Ponpes Kauman Lasem Berkembang Ditengah Komunitas Pecinan.

NEWS

Rembang-Inspirasiline.com – Pondok pesantren (Ponpes) Kauman di Desa Karangturi,  Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, adalah salah satu ponpes yang mengajarkan toleransi kepada para santrinya.

Ponpes Kauman ini berada di tengah kawasan dan komunitas Pecinan dan bersebelahan dengan penduduk Kauman sekitar Masjid Jami’ Lasem. Kehidupan santri bisa membaur secara baik dengan masyarakat etnis Tionghoa, Jawa dan Arab keturunan.

Pengasuh Ponpes Kauman Lasem, KH M Zaim Ahmad Ma’shoem (Gus Zaim) mengatakan, awalnya rumah berarsitektur Tionghoa ini didirikan pada tahun 1880. Kemudian, ia membeli rumah tersebut pada tahun 2001 lalu.

“Rumah pesantren ini adalah rumah asli orang Tionghoa yang didirikan tahun 1880, dulu pemilik rumah bernama Go Ban San kemudian turun ke anaknya bernama Go Tieng Kiem dan akhirnya kami beli pada tahun 2001 lalu,” kata Gus Zaim kepada media ini, kemarin.

Gus Zaim mengaku, setelah menempati rumah itu pada tahun 2003, sebenarnya tidak berniat mendirikan pesantren. Ia hanya pindah rumah bersama keluarga dari Ponpes Al-Hidayat, Desa Soditan, Lasem ke kawasan pecinan, Desa Karangturi.

“Awalnya tidak ada niat mendirikan pesantren. Karena beberapa alumni Ponpes Al-Hidayat meminta saya untuk mengajar beberapa santri, akhirnya saya membangun kamar baru. Jumlah santrinya terus meningkat pada 2005-2006 hingga mencapai 60 orang,” terangnya.

Gus Zaim yang juga Wakil Rois Syuriah PWNU Jateng ini menjelaskan, yang membuat berbeda dari Ponpes Kauman adalah hiasan kaligrafi Arab dan China di gapura masuk. Hal tersebut dilakukan lantaran untuk menyatukan nuansa Arab dan China karena toleransi terhadap penduduk sekitar cukup tinggi.

“Kami membuat tagline untuk Ponpes Kauman sebagai Ponpes yang ramah. Seluruh lembaga di pesantren ini mempunyai ciri khas multikultural,” ujar Gus Zaim.

Cucu Ulama besar KH Ali Maksoem Krapyak Yogyakarta itu menambahkan, Ponpes Kauman sengaja tidak melepas ornamen-ornamen khas China karena ingin melestarikan sejarah. Ia menilai setiap bangunan lama mempunyai sejarahnya masing-masing.

“Kami tidak mengubah ornamen dan bangunan rumahnya, karena rumah ini juga bagian dari cagar budaya yang harus dilestarikan, bahkan saya juga merubah bangunan poskamling sesuai lingkungan masyarakat sini. Di sini kan kampung China, mayoritas warganya juga China, jadi tidak ada masalah jika memasang ornamen khas China, itu bagian dari budaya dan tidak bertentangan dengan agama,” imbuhnya.

“Kami selalu menekankan kepada para santri untuk membantu masyarakat meski berbeda agama. Islam mengajarkan umatnya untuk saling membantu,” tandasnya.

Ada cerita menarik pemugaran poskamling di depan pondok. Dulu poskamling itu sebagai tempat untuk nongkrong dan minum-minum para pemuda. Gus Zaim lantas memerintahkan santrinya untuk mengumpuli para pemuda itu.

“Ya tak suruh kumpul, pakai sarung pakai peci. Wes pokoknya tiap hari tak perintahkan untuk ngumpuli. Lama kelamaan para pemuda itu sungkan lalu meninggalkan poskamling di depan pondok sebagai tempat minum-minum. Setelah itu poskamling saya pugar. Saya izin RT dan RW untuk memugar,” katanya.

Pengajian Puasanan

Tradisi pengajian puasanan di Ponpes Kauman Lasem yang sempat ditiadakan pada Ramadan tahun lalu akibat pandemi COVID-19, tahun ini kembali digelar. Suasana baru terasa karena jumlah jemaah yang datang kembali banyak seperti sebelum adanya pandemi.

Usai salat Subuh hingga malam hari di Ponpes Kauman, digelar pengajian puasanan untuk masyarakat umum.

“Bedanya dengan tahun lalu, tahun lalu agenda pengajian puasanan dikhususkan untuk santri ponpes sendiri dan wajib menggunakan prokes, jadi warga atau masyarakat pendatang tidak diperbolehkan ikut. Namun, untuk tahun ini sudah dilaksanakan kembali,” katanya.

Pengajian puasanan, kata Zaim digelar mulai selesai salat Subuh hingga pukul 22.00 WIB. Pengajian puasanan diisi dengan pengajian kilatan, seperti kajian fikih, hadis dan tasawuf.

Zaim menjelaskan, pengajian puasanan bertujuan untuk menampung masyarakat umum yang ingin mengaji bersama para santri. Peserta pengajian puasanan datang dari berbagai daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Peserta atau masyarakat yang datang berasal dari berbagai daerah dan berbagai usia. mayoritas dari Jawa Tengah, tapi juga ada yang dari Jawa Timur dan Jawa Barat,” terangnya.

“Mungkin masyarakat sudah kangen, karena dua tahun sudah tidak melaksanakan agenda itu. Total santri dengan masyarakat yang datang untuk mengikuti pengajian puasanan itu ada 600 orang setiap harinya,” pungkas Gus Zaim. (Yon Daryono)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *