Wonogiri-Inspirasiline.com. Persatuan Werdatama Republik Indonesia ( PWRI ) Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, menyelenggarakan Halalbihalal, dihadiri ratusan anggota dan pengurus, bertempat di Gedung PWRI Baturetno. ( 14/4/2025).
Acara Halalbihalal diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin Istirahayu, S.Pd., dilanjutkan pembacaan ayat suci Al – Qur’an oleh Murtini, M.Pd.

Acara dibuka oleh ketua penyelenggara (Sahid,S.Ag.) ” Kami ucapkan selamat datang, serta mohon maaf segala kekurangan dalam pelaksanaan halalbihalal. Semoga acara ini berjalan lancar. ” Ujarnya.
Acara dilanjutkan ikrar halalbihalal disampaikan oleh Drs Erwan Tri Nugroho, diterima oleh ketua PWRI Baturetno (H.Sujata,BA).


Pada kata sambutan ketua PWRI Kecamatan Baturetno (H.Sujata,BA) mengatakan, kegiatan Halalbihalal ini merupakan program kerja tahunan PWRI.
Halalbihalal bertujuan sebagai wahana silaturahmi, selebihnya memperkuat persatuan dan menjaga keharmonisan dalam berorganisasi.
Kali ini panitia Halalbihalal, menghadirkan ustaz H.Parman Hanif, M.Pd. dari Glesungrejo, Baturetno, Wonogiri. Ustaz muda ini berstatus sebagai Pengawas Sekolah Dinas P Dan K Kab.Wonogiri, sekaligus juga seorang dalang wayang kulit.

Pada tausiyahnya, secara garis besar H. Parman Hanif menjelaskan kronologi serta makna halalbihalal.
Ia menjelaskan hal tersebut dimulai dari sejarah Mataram, Keraton Surakarta, Jogjakarta, dan Mangkunegaran.
Penyampaian materi dipaparkan dengan bahasa lugas, kocak, sesekali diselingi guyon santun lewat tembang macapat Dhandhanggula ” Semut Ireng” karya Kanjeng Sunan Kalijaga. Hal tersebut membuat suasana terkesan lebih cair.
Syair Dhandhang Gula Sl.9
” Semut Ireng anak – anak sapi
Kebo bung kang anyabrang bengawan
Keong gondhang crak sungute
Timun wuku ron walu
Surabaya geger kepati
Geger wong nguyak macan
Den wadhahi bumbung
Alun – alun Kartasura
Gajah meta cinancang wit sidagori
Mati cineker ayam
Menurut Paman Hanif, tembang tersebut filosofi mendalam, di antaranya menceritakan tentang gambaran rakyat kecil (dilambangkan semut ) bercita – cita dapat memiliki keturunan/ penerus menjadi seorang pemimpin yang hebat, kuat, berguna ( disimbulkan sapi dan kebo yang bersemangat kuat ). Cita – cita akan tercapai jika diperjuangkan dengan tekat yang kuat, semangat, tekun, pantang menyerah, dan dilandasi ketakwaan.
Lebih lanjut H. Parman Hanif menjelaskan, semula halalbihalal dilaksanakan oleh punggawa keraton beberapa ratus tahun silam. Sesuai perkembangan zaman halalbihalal dilaksanakan di berbagai instansi, organisasi, masyarakat, dan masing – masing keluarga.
Tujuan halalbihalal, sebagai wahana silaturohmi, saling maaf – memaafkan antar insan.
” Pada hakekatnya orang hidup ini setiap hari melakoni perang hati, perang batin. Perang itu berupa pemikiran, gagasan baik, melawan pikiran/ gagasan buruk. Manusia tak luput khilaf dan salah, terhadap diri sendiri ataupun kepada orang lain.
Oleh karena itu, perlu adanya halalbihalal, untuk saling melepaskan kesalahan dan kembali ke fitrah ” jelasnya.
Untuk menyemarakkan suasana halalbihalal, disajikan musik orgen tunggal ( Arif Jatisiswojo,S.Pd ) fokal Harto, M.Pd., Paryoto, S.Pd. Sularmi, S.Pd. serta Suratmi (Ketua Kerta) duet melantunkan lagu Podhang Kuning.
Ladrang Gleyong, mengiringi jabat tangan antar anggota dengan pengurus PWRI, sekaligus menandai acara halalbihalal telah usai. (SK/19)
