Sragen-Inspirasiline.com. Sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sragen sudah menggunakan Cash Management System (CMS) untuk transparansi keuangan. Diharapkan dengan CMS, pengelolaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan bantuan operasional pendidikan lainnya lebih transparan.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Sragen Dwiyanto menyampaikan, saat ini sudah ratusan jenjang SD mulai menggunakan CMS. Sedangkan jenjang Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) secara keseluruhan sudah dilaksanakan pada 2021 lalu.
”Sekitar 52 sekolah tingkat SMPN sudah tahun lalu. Sedangkan SD untuk tahun lalu ada 192 sekolah sedangkan tahun ini ada 410 sekolah hingga 15 Maret nanti selesai untuk pelatihannya, jadi ada 602 sekolah” Ungkap Dwiyanto kepada Inspirasiline.com Senin (7/3/2022).
CMS ini dapat mencegah kebocoran anggaran. Nantinya dana keuangan sekolah seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dapat dipantau melalui satu aplikasi secara online dan real time. Dengan sistem ini, diharapkan tak ada lagi kepala sekolah menggunakan uang BOS secara tunai.
”Harapannya uang yang masuk dan keluar di sekolah tersistem dengan baik. Jadi keluar uang terekap lewat internet banking terpantau pengeluarannya. Kecuali kondisi tertentu, misalnya bayar tukang bersih-bersih Rp 50 ribu, tidak perlu mereka buka rekening dahulu,” Ungkapnya.
Dwiyanto menyampaikan dengan singgle account, data keuangan terekap dengan baik. Termasuk sumbangan komite harusnya juga dimasukkan dalam CMS tersebut.
”Kalau pemasukan resmi dan penggunaannya juga resmi, jadi singgle account bisa dilihat. Tujuannya memang penggunaan dana BOS, karena langsung masuk rekening sekolah,” Ungkanya menjelaskan.
Dwiyanto mengatakan belum mendengar untuk kabupaten lain yang sudah 100 persen semua sekolah. Namun rata-rata sudah berproses untuk CMS.
Terpisah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ( Disdikbud) Sragen Suwardi membenarkan, Sekolah sudah menggunakan CMS, sejak 2021 dalam Rencana Kegiatan Sekolah (RKS).
” Semua itu untuk transfaransi dalam penggunaan uang Sekolah” Ungkap Suwardi singkat. (Sugimin/17)
