) dan tidak suka mencemarkan atau memalukan orang lain. Secara luas ini berarti bahwa dalam setiap persoalan, perlu diupayakan agar kita dapat mencapai keinginan tanpa harus membuat orang lain merasa dikuasai atau dikalahkan. Oleh sebab itu, ada ungkapan yang mendidik orang Jawa untuk memiliki sikap rendah hati dan tidak secara transparan mendikte atau mendominasi pihak – pihak yang pada awalnya berbeda pandangan dengannya. Ungkapan itu adalah ” menang tanpa ngasorake.”
Ungkapan ini terbentuk : menang (menang), tanpa (tanpa), dan Ngasorake ( terbentuk dari ” ng ” + asor + ake, yang berarti , ” mengalahkan ”
Ungkapan yang merupakan cerminan kehati – hatian orang Jawa itu tidak terlepas dari sikap hidup orang Jawa, bahwa sebaiknya kita tidak perlu menyampaikan maksud dan keinginan secara terbuka. Dalam kaitan ini, diperlukan kecerdasan sikap “samudana” atau berpikir secara simbolik.

Kita harus memahami bahwa ada (sewu dalan) seribu jalan untuk mencapai tujuan, tanpa harus menempatkan orang lain sebagai lawan. Kita perlu berupaya agar maksud kita tercapai, dan dalam waktu bersamaan orang lain tidak menyadari bahwa dirinya telah mengikuti atau menyetujui pandangan kita.
Ungkapan Jawa ini terkait dengan kebiasaan orang Jawa yang berpikir ” empan papan ” ( mengerti situasi dan kondisi ) setiap persoalan. Selain itu orang Jawa terbiasa berpikir hati – hati agar bisa mengenakkan semua pihak, terutama bagi orang yang berseberangan dengan dirinya.
Kita sering mendengar ucapan orang Jawa ” nggutuk elor kena kidul ” (melempar utara kena selatan). Maksudnya, melakukan perbuatan A (baik berupa ucapan, tingkah laku, dan sebagainya ), tetapi dengan tujuan mendapatkan B.
Ungkapan ” menang tanpa ngasorake ” sangat tepat untuk menciptakan harmoni dalam berumah tangga atau bermasyarakat. Semua itu diarahkan untuk menghindari timbulnya konflik yang dapat menciptakan keretakan hubungan atau perselisihan dalam komunitasnya. Dengan demikian, ungkapan tersebut erat kaitannya dengan ungkapan ” wani ngalah luhur wekasane ” (berani mengalah luhur pada akhirnya).
Sebagai contoh, orang yang tidak sependapat dengan pandangan orang lain tidak harus menyatakannya secara terbuka, semisal dengan mengatakan ” Saya tidak setuju dengan pendapat Anda “; “Pendapat Anda tidak baik”, “Pendapat Anda sulit dimengerti” ; ” Pendapat Anda tidak logis atau tidak masuk akal” , atau sejumlah ungkapan penolakan lain yang dinyatakan secara terbuka, langsung dan transparan. Bagi orang Jawa, lebih baik penolakan atau ketidaksetujuan itu dinyatakan dengan bahasa yang lebih halus dan menyatakan penolakan secara tidak langsung. Sebagai misal, untuk menyatakan ketidaksetujuan dapat dinyatakan dengan kalimat; ” Sepertinya pendapat Anda itu baik, tetapi…” ; atau ” Pendapat Anda itu sangat baik , tetapi …”; atau ; Pendapat Anda sangat baik, tetapi akan lebih baik jika…”; atau Pendapat Anda tidak salah, tetapi akan lebih baik jika …” ; dan sebagainya. Dengan cara pengungkapan seperti itu, lawan bicara kita tidak merasa pendapatnya ditolak, tidak merasa pendapatnya jelek, tidak merasa kalah pandai dengan diri kita, tidak merasa tersinggung sehingga tetap merasa dihargai.
Dalam hubungan ini, perlu dihindari sikap egois, yakni sikap yang mengatakan bahwa dirinya sendiri yang paling benar, pendapatnya yang harus dipakai, dirinya yang paling cerdas, dan sebagainya.
Begitulah makna tentang ungkapan ” menang tanpa ngasorake .” Dalam cerita wayang digambarkan oleh tokoh Pandawa yang selalu berpegang pada nilai sopan santun, tata krama, dan menghargai pendapat orang lain.
( Nasum : Pardi Suratno & Geniy Astiyanto )
