Kunjungan Sri Sultan Hamengkubuwono X Di Sragen Perkuat Ikatan Sejarah Sukowati Dan Yogyakarta

NEWS

Sragen-Inspirasiline.com.  Rangkaian Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 di Kabupaten Sragen resmi ditutup melalui malam puncak yang berlangsung di Halaman Kantor Terpadu Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen, Kamis (9/7/2026). Acara yang digelar Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Kebudayaan Provinsi DIY itu menjadi momentum mempererat kembali hubungan sejarah dan budaya antara Sragen dengan Yogyakarta.

Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 telah berlangsung sejak 2 hingga 9 Juli 2026 dengan menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari sarasehan sejarah, workshop, pameran, waruh budaya, hingga pameran sejarah dan permuseuman.

Di penghujung acara Muhibah Budaya, masyarakat Sragen disuguhi beragam pertunjukan sejak sore hari, ada tari klasik, reog, marching band, serta pasar rakyat. Beragam kesenian tari tradisional turut dipentaskan, seperti Macapat, tari Jejak Juang Sang Pangeran di Tanah Merdeka Mangkubumi, tari Golek Kutut Manggung, hingga Beksan Lawung Ringgit dari Keraton Yogyakarta.

Tak hanya itu, kedatangan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Kasultanan Yogyakrta, Sri Sultan Hamengkubuwono X di tlatah Sukowati menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Sragen.

Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan kehadiran delegasi Pemda DIY bersama Keraton Yogyakarta di Bumi Sukowati merupakan sebuah kehormatan sekaligus ikhtiar untuk merajut kembali nilai-nilai budaya Mataram.

“Merupakan sebuah kehormatan bagi delegasi Pemda DIY bersama Keraton Yogyakarta dapat hadir di Bumi Sukowati dalam rangkaian Muhibah Budaya bertema Merajut Budaya Mataraman dari Jogja untuk Indonesia,” ujarnya.

Dia menjelaskan, meski secara administratif wilayah Mataram terpisah setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, nilai-nilai budaya, etika, estetika, dan filosofi Mataram tetap hidup di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sragen.

“Di tanah inilah, pada 27 Mei 1746, di Pendopo Pandhak Krikilan, Masaran, Pangeran Mangkubumi meletakkan titik nol kedaulatan dengan membentuk pemerintahan. Tanggal itulah yang kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Sragen,” tuturnya.

Menurutnya, jejak sejarah tersebut menjadikan Sragen layak disebut sebagai “saudara tua” Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Sukowati bukan sekadar persinggahan, melainkan salah satu pilar yang menopang lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat,” katanya.

Melalui Muhibah Budaya ini, Sri Sultan berharap hubungan sejarah yang telah terjalin dapat terus dirawat melalui dialog, kajian, dan pertunjukan budaya sehingga memberikan manfaat bagi pengembangan khazanah budaya Mataram.

“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen atas penyelenggaraan Muhibah Budaya ini. Dengan memahami jejak dan asal usul kita, diharapkan dapat menggugah kesadaran generasi penerus sebagai modal berharga bagi pengembangan budaya kedua daerah,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, menyebut kunjungan Sri Sultan Hamengkubuwono X menjadi anugerah sekaligus berkah bagi Kabupaten Sragen yang tengah memperingati Hari Jadi ke-280.

“Kunjungan ini merupakan sebuah anugerah, kehormatan, dan berkah yang luar biasa bagi kami. Kehadiran Ngarsa Dalem tidak hanya menghadirkan kebahagiaan secara fisik, tetapi juga membawa kesejukan spiritual dan kultural bagi seluruh masyarakat Sragen,” ujarnya.

Bupati Sigit Pamungkas  menegaskan, hubungan antara Sragen yang dahulu dikenal sebagai Sukowati dengan Yogyakarta terjalin kuat melalui benang emas sejarah perjuangan Pangeran Mangkubumi.

“Hari Jadi Sragen yang diperingati setiap 27 Mei merujuk pada kepahlawanan Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Pada 27 Mei 1746, beliau mendirikan pusat pemerintahan perlawanan di Bumi Sukowati sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan Belanda,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, Pemkab Sragen setiap tahun membacakan sejarah perjuangan Pangeran Mangkubumi dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Sragen sebagai upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap akar sejarah daerah.

Menurutnya, Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 memiliki makna yang sangat mendalam karena tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga diiringi napak tilas Sri Sultan Hamengkubuwono X ke sejumlah situs perjuangan Pangeran Mangkubumi di Sragen.

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ngarsa Dalem dan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY yang telah berkenan menyelenggarakan Muhibah Budaya di Kabupaten Sragen. Momentum ini membangkitkan kembali dan mempererat sambung rasa antara Sragen dan Yogyakarta sekaligus menjadi ikhtiar bersama untuk nguri-uri kebudayaan Jawa yang adiluhung agar terus lestari dan berkesinambungan,” pungkasnya. (Sugimin/17- Release Diskominfo Sragen)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *