(inspirasiline.com) Abu vulkanik merupakan partikel halus yang terbentuk dari pecahan batu, mineral, dan kaca akibat letusan gunung berapi.
Partikel tersebut dapat terbawa angin hingga jauh dari sumber letusan dan menyebar ke permukiman penduduk, lahan pertanian, maupun wilayah perkotaan.
Meski sekilas terlihat seperti debu biasa, abu vulkanik perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan.
Partikel abu yang berukuran sangat kecil dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Abu vulkanik juga dapat mengenai mata dan kulit sehingga menimbulkan gangguan atau iritasi.
Paparan abu vulkanik perlu mendapat perhatian lebih, terutama bagi masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma atau bronkitis.
Anak-anak dan lansia juga termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak letusan gunung berapi perlu mewaspadai penyebaran abu vulkanik dan mengambil langkah perlindungan untuk mengurangi paparannya.
Ukuran partikel abu vulkanik yang sangat kecil membuatnya mudah terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Abu vulkanik juga dapat mengenai mata dan kulit sehingga menimbulkan berbagai keluhan.
Dampak paparan abu dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada konsentrasi abu di udara, lama paparan, serta kondisi kesehatan masing-masing.
Berikut sejumlah bahaya abu vulkanik bagi kesehatan yang perlu diwaspadai.
1. Iritasi saluran pernapasan
Abu vulkanik yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan batuk, tenggorokan terasa mengganjal, pilek, hingga sesak napas.
Keluhan tersebut dapat menjadi lebih berat pada penderita asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta anak-anak dan lansia.
2. Iritasi mata
Abu vulkanik yang masuk atau mengenai mata dapat menyebabkan mata merah, perih, berair, atau terasa seperti kemasukan pasir.
Jika mata terkena abu, hindari menggosoknya karena tindakan tersebut dapat memperparah iritasi.
Segera bilas mata menggunakan air bersih untuk membantu mengeluarkan partikel abu.
3. Iritasi kulit
Abu vulkanik yang menempel pada kulit dapat menyebabkan gatal, kemerahan, dan rasa tidak nyaman.
Keluhan tersebut lebih mudah terjadi pada orang dengan kulit sensitif.
Setelah beraktivitas di luar ruangan, segera bersihkan kulit menggunakan air dan sabun agar abu tidak terus menempel.
4. Memperburuk penyakit tertentu
Paparan abu vulkanik dapat memperparah gejala pada penderita penyakit pernapasan, seperti asma dan PPOK.
Orang yang memiliki penyakit jantung juga perlu lebih waspada karena gangguan pernapasan akibat paparan abu dapat memberikan beban tambahan bagi tubuh.
5. Gangguan pencernaan
Abu vulkanik yang mencemari makanan atau minuman kemudian tertelan dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti mual dan sakit perut.
Karena itu, makanan dan minuman perlu selalu ditutup rapat selama terjadi hujan abu.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik
Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Gunakan masker N95 saat berada di luar rumah karena masker tersebut dapat membantu menyaring partikel abu.
Jika masker N95 tidak tersedia, masker medis dapat digunakan sebagai alternatif dengan tetap membatasi aktivitas di luar rumah.
Pastikan masker menutupi hidung dan mulut serta terpasang rapat pada wajah.
Gunakan kacamata pelindung, pakaian berlengan panjang, celana panjang, dan penutup kepala saat berada di luar rumah atau membersihkan abu.
Sebaiknya tetap berada di dalam rumah selama hujan abu berlangsung, terutama jika tidak ada keperluan mendesak.
Tutup pintu, jendela, dan berbagai celah yang dapat menjadi jalan masuk abu ke dalam rumah.
Saat membersihkan abu, basahi permukaan terlebih dahulu agar partikel tidak kembali beterbangan dan terhirup.
Jika mata terkena abu, jangan digosok dan segera bilas menggunakan air bersih.
Cuci tangan serta bersihkan tubuh setelah beraktivitas di luar rumah untuk menghilangkan abu yang menempel.
Pastikan makanan dan minuman selalu tertutup agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.
Penggunaan kendaraan juga sebaiknya dibatasi saat hujan abu berlangsung tebal atau jarak pandang mulai menurun.
Segera periksakan diri ke dokter jika setelah terpapar abu vulkanik muncul sesak atau kesulitan bernapas.
Nyeri dada juga perlu diwaspadai, terutama jika disertai keluhan pernapasan lainnya.
Batuk yang semakin berat atau tidak kunjung membaik juga menjadi tanda untuk segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Bagi penderita asma atau penyakit paru lainnya, segera mencari pertolongan jika gejala kambuh atau kondisinya semakin memburuk.
Gangguan pada mata, seperti nyeri hebat atau penglihatan terganggu, juga memerlukan pemeriksaan dokter.
Jika mata tetap terasa perih atau keluhan lainnya tidak membaik meski sudah dibilas dengan air bersih, sebaiknya segera mendapatkan penanganan medis.
Paparan abu vulkanik tidak sebaiknya diabaikan, terutama oleh penderita penyakit pernapasan dan kelompok yang lebih rentan.
Gunakan perlindungan yang sesuai dan batasi aktivitas di luar rumah selama hujan abu untuk mengurangi risiko paparan. (YS)
